Archive for Januari, 2011


BAHAN BELAJAR MANDIRI

Agar pembelajaran di KKG pada pembahasan topik Penyusunan Proposal ini berjalan dengan baik, guru peserta belajar di KKG sebaiknya membawa laporan hasil tugas terstruktur pada pertemuan sebelumnya, tentang rencana tindakan masing-masing guru sebagai alternatif solusi masalah yang mereka pilih.

I. PENGANTAR
Pada kegiatan sebelumnya telah dihasilkan rencana tindakan yang dituangkan dalam bentuk perangkat pembelajaran yang telah didiskusikan bersama. Pada pertemuan ini akan didiskusikan penyusunan proposal PTK.
Proposal PTK merupakan paparan rencana kegiatan yang dituangkan dalam bentuk naratif guna mengorganisasikan seluruh rangkaian kegiatan PTK. Laporan PTK merupakan paparan dari hasil-hasil pelaksanaan kegiatan. Laporan PTK ditulis secara naratif dengan menggunakan format tertentu.

a. Kedudukan Topik Penyusunan Proposal
Topik Penyusunan Proposal berada pada kegiatan ke sebelas dari rangkaian pertemuan di KKG. Proposal PTK merupakan paparan rencana kegiatan yang dituangkan dalam bentuk naratif guna mengorganisasikan seluruh rangkaian kegiatan PTK. Sementara laporan PTK adalah paparan dari hasil-hasil pelaksanaan kegiatan. Laporan PTK ditulis secara naratif dengan menggunakan format tertentu.
b. Pentingnya Topik Penyusunan Proposal
PTK merupakan implementasi dari kompetensi inti guru, yaitu melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran (Permendiknas no.16). Dengan menyusun proposal berarti semua paparan rencana kegiatan pemecahan masalah dapat diketahui. Proposal inilah yang akan dijadikan pedoman atau pegangan bagi guru peserta sebelum melaksana-kan tindakan.
c. Ruang lingkup
Ruang lingkup topik Penyusunan Proposal meliputi:
1) Memfokuskan masalah penelitian yang dituangkan dalam pertanyaan penelitian.
2) Menilai kelayakan hipotesis (dugaan sementara) tindakan (jika diperlukan sesuai dengan rumusan masalah yang ada).
3) Menyusun proposal PTK.

d. Petunjuk Kegiatan
Diskusi di KKG untuk menyusun proposal ini dilakukan guru peserta kegiatan belajar di KKG melalui kegiatan pokok berikut.
1) Mempelajari Sumber Belajar terkait dengan bagai-mana cara menilai kelayakan hipotesis tindakan dan membuat usulan PTK.
2) Latihan secara berkelompok: Setiap guru peserta berkolaborasi menyusun proposal PTK sesuaii dengan rumusan masalah yang dijadikan contoh.
3) Latihan individu menyusun proposal PTK berdasar-kan rumusan masalah masing-masing.

2. KOMPETENSI DAN INDIKATOR
Kompetensi dan indikator yang ingin dicapai dalam pembahasan Penyusunan Proposal ini adalah sebagai berikut.

Kompetensi Indikator Pencapaian Kompetensi
Guru peserta mampu menyusun usulan PTK. Guru peserta mampu:
a. Merumuskan hipotesis (dugaan sementara) tindakan atau merumuskan pertanyaan penelitian.
b. Menilai kelayakan hipotesis tindakan.
c. Merancang tindakan-tindakan (Penyusunan Proposal umum) yang akan dilakukan.
d. Menentukan jenis data dan cara mengumpulkan data.
e. Menentukan instrumen pengumpulan data yang sesuai dengan data yang akan dikumpulkan.
f. Merencanakan cara pengolahan data.

3. PERSIAPAN
Agar pelaksanaan kegiatan diskusi di KKG ini berjalan lancar, ada beberapa persiapan yang sebaiknya dilaku-kan Guru Pemandu, yaitu sebagai berikut.
a. Guru Pemandu mempelajari topik dan sumber belajar yang disarankan dan relevan.
b. Guru Pemandu menyiapkan alat yang diperlukan dalam sesi ini misalnya: papan tulis/kertas plano, kapur/spidol, LCD dan laptop (bila memungkinkan).
c. Guru Pemandu menyiapkan Bahan Ajar, yang dilampirkan, untuk sesi ini dalam bentuk Bahan Ajar berikut.
Bahan Ajar 1 Penjelasan umum kegiatan Pertemuan Penyusunan Proposal
Bahan Ajar 2 Kedudukan topik Penyusunan Proposal dalam urutuan PTK
Bahan Ajar 3 Pertanyaan arahan untuk menilai kelayakan hipotesis tindakan
Bahan Ajar 4 Sistematika usulan PTK
Bahan Ajar 5 Contoh-contoh instrumen PTK

