BAHAN BELAJAR MANDIRI

Pembelajaran dengan topik identifikasi masalah ini berjalan baik bila guru peserta belajar di KKG memahami semua informasi yang diberikan dalam pembelajaran generik. Dalam hal ini, guru peserta memahami materi: (1) pengenalan proses pembe-lajaran BERMUTU, (2) pengenalan PTK, Lesson Study, dan Case study, dan (3) pelaksanaan PTK model BERMUTU. Pemahaman materi yang telah dibahas sebelumnya merupakan prasyarat untuk melaksanakan kegiatan selanjutnya.

1.PENGANTAR
Bahan Belajar Mandiri (BBM) ini ditujukan untuk guru pemandu yang akan memandu kegiatan pembelajaran di KKG sekolah dasar kelas tinggi mata pelajaran Bahasa Indonesia. Bahan Belajar Mandiri (BBM) ini akan melatih guru peserta untuk memperbaiki kinerja pembelajaran dan mengidentifikasi masalah sebagai dasar penyusunan rencana PTK.
Karena sebagai bahan untuk melatih guru peserta, dalam Bahan Belajar Mandiri (BBM) ini diberikan contoh bagaimana melakukan prosedur awal Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pada contoh ini, prosedur identifikasi masalah menggunakan salah satu case study yang disediakan sebagai sumber belajar (lihat lampiran).

a. Kedudukan Topik Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah merupakan topik kesembilan dari enam belas topik/materi yang harus dikuasai dalam proses Pembelajaran BERMUTU. Topik ini merupakan tahap pertama dari enam langkah/tahap melaksanakan PTK (Penelitian Tindakan Kelas).
Prosedur identifikasi masalah itu penting diikuti karena hal ini merupakan dasar untuk perbaikan kinerja guru peserta dalam pembelajaran. Jika guru peserta mampu mengidentifikasi masalah yang dihadapi dalam pembe-lajarannya, guru peserta akan mampu memperbaiki kompetensinya secara berkelanjutan. Jika guru peserta telah dapat mengidentifikasi masalah dengan baik, berarti guru peserta telah memulai perencanaan PTK.

b. Pentingnya Topik Identifikasi Masalah
Topik ini penting dipelajari karena keterampilan mengidentifikasi masalah akan membantu guru peserta dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan mutu proses dan hasil belajar yang diampu. Oleh karena itu, identifikasi masalah perlu dipahami dengan baik oleh para guru peserta. Tujuannya adalah agar guru peserta dapat memahami masalah-masalah dalam pembelajar-an mereka. Identifikasi masalah tidak hanya merupakan dasar untuk penelitian tindakan kelas, tetapi juga merupakan bagian dari kompetensi profesional yang harus dikuasai oleh guru peserta.
Untuk dapat memahami materi ini dengan baik, para guru peserta harus memahami materi: (1) pengenalan proses pembelajaran BERMUTU, (2) pengenalan PTK, Lesson Study, dan Case study, dan (3) pelaksanaan PTK model BERMUTU.

c. Ruang Lingkup
Pembahasan dalam topik ini adalah masalah yang terkait dengan konteks pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar kelas tinggi (kelas IV, V, dan VI). Prosedur identifikasi masalah dilaksanakan melalui studi kasus.
Masalah yang muncul melalui identifikasi masalah itu bisa mencakup aspek pengembangan kurikulum, penguatan materi, dan pelaksanaan pembelajaran.
Aspek pengembangan kurikulum mencakup (1) pemahaman tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia, (2) kemampuan menganalisis standar kompetensi dan kompetensi dasar, (3) pengembangan silabus, RPP, dan (4) sistem penilaian. Penguatan materi mencakup (1) pemahaman dan penguasaan terhadap empat keteram-pilan berbahasa, yaitu keterampilan menyimak, ber-bicara, membaca, dan menulis, serta apresiasi sastra dan kebahasaan. Pelaksanaan pembelajaran antara lain meliputi pemilihan strategi/model pembelajaran, pendekatan, metode, media pembelajaran, pengelola-an kelas, dan proses hasil belajar.

d. Petunjuk Kegiatan
Kegiatan guru peserta dalam topik identifikasi masalah ini dilaksanakan pada saat diskusi di KKG selama 4 jam (1 jam = 50 menit) . Kegiatan ini mencakup:
1. Kegiatan di KKG
1. Brainstorming (curah pendapat), yakni diskusi kelompok mengidentifikasi semua masalah. Dalam hal ini, guru peserta melakukan diskusi/curah pendapat mengenai permasalahan yang dihadapi ketika melakukan proses pembelajaran di kelas, contoh perangkat pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas IV, V atau VI Sekolah Dasar, hasil kerja siswa (LKS), atau hasil pengamatan ketika proses pembe-lajaran sedang berlangsung.
2. Diskusi kelas (klasikal). Hasil curah pendapat tersebut ditindaklanjuti dengan memilih salah satu case study untuk diidentifikasi.
3. Latihan (diskusi kelompok kecil). Guru peserta berlatih mengidentifikasi masalah, menganalisis masalah, dan merumuskan masalah berdasarkan case study yang telah mereka tentukan bersama.

2. Kegiatan Terstruktur dan Belajar Mandiri
Setelah kegiatan belajar (tatap muka) di KKG, guru peserta belajar di KKG melakukan beberapa kegiatan terstruktur serta belajar mandiri. Pada kegiatan ini guru peserta disiapkan untuk melaksanakan tugas ini sebagai bagian dari tatap muka selanjutnya di KKG. Tugas tersebut mencakup:
(1) Menyusun case study pembelajaran Bahasa Indonesia yang dialami oleh masing-masing guru peserta di kelasnya.
(2) Mendata masalah pembelajaran Bahasa Indonesia, kemungkinan penyebab, dan rumusan masalah oleh masing-masing guru peserta.
(3) Menyusun kajian kritis yang berkaitan dengan bidang studi Bahasa Indonesia.