4. SUMBER BELAJAR
Sumber belajar sebagai bahan pendukung yang dapat digunakan dalam kegiatan diskusi adalah sebagai berikut.
Sumber belajar 1 Penyusunan Proposal/Penyusunan Proposal dan Pelaksanaan PTK

5. KEGIATAN BELAJAR
Alur Kegiatan

Penjelasan Alur Kegiatan
Kegiatan 1: Penjelasan gambaran umum topik yang akan dipelajari, kompetensi, indikator pencapaian kompetensi, kegiatan belajar yang akan dilakukan peserta diskusi, dan produk kegiatan belajar yang diharapkan dari kegiatan belajar (5 menit)
Mengawali kegiatan belajar, ucapkan salam dan informasikan topik yang akan dipelajari. Melalui tayangan PowerPoint 1: Gambaran umum kegiatan Pembahasan Topik Penyusunan Proposal (2), Guru pemandu menginformasikan kompetensi, indikator, kegiatan belajar yang akan dilakukan, dan hasil belajar yang diharapkan selama guru peserta mempelajari topik Penyusunan Proposal.

Kegiatan 2: Tanya Jawab: Materi yang telah dibahas pada pertemuan sebelumnya dan menanyakan tugas terstruktur dan memastikan guru peserta KKG membawa buku kerja mereka yang berisikan tugas terstruktur pada pertemuan sebelumnya (10 menit)
Setelah pengkondisian guru peserta untuk mengikuti diskusi, Guru pemandu menanyakan topik yang telah dibahas sebelumnya dan selanjutnya Guru pemandu mengingatkan kembali tahapan atau desain penelitian tindakan kelas, melalui Bahan Ajar 2: Kedudukan Penyusunan Proposal dalam Tahapan PTK.
Informasikan pula bahwa topik Penyusunan Proposal ini akan difokuskan pada kemampuan guru peserta dalam menganalisis alternatif pemecahan masalah dan mengembangkan alternatif tindakan yang akan dikem-bangkan berdasarkan akar penyebab masalah yang akan dipilh untuk dibahas bersama.

Kegiatan 3: Diskusi kelompok mempelajari sumber belajar yang berhubungan dengan penyusunan proposal PTK (40 menit)
Guru pemandu meminta guru peserta duduk dalam kelompok-kelompok kecil. Pengelompokan dapat didasarkan pada kedekatan sekolah atau kelas tempat guru mengajar. Setiap guru peserta diminta mempelajari sumber belajar yang tersedia. Untuk membantu memfokuskan hasil bacaan, tayangkan pertanyaan arahan seperti pada Bahan Ajar 3: Pertanyaan arahan menilai kelayakan hipotesis tindakan.

Kegiatan 4: Latihan kerja kelompok dan individu membuat proposal PTK (90 menit)
Selama kira-kira 40 menit, tugasi setiap kelompok untuk menelaah masalah yang sudah teridentifikasi pada pertemuan sebelumya. Dari masalah tersebut, ajukan pertanyaan, misalnya:
Apakah fokus masalah tersebut?
1. Membuat rumusan masalah dalam bentuk kalimat pertanyaan, misalnya :
Teknik apakah yang dapat digunakan guru peserta untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menyimpulkan hasil pengamatan sumber balajar.
2. Rumuskan hipotesis tindakan dari rumusan masalah tersebut
Untuk membantu guru peserta merumuskan hipotesis (dugaan sementara) pelaksanaan tindakan, mintalah mereka menelaah rumusan masalah, ajukan pertanyaan, misalnya :
1. Apakah yang akan dilakukan guru peserta? atau
2. Unsur-unsur yang terikat langsung maupun tidak (variabel) pada tindakan yang akan dilaksanakan sesuai dengan rumusan masalah? (Teknik bertanya dan kemampuan siswa dalam menyimpulkan)
Jika guru peserta dapat mengidentifikasi variabel yang akan diteliti, hipotesis tindakan dapat dirumuskan, seperti:
Contoh
Jika teknik membaca cepat digunakan secara ter-arah, siswa akan lebih mudah untuk menemukan pikiran pokok isi bacaan.
Jika guru peserta masih kesulitan merumuskan hipotesis, pemandu dapat meminta guru peserta kegiatan di KKG membaca teknik penyusunan proposal (lihat sumber belajar).
Selanjutnya, setelah contoh rumusan hipotesis dipahami bersama, Guru pemandu memandu guru peserta untuk menilai kelayakan hipotesis tindakan. Gunakan pertanyaan arahan dengan menayangkan Bahan Ajar 3: pertanyaan arahan untuk menilai kelayakan hipotesis tindakan (lihat sumber belajar).
Setelah latihan menilai kelayakan hipotesis, kegiatan dilanjutkan dengan mendiskusikan penyusunan usulan PTK. Guru pemandu meminta setiap kelompok diskusi untuk menyimak sistematika usulan PTK. Gunakan Bahan Ajar: Sistematika usulan PTK.

Selanjutnya bimbinglah kelompok guru peserta untuk menyusun usulan PTK berdasarkan contoh masalah dan rumusan masalah yang telah dibahas tersebut.
Hasil bimbingan atau diskusi kelas diharapkan mengha-silkan contoh proposal PTK. (Lihat lampiran sumber belajar).

Kegiatan 5: Latihan Menyusun Proposal Secara Individu
Setelah guru peserta dapat menyusun proposal bersama, mintalah mereka berlatih menyusun proposal PTK berdasarkan rumusan masalah masing-masing.
Guru Pemandu meminta setiap kelompok untuk mem-pelajari contoh-contoh instrumen untuk pengumpulan data. Untuk membantu guru peserta, guru peserta diminta mempelajari Sumber Belajar tentang Metode Penelitian Tindakan Kelas.
Informasikan pula contoh lembar observasi yang dapat digunakan ketika mengobservasi pembelajaran yang biasa digunakan ketika kegiatan lesson study. Gunakan Bahan Ajar : Lembar Observasi.

Kegiatan 6: Perangkuman beserta Pemberian Tugas Terstruktur dan Tugas Mandiri (10 Menit)
Guru pemandu meminta salah seorang guru untuk merangkum hal-hal yang telah dipelajari pada kegiatan sesi ini.
Selanjutnya mintalah guru peserta mengeluarkan buku kerja, lalu mengerjakan tugas terstruktur yang harus dikerjakan dalam buku kerja.

a. Tugas Terstruktur
1. Lanjutkan penulisan proposal PTK sesuai dengan masalah yang telah Anda pilih dan carilah teman yang akan dijadikan partner untuk berkolaborasi.
2. Lengkapi usulan PTK tersebut dengan instrumen penelitian, termasuk perangkat pembelajaran yang sesuai dengan topik yang dipilih pada masalah PTK.
b. Tugas Mandiri
Pelajari bacaan (teori-teori) yang terkait dan menun-jang permasalahan PTK Anda (Lihat sumber belajar).

6. PENILAIAN
Penilaian terhadap pencapaian hasil belajar peserta dilakukan melalui produk kegiatan belajar. Produk yang dapat dinilai adalah Usulan atau proposal PTK. Produk peserta akan dilampirkan dalam portofolio guru peserta sebagai bahan diskusi di KKG.

BAHAN AJAR
Bahan Ajar 1
Penjelasan Umum Kompetensi, Indikator Pencapaian Kompetensi, Kegiatan, Dan Hasil Belajar yang Diharapkan Dicapai

Kompetensi Indikator Pencapaian Kompetensi Kegiatan Belajar Hasil Belajar yang diharapkan
Guru peserta mampu menyusun usulan PTK Guru peserta mampu:
1. merumuskan hipotesis (dugaan sementara) untuk melakukan tindakan.
2. menilai kelayakan hipotesis tindakan.
3. merancang tindakan-tindakan (Penyusunan Proposal umum) yang akan dilakukan.
4. menentukan jenis data dan cara mengumpulkan data.
5. menyusun instrumen pengumpulan data pedoman observasi.
6. merencanakan cara pengolahan data.

Diskusi
Rumusan Hipotesis tindakan

Usulan PTK/proposal PTK

Bahan Ajar 2
Kedudukan Topik Penyusunan Proposal dalam Urutuan PTK

Bahan Ajar 3
Pertanyaan Arahan untuk Menilai Kelayakan Hipotesis Tindakan
1. Apakah saya memiliki pengetahuan berkenaan dengan hal itu?
2. Apakah saya dan siswa saya memiliki kemampuan untuk melaksanakannya?
3. Apakah tersedia sarana/fasilitas untuk mendukung kegiatan tersebut?
4. Apakah tersedia waktu yang cukup untuk melaksanakan rangkaian kegiatan tersebut?
5. Apakah iklim sekolah dan iklim belajar di kelas cukup mendukung pelaksanaan tindakan?

Bahan Ajar 4
Sistematika Proposal PTK
A. Judul Penelitian
B. Pendahuluan (Latar Belakang Masalah)
C. Rumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Penelitian
F. Kajian Pustaka
G. Jadwal Penelitian
H. Personalia Penelitian
I. Daftar Pustaka (sementara)
Lampiran (instrumen observasi)
Silabus
RPP
LKS
Penilaian
Kuesioner
Format Observasi

Bahan Ajar 5
Contoh Lembar Observasi Pembelajaran
LEMBAR OBSERVASI PEMBELAJARAN
Program – BERMUTU

Mata Pelajaran/Topik /
Kelas/Sekolah /
Nama Pengajar

TAHAP GURU SISWA
Respon/Aktivitas Frekuensi
KEGIATAN AWAL Apersepsi dan motivasi awal yang dilakukan guru. Uraian respon siswa:
Memunculkan masalah atau konflik kognitif untuk dibahas dan diselesaikan oleh siswa pada kegiatan inti.
KEGIATAN INTI

Materi ajar:
Memberikan penjelasan umum tentang materi ajar atau kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa.
Keterkaitan dengan realita kehidupan/lingkungan dan pengetahuan lain. Memperhatikan dan memahami penjelasan guru.