2. KOMPETENSI DAN INDIKATOR
Kompetensi dan indikator yang ingin dicapai pada topik identifikasi masalah adalah sebagai berikut.
Kompetensi Indikator
Mengidentifikasi masalah-masalah dalam pembelajaran bahasa Indonesia, merumuskan masalah, dan mendeskripsikan faktor-faktor penyebab timbulnya masalah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas tinggi (kelas IV,V, dan VI). 1. Mampu mengidentifikasi masalah-masalah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
2. Mengklasifikasi masalah-masalah yang terkait dengan aspek pengembangan kurikulum, penguasaan materi, dan praktik pembelajaran melalui kajian case study dan lesson study.
3. Menganalisis faktor-faktor penyebab masalah.
4. Merumuskan masalah yang terkait dengan pembelajaran yang sudah diklasifikasikan.

3. PERSIAPAN
Untuk mempelajari topik identifikasi masalah diperlu-kan persiapan sebagai berikut.
a. Guru Pemandu mempelajari topik dan sumber belajar yang relevan serta mempelajari kegiatan belajar yang disarankan di KKG
b. Guru Pemandu menyiapkan alat dan bahan, misalnya:
1) papan tulis/kertas plano, kapur/spidol, White board,
2) format identifikasi masalah pembelajaran baha-sa Indonesia,
3) contoh-contoh studi kasus pembelajaran Bahasa Indonesia di SD kelas Tinggi,
4) contoh rekaman hasil pembelajaran Bahasa Indonesia, LCD, dan laptop (bila memungkinkan).
c. Guru Pemandu menyiapkan Bahan Ajar yang dilampirkan untuk sesi ini, yakni:

Bahan Ajar 1 Overview kegiatan dalam pertemuan identifikasi masalah
Bahan Ajar 2 Kedudukan prosedur identifikasi masalah dalam urutan PTK
Bahan Ajar 3 Daftar contoh masalah pembelajaran Bahasa Indonesia SD kelas IV,V,dan VI yang ditemukan guru
Bahan Ajar 4 Contoh pertanyaan untuk case study
Bahan Ajar 5 Contoh klasifikasi masalah
Bahan Ajar 6 Kaidah perumusan masalah (format identifikasi, analisis dan rumusan masalah)
Bahan Ajar 7 Contoh faktor-faktor penyebab munculnya masalah dan rumusan masalah
Bahan Ajar 8 Daftar pertanyaan refleksi

4. SUMBER BELAJAR
Sumber belajar 1 Contoh studi kasus dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas tinggi
Sumber belajar 2 Contoh rangkuman identifikasi masalah
Sumber belajar 3 Hylite Modul PTK (f)

5. KEGIATAN BELAJAR
Alur Kegiatan Belajar

Penjelasan Alur Kegiatan
Kegiatan 1: Penjelasan tentang topik yang akan dipelajari, kompetensi, indikator, kegiatan belajar, dan sumber belajar (10 menit)
Melalui tayangan PowerPoint, kegiatan belajar diawali dengan penginformasian topik, kompetensi, indikator, kegiatan belajar yang akan dilakukan, dan hasil belajar yang diharapkan setelah guru peserta mempelajari topik identifikasi masalah. Penginformasian dilanjutkan dengan pemberian penguatan tentang kedudukan identifkasi masalah dalam tahapan pelaksanaan PTK (Lihat Bahan Ajar 1 dan 2).
Guru Pemandu menanyakan tugas terstruktur yang telah dibuat, misalnya kesulitan yang dihadapi ketika menyusunan masalah tersebut dan menyarankan untuk melihat permasalahan dari contoh yang ada misalnya: case study, hasil belajar siswa, dan lain-lain.
Bahan Ajar yang digunakan: (a) Bahan Ajar 1: Overview kegiatan Pertemuan Identifikasi Masalah, (b) Bahan Ajar 2: Kedudukan dan pentingnya Prosedur Identifikasi Masalah dalam PTK.

Kegiatan 2: Curah pendapat tentang permasalahan yang dihadapi Guru Peserta dalam pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia SD Kelas Tinggi (20 Menit)
Guru pemandu mengelompokkan kelas menjadi empat kelompok, tiap kelompok terdiri atas lima orang. Pemandu memandu setiap kelompok untuk mengemu-kakan permasalahan yang pernah dialami dalam pembelajaran Bahasa Indonesia SD kelas tinggi. Setiap guru peserta dalam kelompok menyebutkan permasala-han yang pernah dialami. Setiap permasalahan ditulis-kan di papan tulis atau kertas plano.
Kegiatan brainstorming dilangsungkan selama 20 menit, guru pemandu meminta setiap kelompok mencermati permasalahan yang telah dikemukakan secara tertulis oleh kelompok lain. Lebih lanjut, pemandu meminta guru peserta pada setiap kelompok untuk menelaah daftar masalah yang sudah teridentifi-kasi dan melakukan pemilahan mana masalah yang benar-benar merupakan masalah penting dalam pem-belajaran Bahasa Indonesia SD kelas tinggi (Lihat Bahan Ajar 3).
Kegiatan 3: Diskusi kelompok mengkaji Sumber Belajar (Case study) untuk berlatih mengidentifika-si masalah, merumuskan masalah, dan penentuan sumber masalah (80 Menit)
Setelah para guru peserta memiliki persepsi yang sama mengenai makna masalah dan rumusan masalah, mereka diminta untuk berlatih mengidentifikasi masalah dari pengalaman pembelajaran orang lain yang dituangkan dalam bentuk case study (Lihat Bahan Ajar 4 dan 5). Case study yang diminta untuk diidentifikasi permasalahannya adalah case study yang berjudul, “Saya Ingin Lebih Bersahabat dengan Mereka” dan “Mendengar Berita” (terlampir).
Para guru peserta diminta duduk berkelompok (5 orang per kelompok). Kepada setiap guru peserta dalam kelompok dibagikan teks case study. Secara individu mereka diminta membaca case study (membaca senyap), kemudian secara berkelompok, mereka menjawab pertanyaan yang terdapat dalam Bahan Ajar empat.
Setelah semua kelompok menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, langkah berikutnya adalah presentasi kelompok. Setiap kelompok diminta mempresentasikan hasil kerja kelompok dan kelompok lain menanggapi. Berdasarkan hasil diskusi, para guru peserta diminta memfokuskan diri terhadap pertanyaan nomor 3. Pertanyaan nomor 1, 2, 4, dan 5 juga penting agar para guru peserta mendapat gambaran yang lebih utuh tentang hakikat sebuah case study. Dari pertanyaan nomor 3 ini diharapkan guru peserta sudah dapat mengidentifikasi sejumlah masalah yang dihadapi oleh guru penulis case study. Lebih lanjut mereka diminta menganalisis faktor-faktor penyebab masalah dan menyusun rumusan masalah. Secara lebih spesifik, untuk menganalisis faktor-faktor penyebab masalah dan menyusun rumusan masalah, mereka diminta mengikuti panduan berikut.
1) Dari sejumlah masalah yang sudah teridentifikasi, misalnya tidak ada siswa yang mau berbicara ketika presentasi tugas kelompok dan pembelajar-an kurang melibatkan semua siswa, tuliskan faktor-faktor penyebab munculnya masalah tersebut.
2) Rumuskanlah masalah tersebut dalam bentuk kalimat tanya (Lihat Bahan Ajar 6 dan 7).