Dapat mengaitkan dengan realita kehidupan/lingkungan.
Pengelolaan sumber belajar, media atau peralatan: Menyiapkan sumber belajar/media pembelajaran. Aktif belajar dengan memanfaatkan sumber belajar/media.
Strategi pembelajaran Proses pembelajaran berjalan dengan tahapan yang sesuai dan lancar. Siswa dapat mengikuti alur kegiatan belajar secara lancar.
Memberikan pertanyaan/arahan yang mendorong siswa berpikir dan beraktivitas. Aktif melakukan kegiatan fisik dan mental (berpikir).
Respons guru terhadap kesulitan, pertanyaan, atau masukan dari siswa. Menyampaikan tentang kesulitan (bertanya) atau menyampaikan saran/kritik.
KEGIATAN PENUTUP Memberikan penguatan dalam bentuk merangkum, menyimpulkan, atau mereviu hasil pembelajaran.
Memberi tugas rumah untuk remidi atau penguatan. Kepuasan siswa terhadap proses dan hasil belajar.
Melakukan evaluasi pembelajaran: Pencapaian kompetensi/indikator:

KOMENTAR OBSERVER** Keterlaksanaan skenario pembelajaran (berdasarkan RPP)

Pelajaran berharga yang dapat dipetik oleh observer:

Lain-lain:

…………………, …………………….200 ,
Observer,

____________________________________
Jabatan/Posisi:

SUMBER BELAJAR
Contoh Proposal PTK
A. Judul: Peningkatan Kemampuan Membaca Cepat Siswa Kelas IV SD Melalui Penggunaan Pertanyaan Probing

B. Latar Belakang (Deskripsi Masalah)
Untuk menuliskan deskripsi masalah, guru peserta dapat menyimak kembali contoh case study pada per-temuan Topik Identifikasi Masalah, judul: Sulitkah mempertahankan minat belajar Siswa ?
Berdasarkan case study tersebut dapat dituliskan hal-hal berikut.
Pembelajaran topik membaca cepat di kelas IV SD dengan menggunakan pendekatan kontektual dan LKS bentuk eksperimen pada awalnya menarik minat dan mengaktifkan siswa untuk belajar konsep tersebut.
Pada awal pembelajaran, pembelajaran berjalan lancar, namun pada saat masuk pada tahapan akhir pelajaran, saya mulai agak tergesa-gesa untuk menyelesaikan pelajaran dengan menjelaskan/menyimpulkan manfaat membaca cepat yang telah dilakukan siswa pada hari itu. Pada saat saya menjelaskan kesimpulan, siswa saya sudah tidak memperhatkan lagi dan pada saat ditanya, mereka belum mengerti.
Meskipun beberapa pertanyaan dalam LKS dapat dijawab dengan baik, tapi ada beberapa konsep yang belum dipahami, sehingga siswa belum mampu menarik kesimpulan dari kegiatan yang mereka lakukan, ke-mampuan itu hanya terbatas pada beberapa siswa saja. Hal ini terbukti dari hasil tes yang telah saya berikan.
Saya merasa kecewa. Awalnya saya mengira pembelajaran saat itu berhasil, ternyata tidak. Saya tidak dapat mempertahankan semangat belajar siswa sampai akhir jam pelajaran.
Berdasarkan pengalaman tersebut, saya ingin memperbaiki pembelajaran membaca cepat untuk perbaikan pembelajaran di kelas IV lainnya. Setelah saya renungkan dan berdasarkan kajian teori-teori pengelolaan kelas, di antaranya penggunaan teknik bertanya, saya menemukan solusi unuk perbaikan pembelajaran tersebut.
Mengajukan pertanyaan adalah salah satu teknik mengajar yang sering dilakukan oleh guru (Kim dan Kelloy, 1987 dalam Indrawati: 2006: 15). Pendapat ini didukung oleh Callahan dan Clarke (1988) yang mengatakan bahwa pertanyaan adalah salah satu yang paling penting dari semua teknik mengajar. Kita menggunakan pertanyaan selama pembelajaran untuk merangsang siswa berpikir, menilai kemajuan siswa, mengecek penjelasan yang telah diberikan guru, memotivasi siswa untuk tetap menaruh perhatian pada pelajaran, mengontrol siswa tetap fokus pada pelajaran, dan banyak hal lagi. Cara siswa menjawab atau jawaban yang diharapkan dari siswa ditentukan oleh tingkat dan jenis pertanyaan yang diajukan oleh guru, apakah tingkat ingatan, pemahaman, analisis, atau evaluasi.
Pertanyaan dalam proses pembelajaran memiliki beberapa fungsi, yaitu: 1) mendorong minat dan motivasi siswa untuk berparsipasi aktif dalam pembelajaran, 2) mengevaluasi persiapan siswa dan mencek pemahaman siswa terhadap suatu tugas, 3) mendiagnosis kekuatan dan kelemahan siswa, 4) mereviu apa yang telah diajarkan. 5) mengarahkan siswa untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru dalam menggali permasalahan, 6) merangsang siswa mencari bahan untuk data, 7) mengembangkan dan membangun konsep diri siswa secara individu (Carin dan Sund, 1971 ; Carin 1997: 97) .
Berdasarkan paparan tersebut, maka fokus masalah yang akan diteliti dalam penelitian tindakan kelas ini adalah mengenai penggunaan teknik bertanya.

C. Permasalahan dan Rumusan Masalah
Permasalahan pokok yang akan dicari solusinya dalam PTK ini adalah pada umumnya siswa belum mampu menemukan pikiran utama dalam bacaan secara cepat.
Berdasarkan masalah tersebut, rumusan masalahnya adalah apakah penerapan pertanyaan probing dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas IV SD menemukan pikiran utama bacaan secara cepat?

D. Cara Pemecahan Masalah
Untuk memecahkan permasalahan sebagaimana dikemukakan tersebut, maka dalam penelitian ini akan digunakan teknik bertanya probing.
Pertanyaan yang bersifat probing digunakan guru untuk menggali jawaban siswa agar lebih jelas. Teknik membimbing (probing) digunakan jika siswa dalam menjawab pertanyaan guru kurang lengkap dan siswa hanya menjawab sebagian-sebagian. Teknik membimbing memerlukan waktu dan kesabaran guru dalam mengajukan pertanyaan dan juga memerlukan keterampilan guru untuk dapat menggali jawaban siswa dengan mengajukan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menggali dari seorang siswa dengan tujuan untuk meningkatkan respon siswa menuju kepada jawaban yang lebih benar dan lebih luas.
Berdasarkan hal tersebut, maka hipotesis tindakan yang dapat dirumuskan adalah:
Jika teknik bertanya probing digunakan secara terarah, siswa akan lebih mudah untuk menemukan pikiran utama bacaan.
Untuk memfokuskan penelitian ini, rumusan masalah dirinci lagi ke dalam pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut.
a. Apakah teknik bertanya probing yang diajukan guru dapat membantu siswa dalam proses menemukan pokok pikiran utama bacaan?
b. Bagaimanakah cara guru mengajukan petanyaan probing pada topik membaca cepat?
c. Bagaimanakah respon jawaban-jawaban siswa atas pertanyaan probing yang diajukan guru?
d. Kesulitan-kesulitan apakah yang dialami siswa ketika akan membuat kesimpulan hasil menemukan pokok pikiran utama dalam bacaan?

E. Tujuan dan Manfaat PTK
Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk:
a. Mengetahui penggunaan teknik bertanya probing yang akan membantu siswa dalam menyimpulkan hasil hasil menemukan pokok pikiran utama dalam bacaan?
b. Mengetahui cara guru mengajukan teknik bertanya probing untuk mengarahkan siswa pada kesimpulan hasil hasil menemukan pokok pikiran utama dalam bacaan?
c. Mendeskripsikan respon/jawaban-jawaban siswa atas pertanyaan yang diajukan guru untuk mengarahkan pada kesimpulan hasil dari menemukan pokok pikiran utama dalam paragraf.
d. Mendeskripsikan kesulitan-kesulitan yang dialami siswa dalam membuat kesimpulan hasil menemukan pokok pikiran utama dalam paragraf dengan membaca cepat.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi:
a. Guru; sebagai perbaikan pembelajaran
b. Rekan guru sejawat; sebagai alternatif bahan rujukan untuk membantu siswa dalam proses penemuan pokok ppikiran utama dalam bacaan dengan membaca cepat.
c. Siswa; membaca cepat dan menemukan pokok pikiran utama bacaan dengan tepat dan cepat. Selain itu dapat memotivasi siswa untuk gemar membaca.
d. Sekolah; dengan meningkatnya kualitas kompetensi siswa dan profesionalisme guru meningkat, maka kualitas lulusan sekolah juga akan meningkat pula.