Kegiatan 4: Tanya jawab dan pemberian penguatan (40 menit)
Kegiatan berikutnya, setelah setiap kelompok meng-analisis faktor-faktor penyebab masalah dan menyusun rumusan masalah. Mereka diminta sharing (berbagi), menuliskan hasil kerja pada kertas plano, dan presentasi. Guru Pemandu mengomentari dan membe-rikan penguatan.

Kegiatan 5: Memilah permasalahan berdasarkan aspek pengembangan kurikulum, penguasaan materi subjek, dan praktik pembelajaran
Mintalah kepada setiap kelompok guru peserta untuk melihat kembali daftar masalah yang terindentifikasi dari kegiatan 2 dan 3. Mintalah mereka mengklasifikasi-kannya kembali dalam aspek pengembangan kurikulum, materi subjek, dan pelaksanaan pembelajaran.
Guru peserta mengklasifikasikan masalah ke dalam sumber masalah dalam pembelajaran (pengembangan kurikulum, materi subjek, dan pelaksanaan pembela-jarn). Hasil diskusi dituangkan dalam format identifikasi dan rumusan masalah. Berdasarkan hasil identifikasi masalah dan rumusan masalah dicarikan faktor-faktor penyebabnya (lihat Bahan Ajar 5,6 dan 7).

Kegiatan 6: Merangkum hasil belajar dan pemberian tugas mandiri
Membuat rangkuman hasil belajar pertemuan itu dan memberikan tugas mandiri: menyusun Case study hasil pembelajaran sendiri. Dari Case study yang disusun tersebut, mereka diminta mengidentifikasi masalah yang terungkap di dalamnya.

Kegiatan 7: Penutup
Sebagai penutup kegiatan, semua guru peserta secara berkelompok atau berpasangan memberikan informasi hasil tugas terstruktur dan tugas mandiri yang telah dilakukan untuk diberi masukan dari teman sejawat guna mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan (Lihat Bahan Ajar 8).

6. PENILAIAN
Penilaian terhadap pencapaian hasil belajar guru peserta dilakukan pada saat proses pembelajaran dan produk kegiatan belajar. Penilaian proses mencakup aspek afektif, misalnya: keaktifan dalam diskusi, dan kontribusi dalam diskusi, kesungguhan mengikuti kegiatan. Instrumen penilaian yang digunakan untuk menilai aspek afektif menggunakan non tes. Produk mencakup: laporan tugas terstruktur berupa daftar identifikasi masalah, rumusan masalah pembelajaran, data atau deskripsi kondisi penyebab timbulnya masalah. Produk guru peserta akan dilampirkan dalam portofolio peserta diskusi.

a. Tugas Terstrukur
Hasil akhir yang diharapkan dari tugas ini adalah guru peserta dapat menulis narasi pembelajaran/case study dan menemukan masalah pembelajaran melalui analisis ter-hadap case study yang ditulisnya
Informasikan Tugas Terstrukur yang harus dikerjakan guru peserta sesuai dengan langkah yang disusun di dalam Pengantar. Guru pemandu mengingatkan guru peserta dengan membaca tugas bersama:
1) Mintalah teman sejawat untuk mengobservasi pembelajaran Anda pada pertemuan yang telah disepakati. Bergabunglah dengan teman sekelompok Anda (sekolah berdekatan). Lakukan observasi juga ketika teman Anda mengajar.
2) Ketika teman sejawat mengajar. buatlah catatan-catatan lapangan, kemudian identifikasikan fenomena pembelajaran yang muncul, masalah, dan rumusan masalah pembelajaran.
3) Kumpulkanlah dokumen hasil belajar siswa Anda (dari ulangan harian, tugas-tugas, atau LKS yang sudah terisi).
4) Komentar hasil pengamatan Anda, berikan kepada guru peserta yang berpraktik mengajar setelah kegiatan praktik mengajar selesai.
5) Setiap guru peserta diminta menulis pengalaman pembelajarannya dalam bentuk case study.
6) Guru peserta diminta mendaftar masalah-masalah pembelajaran yang mereka temukan dalam case study hasil pembelajaran yang mereka alami sendiri.
7) Tulislah penyebab timbulnya masalah tersebut
8) Rumuskanlah satu masalah yang dapat diangkat menjadi masalah PTK.

Kajian Kritis (1)
1) Bacalah dengan cermat case study ”Saya Ingin Lebih
Bersahabat dengan Mereka” dan “Mendengar Berita”
2) Analisislah kedua case study tersebut dengan
menjawab pertanyaan berikut.
(1) Apa sajakah persiapan guru peserta sebelum pembelajaran di kelas?
(2) Deskripsikanlah kegiatan pembelajaran dalam Case study tersebut (a) kegiatan awal, (b) kegiatan inti, dan (c) kegiatan penutup!
(3) Bagaimanakah perilaku siswa dalam pembela-jaran?
(4) Daftarkanlah masalah/kegagalan guru/perilaku siswa yang terdapat dalam case study tersebut!
(5) Pilihlah salah satu masalah dari daftar masalah yang Anda susun, kemudian tulislah solusi yang akan Anda tempuh untuk mengatasi masalah tersebut.
(6) Tulislah masalah beserta solusinya tersebut dalam bentuk rumusan masalah yang dapat ditindaklanjuti melalui PTK.

Kajian Kritis (2)
Guru peserta diminta mempelajari materi penelitian tindakan kelas dalam Sumber Belajar
Setelah Anda membaca materi tentang PTK sebagai-mana disarankan, kerjakanlah tugas berikut!
1) Tuliskan pemahaman Anda tentang PTK!
2) Mengapa PTK penting dilakukan oleh seorang guru?
3) Berdasarkan pengalaman Anda sebagai guru peserta tentu Anda sering dihadapkan pada permasalahan-permasalahan pembelajaran. Tulislah masalah-masalah pembelajaran yang pernah Anda alami. (permasalahan dimaksud dapat mencakup pema-haman terhadap kurikulum, Bahan Ajar, dan praktik pembelajaran)
4) Pilihlah dari daftar masalah yang sudah Anda buat satu masalah yang dipandang paling esensial untuk dicari pemecahannya.
5) Tulislah solusi yang akan Anda tempuh untuk mengatasi masalah dimaksud!
6) Buatlah rumusan masalah terhadap masalah tersebut!

b. Tugas Belajar Mandiri
Untuk mengecek kemampuan guru peserta dalam mengidentifikasi masalah, guru pemandu dapat menunjuk Sumber Belajar case study, Hasil kerja siswa, atau lesson study. Tugas tersebut sebagai berikut:
1. Mintalah guru peserta memilih Case study yang menarik bagi mereka (case study terlampir).
2. Membaca serta menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan dalam sesi ini.
3. Mengklasifikasikan masalah.
4. Merumuskan masalah berdasarkan kaidah penulisan rumusan masalah.
5. Menulis hasil kerja untuk ditindaklanjuti pada per-temuan berikutnya.
6. Guru pemandu juga mengingatkan para guru peserta tentang bacaan teoritis tentang identifikasi perencanaan dan kajian kritis yang perlu diselesai-kan.
7. Setelah memberikan tugas terstrukur, akhiri kegiat-an dan informasikan topik bahasan pertemuan minggu berikutnya yang akan dibahas, yaitu prosedur perencanaan.

BAHAN AJAR
Bahan Ajar 1
Overview Kegiatan dalam Pertemuan Identifikasi Masalah
Kompetensi Idikator Pencapaian Kompetensi Kegiatan Belajar Hasil yang Diharapkan
Mengidentifikasi masalah-masalah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, merumuskan masalah, dan mendeskripsikan faktor-faktor penyebab timbulnya masalah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas tinggi (kelas IV,V, dan VI). Mampu mengidentifikasi masalah-masalah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Curah pendapat (Brain storming) Daftar permasalahan dalam pemebalajaran Bahasa Indonesia
Mengklasifikasi masalah –masalah yang terkait dengan aspek pengembangan kurikulum. Diskusi Tabel klasifikasi masalah
Menuliskan proses pembelajaran melalui kajian case study dan lesson study. Kajian Case Study Tuliskan tentang proses pembelajaran melalui kajian case study dan lesson study
Merumuskan masalah yang terkait dengan pembelajaran yang sudah diklasifikasikan. Latihan Rumusan masalah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia

Bahan Ajar 2
Kedudukan Prosedur Identifikasi Masalah dalam Urutan PTK

Bahan Ajar 3
Daftar Contoh Masalah yang Ditemukan Guru Peserta
1. Jumlah siswa terlalu banyak dan ruang kelas kurang memadai.
2. Ketidaksiapan guru dalam membuat perencanaan khususnya model pembelajaran yang bervariasi.
3. Masih banyak siswa yang kurang berani mengajukan pertanyaan ketika proses pembelajaran sedang berlangsung.
4. Kurangnya pengetahuan dan minat guru dalam hal kesastraan sehingga sulit mendapatkan materi pem-belajaran.
5. Banyak siswa yang kurang bertanggung jawab terhadap tugas dan pekerjaan rumah yang diberikan.
6. Guru kurang menguasai strategi/model-model pem-belajaran menarik dan variatif.
7. Rendahnya motivasi siswa dalam belajar Bahasa Indonesia.
8. Masih banyak siswa yang tidak peduli akan hasil tulisannya (tata cara penulisan).
9. Bentuk tugas kurang menarik dan tidak menantang siswa untuk berpikir kritis dan kreatif.
10. Kurangnya waktu guru untuk memeriksa hasil kerja siswa khususnya dalam pembelajaran menulis.
11. Kurangnya kesadaran siswa untuk berbicara dangan bahasa yang baik dan benar.
12. Guru sulit mendapatkan sumber belajar berbentuk bacaan yang baru dan menarik.
13. Siswa tidak mau berbicara ketika harus mempresentasikan hasil kerja baik secara individu maupun kelompok.
14. Masih banyak siswa kesulitan mengekspresikan idenya dalam bentuk tulisan secara runtut.

Bahan Ajar 4
Contoh Pertanyaan untuk Case study
1. Pengalaman apa yang dapat Anda petik dari Case study?
2. Fakta-fakta apa yang terdapat di dalam Case study?
3. Apa sajakah kegagalan guru dalam Case study?
4. Apa sajakah keberhasilan guru dalam Case study?
5. Apa yang akan Anda lakukan seandainya Anda adalah guru penulis Case study itu?