F. Kajian Pustaka
Mengajukan pertanyaan adalah salah satu teknik mengajar yang sering dilakukan oleh guru (Kim dan Kelloy, 1987). Pendapat ini didukung oleh Callahan dan Clarke (1988) yang mengatakan bahwa pertanyaan adalah salah satu yang paling penting dari semua teknik mengajar. Kita menggunakan pertanyaan selama pembelajaran untuk merangsang siswa berpikir, menilai kemajuan siswa, mengecek penjelasan yang telah diberikan guru, memotivasi siswa untuk tetap menaruh perhatian pada pelajaran, mengontrol siswa tetap fokus pada pelajaran, dan banyak hal lagi. Cara siswa menjawab atau jawaban yang diharapkan dari siswa ditentukan oleh tingkat dan jenis pertanyaan yang diajukan oleh guru, apakah tingkat ingatan, pemahaman, analisis, atau evaluasi.
Pertanyaan dalam proses pembelajaran memiliki beberapa fungsi, yaitu: 1) mendorong minat dan motivasi siswa untuk berparsipasi aktif dalam pembelajaran, 2) mengevaluasi persiapan siswa dan mencek pemahaman siswa terhadap suatu tugas, 3) mendiagnosis kekuatan dan kelemahan siswa, 4) mereviu apa yang telah diajarkan. 5) mengarahkan siswa untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru dalam menggali permasalahan, 6) merangsang siswa mencari bahan untuk data , 7) mengembangkan dan membangun konsep diri siswa secara individu ( Carin dan Sund, 1971: ; Carin 1997: 97) . Sedangkan Chemprecha (1979: 11) dalam Siswoyo (1997: 13) menyatakan bahwa tujuan utama bertanya di dalam kelas adalah untuk membantu siswa mengembangkan cara belajar melalui penemuan diri dan bukan menguji sejauh mana siswa telah menghafal pelajaran yang telah diberikan.
Pada proses pembelajaran, di samping pertanyaan guru yang memegang peranan penting, juga harus diciptakan agar siswa dapat mengajukan pertanyaan. Untuk menciptakan suasana yang mendukung bagi siswa untuk bertanya, maka guru perlu membuat atau menciptakan kerangka pertanyaan. Tahap pertama dalam menciptakan kerangka pertanyaan adalah merangsang minat siswa dengan cara memberi siswa kesempatan untuk berhubungan langsung dengan wacana bentuk teks bacaan yang merangsang rasa ingin tahu siswa.
Berdasarkan teks yang menarik, siswa dapat merespon pertanyaan guru dan menjawab sesuai dengan apa yang diharapkan oleh guru. Respon siswa dapat berupa penggunaan kata-kata untuk mendeskripsikan, menggambar atau membangun sesuatu, yang dapat diajukan termasuk ke dalam klasifikasi observasi. Dengan demikian, pertanyaan yang diajukan oleh guru hendaknya tidak mengandalkan kemampuan verbal dalam bentuk pertanyaan lisan, namun harus didukung oleh situasi yang kondusif agar siswa termotivasi untuk menjawab maupun mengajukan pertanyaan.

Klasifikasi Pertanyaan
Pertanyaan yang diajukan oleh guru dapat diklasifikasi-kan ke dalam beberapa bagian, ada yang dapat diklasifikasikan ke dalam pertanyaan divergen (menyebar) dan konvergen (memusat) atau sering disebut juga pertanyaan terbuka dan tertutup, ada pula yang mengklasifikasikannya ke dalam taksonomi Bloom dan keterampilan proses. Dahar membaginya ke dalam jenis pertanyaan: 1) faktual dan deskriptif (untuk memerikan), 2) pertanyaan membimbing, dan 3) pertanyaan tingkat tinggi. Sedangkan Carin mengelompokkan pertanyaan ke dalam pertanyaan tingkat rendah, tingkat menengah, dan tingkat tinggi.
1. Pertanyaan Menurut Taksonomi Bloom
Bloom (1956:6) mengklasifikasikan pertanyaan berdasarkan domain kognitif, yaitu pertanyaan ingatan (recall), pemahaman (comprehension), aplikasi (application, analisis (analysis), sintesis (syntesis), dan evaluasi (evaluation).
a. Pertanyaan Ingatan
Pertanyaan ingatan diajukan untuk mengungkap pengetahuan siswa mengenai fakta, kejadian, dan definisi. Guru mengajukan pertanyaan ingatan biasanya untuk mengetahui apakah siswa telah memperoleh sejumlah fakta yang dikehendaki atau tidak. Pertanyaan ingatan dapat berbentuk dua tipe, yaitu : 1) pertanyaan yang menuntut jawaban ya atau tidak dan 2) pertanyaan yang menuntut jawaban siswa dengan hasil mengingat. Pertanyaan yang yang sering diajukan dalam jenis ini diawali dengan kata apa, siapa, dimana, bilamana (kapan), atau definisikan. Berikut ini contoh pertanyaan ingatan :
1) Apakah manfaat membaca?
2) Apakah definisi membaca?
3) Berapa kecepatan membacamu dalam satu menit ?
b. Pertanyaan Pemahaman
Pertanyaan pemahaman diajukan apabila guru meminta siswa untuk memahami sesuatu dengan cara mengorganisasikan informasi yang telah diperoleh, menyusun kembali kata-kata dengan menggunakan kalimat sendiri. Pertanyaan pemahaman dapat dibedakan ke dalam tiga tipe, yaitu :
1) Pertanyaan yang meminta siswa memberikan penjelasan dengan menggunakan kata-kata sendiri, misalnya: jelaskan apa yang dimaksud dengan membaca?;
2) Pertanyaan yang meminta siswa menyatakan ide pokok suatu hal dengan menggunakan kata-kata sendiri, misalnya: faktor apa saja yang harus diperhatikan ketika melakukan membaca cepat?;
3) Pertanyaan yang meminta siswa untuk memban-dingkan atau membedakan, misalnya: bandingkan membaca cepat dengan bersuara dengan membaca cepat tanpa bersuara?
c. Pertanyaan Aplikasi
Pertanyaan aplikasi diajukan apabila guru ingin meminta siswa untuk dapat menggunakan informasi atau konsep yang telah dimiliki untuk menjelaskan atau memecahkan masalah pada situasi baru. Contoh pertanyaan aplikasi, misalnya :
Bagaimana caranya membaca cepat yang baik?

d. Pertanyaan Analisis
Pertanyaan analisis diajukan apabila guru meminta siswa untuk dapat menemukan jawaban dengan cara: (a) mengidentifikasi motif-motif masalah yang ditampilkan, (b) mencari bukti-bukti atau kejadian-kejadian yang menunjang suatu kesimpulan, (c) menarik kesimpulan berdasarkan informasi yang ada atau membuat generalisasi berdasarkan informasi yang ada.
Contoh pertanyaan analisis misalnya :
Menurut pendapatmu apakah yang dapat mempengaruhi kecepatan membacamu?

e. Pertanyaan Sintesis
Pertanyaan sintesis diajukan apabila guru meminta siswa untuk dapat memberikan jawaban lebih dari satu kemungkinan dan mengembangkan potensi siswa untuk berkreasi. Contoh pertanyaan sintesis : Apa yang akan terjadi bila seseorang membaca sambil melakukan gerakan lain seperti menggigit pinsil, atau mengetuk-ngetukkan kaki ka lantai.

f. Pertanyaan Evaluasi
Pertanyaan evaluasi diajukan apabila guru menghendaki siswa untuk dapat memberikan penilaian atau pendapat terhadap suatu isu yang ditampilkan. Pertanyaan evaluasi dapat diajukan untuk mengetahui kemampuan siswa merancang, mempertimbangkan, dan mengkritik. Contoh pertanyaan yang bersifat evaluatif adalah sebagai berikut.
1) Dapatkan kamu memikirkan suatu cara untuk memecahkan masalah ini? (merangsang)
2) Setujuhkah kamu dengan adanya peraturan sekolah yang mewajibkan setiap anak harus melaporkan hasil membacanya setiap minggu kepada guru kelasnya?
3) Apakah kesimpulan yang diperoleh oleh kelompok temanmu didasarkan pada bukti-bukti yang benar?