Bahan Ajar 5
Contoh Klasifikasi Masalah
No. Sumber Belajar Masalah yang teridentifikasi Area permasalahan
Pengembangan kurikulum Materi subjek Praktik Pembelajaran
1. Pengalaman guru Siswa tidak mau bertanya 
2. Hasil kerja siswa . . . .
3. Study kasus dari teman sejawat Sulit mengaktifkan siswa berdiskusi 

Bahan Ajar 6
Kaidah Perumusan Masalah
1. Masalah hendaknya dirumuskan dengan jelas dan tidak menimbulkan makna ganda
2. Dituangkan dalam bentuk kalimat tanya
3. Rumusan masalah menunjukkan hubungan antara dua variabel
4. Rumusan menunjukkan secara eksplisit subjek dan atau lokasi penelitian

Bahan Ajar 7
Contoh Faktor-Faktor Penyebab Munculnya Masalah
Masalah Faktor-Faktor Penyebab Munculnya Masalah Rumusan Masalah
Siswa kelas V sulit mengekspresikan idenya dalam bentuk tulisan secara runtut
1. Kurangnya motivasi dari guru
2. Kurangnya kesempatan yang diberikan oleh guru pada siswa
3. Kurangnya kemampuan kebahasaan siswa
4. Siswa malas menulis
5. Sering mendapat ejekan dari teman ketika berbicara
6. Siswa malas menulis
7. Siswa lebih senang menonton TV atau bermain daripada mengerjakan tugas/PR. Apakah pemberian motivasi dari guru dapat meningkatkan hasil belajar menulis siswa di kelas V

Bahan Ajar 8
Daftar Pertanyaan Refleksi
1. Apa yang Anda pelajari pada pertemuan di KKG hari ini?
2. Bagian kegiatan belajar mana yang belum dipahami pada topik belajar hari ini?
3. Bagian kegiatan belajar mana yang paling Anda sukai? Mengapa?
4. Bagian kegiatan belajar mana yang paling tidak disukai? Apa alasannya?
5. Apakah cara belajar hari ini sudah tepat? Apa usulan Anda agar cara belajar pada pertemuan berikutnya lebih baik?

SUMBER BELAJAR
Contoh Studi Kasus 1
Saya Ingin Lebih Bersahabat dengan Mereka
Oleh Teuku Alamsyah

Pembelajaran di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah memiliki karakte-ristik tersendiri yang berbeda dengan pembelajaran di sekolah menengah dan tentu sangat jauh berbeda dengan pembelajaran di perguruan tinggi. Sebelum melaksanakan pembelajaran, saya sudah membayangkan akan berhadapan dengan anak-anak yang masih sangat lugu, masih banyak membutuhkan bimbingan dan arahan. Pengetahuan yang akan kita berikan kepada mereka adalah sesuatu yang sangat dasar yang akan menjadi bekal bagi mereka dalam mengikuti jenjang pendidikan berikutnya. Saya juga yakin bahwa kekeliruan yang dilakukan oleh seorang guru dalam pembelajaran di tingkat dasar ini akan memberikan dampak yang kurang baik bagi anak untuk jangka waktu yang sangat lama. Inilah dasar pemikiran saya bahwa pembelajaran di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah bukanlah sesuatu yang dapat dianggap mudah.
Kamis, 24 Januari 2008, pukul 8.00 saya melaksanakan pembelajaran di kelas V SD Negeri 35 Kota Banda Aceh. Sesuai dengan isi silabus semester 2, saya mengajar Keterampilan Menyimak terintegrasi dengan Standar Kompeten-si: Memahami cerita tentang suatu peristiwa dan cerita pendek anak yang disampaikan secara lisan, dan Kompetensi Dasar: Mengidentifikasi unsur cerita (tokoh, tema, latar, dan amanat). Dua hari sebelum pembelajaran berlangsung, saya menyiapkan RPP dengan memilih teks cerita “Mahjubah si Pemalas”.
Awal saya berdiri di depan kelas, saya melihat wajah anak-anak yang polos menantikan sepatah kata pembuka dari saya. Terus terang waktu itu saya agak bingung bagaimana saya harus memulai. Bagaimana saya harus menyapa mereka. Hampir saja saya menyapa, “Saudara-saudara!” Namun, tentu saja itu tak jadi. Saya memilih sapaan, “Anak-anak kita bertemu kembali dalam pelajaran Bahasa Indonesia.” “Hari ini kita melanjutkan topik yang sudah pernah kita singgung pada pertemuan sebelumnya.” Ketika itu pula saya sadar telah melakukan ‘kebohongan’ karena kita memang belum pernah bertemu sebelumnya dalam konteks belajar-mengajar di kelas. Saya merasa mulai gugup. Namun, wajah polos anak-anak mengatasi kegugupan itu. Saya melanjutkan, “Anak-anak hari ini kita akan mendengarkan sebuah cerita yang berjudul “Mahjubah si Pemalas”. “Siapa di antara kamu yang tidak pernah mendengarkan cerita?” Tidak satu pun anak-anak menjawab. Saya melanjutkan, “Bapak yakin kamu semua pasti pernah mendengarkan cerita dan senang mendengarkan cerita.” (Semua anak duduk dalam kelompok yang tampaknya kelompok di kelas itu sudah permanen, satu kelompok 5 orang).
Saya membagikan fotokopi teks cerita. Kebetulan pada salah satu kelompok, teks yang saya bagikan berlebih dan serta-merta seorang anak mengembalikannya kepada saya sambil berujar, “Pak ini lebih, Pak.” “Oh, ya, terima kasih”. Pada konteks ini saya melihat nilai kejujuran pada anak. Pengetahuan saya tentang anak bertambah. Mereka benar-benar ‘anak manusia’ yang perlu mendapat didikan dengan benar.
Pembelajaran berlanjut. Setiap kelompok saya minta mengidentifikasi tokoh, tema, latar, dan amanat berdasarkan cerita yang mereka simak dan sekaligus mereka baca. Sebelum anak-anak bekerja dalam kelompok mengidentifikasi tokoh, tema, latar, dan amanat cerita, saya mengajukan pertanyaan, “Siapa yang pernah menonton film?” (beberapa anak mengangkat tangan). “Bagus!” “Tampaknya di kelas ini semua anak pernah menonton film!” “Film apa saja yang pernah kamu tonton? (kelas hening, tidak ada yang menjawab). “Memang, kalau kita banyak menonton film, banyak film yang kita lupa judulnya bukan?” “Tidak apa! Yang penting semua anak pernah menonton film!” “Sekarang coba kita ingat film India. Pernah nonton film India?” Dengan bersemangat semua anak menjawab, “Pernah, Pak!” “Iya, bagus!” Dalam film ada banyak pemain. Pemain film ini disebut juga tokoh. Dalam cerita yang kita baca juga begitu. Ada pelaku cerita yang lebih dikenal sebagai tokoh cerita. Jadi, dalam cerita ada tokoh utama dan tokoh pembantu. (saya menjelaskan perbedaan tokoh utama dan tokoh pembantu). Selain itu, dalam teks cerita seperti halnya film, juga ada tempat dan waktu berlangsungnya kejadian. Inilah yang dikenal sebagai latar. Tidak itu saja, setiap pengarang dalam ceritanya ingin mengemukakan suatu pokok persoalan kepada pembaca. Inilah yang dikenal sebagai tema. Menikmati sebuah cerita belumlah lengkap jika pembaca belum dapat memahami pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Pesan ini lebih dikenal sebagai amanat cerita dan biasanya disampaikan oleh pengarang tidak secara nyata. Tugas pembacalah menemukan sendiri pesan atau amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang. Dengan memahami alur, latar, tokoh dan penokohan, tema, dan amanat dalam cerita, cerita yang kita baca akan memberikan makna bagi kita dan memperkaya batin kita.
“Nah! Anak-anak silakan bekerja dalam kelompok mengidentifikasi tokoh, tema, latar, dan amanat dalam teks cerita ‘Mahjubah si Pemalas’.” (semua anak tampak bersemangat bekerja) Namun, pada saat presentasi tugas kelompok, saya mengalami kesulitan, yaitu tidak satu pun kelompok bersedia tampil memaparkan tugas yang sudah mereka selesaikan. Saya merasa mereka malu. Dengan gaya bahasa sedikit bernada pujian, saya membujuk mereka.”Anak-anak di kelas ini semuanya pinter. Semuanya mampu berbicara. Bercerita dan berbicara itu tidak jauh berbeda. “Silakan, Anak-anak!” Kita mulai dari kelompok I. Setelah dibujuk-bujuk, kelompok I tampil menempelkan hasil kerja kelompoknya di papan tulis dan memaparkannya atau lebih tepat membacanya. Saya berharap akan ada tanggapan dari kelompok lain (sebagaimana skenario pembelajaran yang sudah saya rancang dua hari sebelumnya). Harapan saya adalah harapan hampa. Tidak satu pun anak dari kelompok lain bersedia berkomentar dan ini tidak bisa dibujuk. Akhirnya, sharing dalam bentuk diskusi tidak bisa berlangsung hari itu.
Saya melanjutkan pembelajaran dengan meminta semua kelompok menempelkan tugas kelompoknya di papan tulis dan membacakannya. Setiap satu kelompok selesai membacakan hasil kerja kelompoknya, penghargaan yang diberikan adalah tepuk tangan dan saya merasa semua anak antusias bertepuk tangan. Selain itu, saya juga merasa bahwa tidak semua anak dalam kelompok berpartisipasi penuh terhadap pembelajaran. Beberapa anak terlihat wajahnya tanpa ekspresi dan saya merasa ada ‘ketidaknyamanan’ dalam batin saya. Saya menginginkan semua anak terlibat penuh dalam konteks pembelajaran.
Hal lain yang merupakan bagian dari ‘ketidaknyamanan’ saya adalah penggunaan papan tulis. Saya merasa tulisan saya di papan tulis yang cenderung berbentuk denah lebih tepat untuk konteks perkuliahan di perguruan tinggi daripada untuk anak SD (marilah kita mencermati berikut ini!).

Dari segi penggunaan bahasa, saya juga merasakan bahwa saya harus sangat lebih banyak belajar bagaimana seharusnya berbahasa dengan anak-anak. Berbahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak. Saya sangat tidak berharap anak SD akan ‘dewasa’ sebelum saatnya tiba. Mereka masih anak-anak dan biarlah tetap anak-anak. Biarlah mereka menikmati dunianya, dunia kanak-kanak dengan ragam bahasa kanak-kanaknya. Saya merasa bahasa saya cenderung tinggi untuk konteks pembelajaran di tingkat dasar.
Meskipun saya merasa tujuan pembelajaran atau target pembelajaran pagi itu 90% tercapai, masih ada ganjalan di benak saya ketika pembelajaran berakhir. Ganjalan itu antara lain adalah (1) Bagaimanakah seharusnya kita mengajar? (2) Apakah semua anak menikmati pembelajaran ini? (3) Apakah bahasa sapaan saya dalam bentuk “kamu”, “kalian” terhadap anak-anak akan membekas dalam jiwa mereka sebagai bentuk sapaan yang kurang bersahabat? (4) Apakah pembelajaran saya tentang cerita “Mahjubah si Pemalas” memberikan makna tersendiri bagi anak-anak? Namun, saya mengakhiri pembelajaran hari itu dengan sebuah senyum, sebuah senyum bahagia mendapat kesempatan bertemu anak-anak sekolah dasar karena saya pun pernah menjadi anak-anak.
Di penghujung pembelajaran, sebagai refleksi saya ajukan sebuah pertanyaan, “Bagaimana anak-anak pembelajaran hari ini dengan Bapak Guru yang baru?” Jawaban yang diberikan oleh seorang anak kiranya sangatlah patut untuk kita renungkan bersama, yaitu “Kami senang Pak, karena Bapak tidak marah-marah”. Sebuah jawaban yang cukup jujur tentunya.

Refleksi
Oleh Teuku Alamsyah
Saya merasa teramat lega setelah mengungkapkan secara tertulis semua yang saya rasakan ketika saya melaksanakan pembelajaran di kelas V SD. Ada sebuah tanya yang terus bergayut di dada, apakah semua anak yang ikut pembelajaran saya memahami dengan baik semua yang seharusnya memang mereka pahami hari itu? Kalaulah masih ada kesempatan, saya ingin melanjutkan lagi pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SD Negeri 35 Kota Banda Aceh untuk memastikan bahwa kehadiran saya di kelas mereka hari itu memberikan urunan yang berarti dalam pembekalan pemahaman nilai-nilai positif dalam cerita.
Masih segar dalam ingatan saya wajah tiga orang anak yang kurang ekspresif ketika pembelajaran berlangsung. Betapa andai bisa kembali, saya ingin lebih ‘bersahabat’ dengan mereka. Mengapa ekspresi anak-anak itu seperti kurang bergairah? Kita semua tentu berharap agar semua anak dapat mengikuti pembelajaran tanpa beban di luar konteks pembelajaran. Mungkin dalam hal ini saya terlalu emosional. Namun, inilah yang memang saya rasakan.
Pelajaran atau nilai yang dapat dipetik dari cerita “Mahjubah si Pemalas” adalah pembentukan perilaku anak agar mereka tidak melakukan atau mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan oleh Mahjubah. Sebuah konsep yang sederhana memang, tetapi memiliki makna yang dalam. Dengan kata lain, dalam cerita Mahjubah banyak terkandung nilai pendidikan, nilai moral, dan nilai agama yang cukup penting bagi anak-anak.
Refleksi anak-anak terhadap Mahjubah (hasil tugas PR) juga cukup beragam. Secara umum anak-anak mengatakan bahwa mereka senang membaca cerita Mahjubah. Mereka senang pada Mahjubah. Walaupun pada awal cerita Mahjubah gadis yang malas, pada akhir cerita Mahjubah telah berubah. Namun, terhadap pertanyaan Apa yang akan kamu lakukan seandainya kamu menjadi Mahjubah? Umumnya anak-anak menjawab mereka tidak ingin seperti Mahjubah. Kalaupun harus menjadi Mahjubah, mereka akan rajin membantu orang tua, rajin salat, dan pergi ke sekolah tepat pada waktunya.
Refleksi yang ditulis oleh anak-anak terhadap Mahjubah semakin melengkapi kebermaknaan kehadiran saya di kelas mereka. Saya mengoleksi tulisan mereka. Bagi saya, ungkapan anak-anak itu tentang Mahjubah adalah ungkapan kejujuran nurani. Akhirnya, saya menyadari sepenuhnya bahwa untuk menjadi guru, terutama guru Sekolah Dasar, diperlukan kompetensi yang memadai baik kompetensi akademik maupun kompetensi pedagogik.

Contoh Studi Kasus 2
Mendengar Berita
Oleh Fakriyah
Rabu, 23 Januari 2008, saya mengajar pelajaran Bahasa Indonesia di kelas VI. Selain di kelas VI, saya juga mengajar Bahasa Indonesia di kelas V. Di kelas VI, saya dipercayakan sebagai wali kelas. Siswa kelas VI berjumlah 28 orang dengan rincian: 12 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. Sebagai wali kelas, yang tentunya dalam banyak hal saya memiliki kedekatan dengan mereka, saya berkesimpulan bahwa dalam konteks pembelajaran di kelas, hampir semua siswa kelas VI ini cenderung pendiam. Ketika dihadapkan pada kondisi menja-wab pertanyaan atau mengajukan pertanyaan, mereka cenderung menunjukkan sikap enggan dan malu.
Pembelajaran Bahasa Indonesia pada semua jenjang pendidikan terdiri atas empat aspek keterampilan, yaitu keterampilan mendengarkan/menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Rabu, 23 Januari 2008, jam I, saya mengajar Bahasa Indonesia dengan Standar Kompetensi aspek mendengarkan, yaitu memahami wacana lisan tentang berita dan drama pendek, dan Kompetensi Dasarnya adalah menyimpulkan isi berita yang didengar dari televisi atau radio. Tujuan pembelajarannya adalah anak dapat menyimpulkan isi berita yang didengar dari televisi atau radio. Dalam pembelajaran tersebut, saya menerapkan metode pembelajaran kerja kelompok.
Kegiatan awal yang saya lakukan adalah menanyakan kepada anak tentang, “Pernahkah kamu mendengar berita di televisi atau radio?” Siswa menjawab “Pernah, Bu!” “Nah, Anak-anak! Berita-berita yang kalian lihat dan dengar melalui televisi dan radio itu tentunya dapat kalian sampaikan lagi kepada orang lain, bukan?”
Selanjutnya, saya membagikan teks bacaan berita aktual kepada setiap kelompok. (semua siswa di kelas itu sudah dibagi menjadi lima kelompok. Pembagian kelompok ini dilakukan pada awal tahun pelajaran dan bersifat permanen. Artinya, kelompok-kelompok ini bersifat tetap selama duduk di kelas VI). Saya meminta salah seorang siswa membacakan teks tersebut dan siswa yang lain mendengarkannya.
Setelah itu, saya memberikan penjelasan kepada anak-anak bagaimana caranya kita menyimpulkan/mencatat pokok-pokok isi berita yang kita dengar di televisi dan radio. Setelah kita mendengar isi teks bacaan tersebut, yang harus kita lakukan adalah menyusun dulu beberapa pertanyaan, yaitu:
• Siapa yang diceritakan dalam berita tersebut?
• Apa yang mereka temukan?
• Di mana kejadian itu terjadi?
• Kapan kejadian itu terjadi?
• Apa yang dilakukan terhadap temuan itu?
Setelah memberikan penjelasan, saya memperhatikan wajah anak-anak. Dalam pandangan saya, anak-anak sepertinya sudah memahami penjelasan saya. Namun, saya tidak terlalu yakin karena masih terlihat beberapa anak berpura-pura mengambil pulpen untuk segera menulis. Selanjutnya, saya meminta anak-anak bekerja dalam kelompok masing-masing mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Saya memperhatikan anak-anak bekerja dalam kelompok. Teramati oleh saya beberapa orang anak seperti kurang bergairah dan kurang bersemangat dalam proses pembelajaran. Mereka tampak tidak bereaksi serius terhadap teks yang saya bagikan yang menjadi tugas mereka dalam kerja kelompok. Mereka lebih banyak diam dan tidak mempedulikan teks itu. Namun, ada juga beberapa orang anak yang tampak serius mencermati isi teks.
Sebelumnya, pada semester I, pelajaran mendengarkan isi berita sudah pernah diberikan. Akan tetapi, model pembelajaran yang saya terapkan waktu itu berbeda dengan model pembelajaran yang saya terapkan sekarang. Waktu itu, saya hanya meminta anak-anak menjawab soal-soal yang ada pada buku teks. Jawaban ditulis pada buku latihan masing-masing. Saya menyadari bahwa model pembelajaran yang demikian tidak bernuansa PAKEM. Jadi, dalam pembelajaran kali ini saya mencoba melakukan perubahan. Saya melaksanakan pembelajaran dengan membentuk kelompok. Siswa bekerja menyelesaikan tugas dalam bentuk kerja kelompok. Harapan saya, dengan kerja kelompok suasana kelas menjadi tampak lebih hidup. Anak-anak menjadi lebih bersemangat. Akan tetapi, usaha saya itu tidak membuahkan hasil yang maksimal. Suasana kelas tampak kaku dan jauh dari yang saya harapkan. Semua yang saya lakukan tidak mengubah suasana kelas yang kaku itu menjadi hidup. Timbul pertanyaan dalam batin saya, ”Apakah anak-anak bosan?”
Lebih lanjut, saya meminta setiap kelompok mempresentasikan/ membaca-kan hasil kerja kelompoknya di depan kelas. Setiap kelompok yang selesai membacakan hasil kerja kelompoknya, saya berikan tepuk tangan. Saya memperhatikan bahwa hanya beberapa orang anak yang mengikuti saya bertepuk tangan. Sebagian yang lain sepertinya bertepuk tangan pun terlihat enggan.
Pada saat kelompok 5 membacakan hasil kerja kelompoknya, siswa yang oleh kelompoknya ditunjuk sebagai pembaca, secara kebetulan salah dalam membaca teks berita. Akibatnya, dia ditertawakan oleh kelompok lain sehingga suasana kelas menjadi ribut. Saya menenangkan anak-anak agar kembali fokus pada pelajaran dan tidak boleh menertawakan teman yang salah. Saya mengatakan, “Jangan tertawa kalau teman salah membaca ya? Dia pasti tidak sengaja.”
Setelah itu, saya mengatakan kepada semua anak bahwa yang mereka bacakan di depan adalah pokok-pokok isi berita yang didengarnya tadi. Selanjutnya, saya menyuruh anak-anak menyimpulkan pokok-pokok berita tersebut ke dalam beberapa kalimat (menjadi satu alinea) di buku latihannya masing-masing.
Saya merasa puas terhadap pembelajaran hari itu karena tujuan pembelajaran yang saya harapkan tercapai meskipun hanya 90%. Namun, ada ganjalan di hati saya, “Mengapa anak-anak kurang bergairah, padahal saya sudah merancang kegiatan belajar-mengajar agar anak bergairah dalam mengikuti pelajaran.”

Refleksi Penulis Case study
Oleh Fakriyah, S.Pd.
Setelah saya membaca berulang-ulang narasi yang telah saya buat, saya dapat merefleksikan kembali bahwa di dalam proses belajar-mengajar yang saya lakukan pada hari Rabu itu kelihatan tegang, suasananya kaku, dan anak-anak tampak kurang bergairah. Mengingat kembali pembelajaran hari itu, ada ketidakpuasan dalam batin saya. Ada pertanyaan yang tidak/belum terjawab, “Mengapa sebagian besar siswa sepertinya kurang bersemangat dalam kerja kelompok? Mengapa mereka lebih banyak berdiam diri dalam kelompok?
Namun, saya mencoba berfikir bahwa saya sudah berusaha melakukan perubahan model pembelajaran dari model pembelajaran individu menjadi model pembelajaran kerja sama dalam kelompok. Tujuan saya adalah agar kelas tampak hidup dan tidak membosankan. Yang terjadi adalah di luar yang saya harapkan. Timbul pertanyaan di hati saya, “Apa yang menyebabkan anak-anak seperti kurang bergairah? Apakah anak-anak memahami penjelasan saya karena tujuan pembelajaran yang saya harapkan tercapai (hal ini dilihat dari tugas murid yang ada)?”

Komentar Pengamat
Oleh Usmida
Setelah saya mengamati Ibu Fakriyah mengajar, ada beberapa hal yang perlu disampaikan. Di dalam penyajian materi pelajaran, beliau sudah baik sehingga tercapai tujuan yang diharapkan. Akan tetapi, alangkah baiknya di dalam proses belajar mengajar, guru harus menggunakan multimetode sehingga tidak menimbulkan kekakuan di dalam kelas.
Guru harus bisa membuat suasana kelas lebih rileks supaya anak-anak jangan merasa ada beban.

Iklan