2. Pertanyaan Keterampilan Proses
Pertanyaan-pertanyaan yang termasuk klasifikasi keterampilan proses ditujukan untuk mengembangkan kemampuan siswa untuk menemukan konsep melalui proses membaca cepat yang mencakup: mengamati, membedakan, mengklasifikasi, memprediksi, menafsirkan, menerapkan konsep, merumuskan hipotesis, merencanakan penelitian, membuat model, berkomunikasi , dan menyimpulkan. (Carin, 1997: 105).
Pertanyaan mengamati diajukan apabila guru meminta siswa untuk dapat menggunakan alat indera (penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, dan pengecap) atau alat ukur (misalnya penggaris, neraca) untuk menyatakan sifat suatu objek.
Pertanyaan mengklasifikasi dapat diajukan apabila guru meminta siswa untuk dapat menunjukkan kemampuan membedakan, mencari persamaan-persama-an dari suatu objek/peristiwa.
Pertanyaan memprediksi, diajukan apabila guru meminta siswa untuk dapat memberikan dugaan berdasarkan data/informasi yang diperolehnya atau menggunakan pola yang ditemukan dari hasil pengamatan dan mengemukakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada kejadian atau peristiwa.
Pertanyaan menafsirkan diajukan apabila guru meminta siswa untuk dapat menghubungkan hasil-hasil pengamatan dan menemukan suatu pola dalam suatu seri pengamatan.
Pertanyaan penerapan konsep diajukan apabila guru menginginkan siswa untuk dapat menggunakan konsep pada pengalaman baru untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.
Pertanyaan merumuskan hipotesis diajukan untuk melatih siswa agar mampu menghubungkan variabel-varibel, pertanyaan merencanakan penelitian menun-tut siswa untuk dapat menentukan alat, bahan, dan sumber yang digunakan dalam penelitian, menentukan variabel yang harus dibuat tetap dan yang dapat diubah-ubah, menentukan apa yang harus diamati, diukur, dan ditulis, menentukan cara dan langkah kerja, menentukan bagaimana hasil pengamatan untuk dibuat kesimpulan.
Pertanyaan komunikasi diajukan untuk meminta siswa agar dapat mendeskripsikan hasil pengamatan, menyusun dan menyampaikan laporan secara sistematis, menggambarkan data dengan grafik, tabel, diagram dan cara membacanya.
Berikut ini contoh pertanyaan yang termasuk keterampilan proses membaca
Tabel 1. Pertanyaan Klasifikasi Keterampilan Proses Membaca cepat
Keterampilan Proses membaca cepat Contoh Pertanyaan
Mengamati Apakah yang kamu pertama kali lihat bila ada sebuah teks di depanmu?
Mengklasifikasi Dari bacaan-bacaan yang ada di sekitar kita, bacaan apa sajakah yang dapat menarik minat bacamu?
Memprediksi Perhatikan grafik jumlah penduduk ini (ditampilkan grafik pertambahan jumlah penduduk), berapa kira-kira jumlah penduduk pada tahun 2010?
Menginterpretasi Perhatikan data hasil percobaan perpindahan panas pada berbagai jenis logam, apa yang menyebabkan perpindahan kecepatan perpindahan panas pada logam berbeda?
Menerapkan konsep Apa yang dapat kamu sarankan pada temanmu agar mempunyai hoby membaca?
Merumuskan hipotesis Apa yang akan terjadi apabila sebuah klip seseorang membaca dengan menggerak-gerakan anggota badan?
Merancang eksperimen Bagaimana kamu dapat menentukan bahwa membaca tanpa bersuara lebih baik daripada yang bersuara?
Menyimpulkan Apa yang dapat kamu simpulkan dari percobaan membaca cepat dengan bersuara cukup keras?

a. Rancangan dan Metodologi Penelitian
1. Penataan Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas IV SD …. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SD.., banyaknya siswa adalah 40, terdiri dari 22 siswa perempuan dan 18 siswa laki-laki. Kemampuan siswa kelas IV SD ….. adalah rata-rata.

2. Aspek-aspek yang diselidiki
Dalam penelitian ini, aspek-aspek yang akan diselidiki meliputi:
a. Deskripsi pertanyaan-pertanyaan probing yang diajukan guru pada topik membaca cepat.
b. Cara guru mengajukan pertanyaan probing
c. Deskripsi respon/jawaban pertanyaan siswa
d. Deskripsi kesulitan-kesulitan siswa dalam menyimpulkan

3. Langkah-langkah kegiatan
a) Persiapan
1) Mengkaji teori-teori yang mendukung/ kepustakaan.
2) Menyusun Penyusunan Proposal pembelajaran (RPP, LKS, instrumen penilaian, dan menyiapkan media/alat/bahan praktikum).
3) Menyusun pertanyaan-pertanyaan bimbingan.
4) Menyusun instrumen penelitian.
5) Mendiskusikan dengan rekan guru sejawat yang akan diminta menjadi observer.
b) Pelaksanaan
1) Pelaksanaan penelitian akan dilakukan selama 2 siklus, siklus 1 melaksanakan pembelajaran membaca cepat dan menggali dengan pertanyaan-pertanyaan untuk mene-mukan pokok pikiran utama teks dan siklus 2 melaksanakan pembelajaran membaca cepat deapembuatan indikator alam dan pengujian-nya terhadap bahan-bahan di sekitar.
2) Mengembangkan perangkat pembelajaran (RPP, LKS, instrumen penilaian, alat dan bahan yang akan digunakan)
3) Melaksanakan pembelajaran sesuai RPP.
4) Meminta rekan guru mengobserasi pembela-jaran.
5) Pengumpulan data akan dilakukan melalui tes, observasi pembelajaran (dengan fokus pada aspek-aspek yang akan diteliti), wawancara siswa mengenai kesulitan siswa ketika menyim-pulkan hasil percobaan, produk siswa (jawaban LKS) dan laporan hasil kerja siswa.
c) Analisis dan Refleksi
Analisis data difokuskan pada deskriptif jenis pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru, kualitas jawaban siswa dan mudah tidaknya siswa menyim-pulkan setelah dibimbing dengan arahan pertanyaan dari guru.
Analisi produk siswa berupa kesimpulan akan menggunakan kriteria sesuai rubrik menyimpulkan yang akan dikembangkan. Siswa dikatakan mampu menyimpulkan jika mendapat skor 3 sesuai rubrik berikut.
Contoh Rubrik Untuk Menarik Kesimpulan
Skala Kriteria dan Deskriptor
3 Menarik kesimpulan yg didukung data, dan menmberikan bukti pendukung untuk kesimpulan
2 Menarik Kesimpulan yang didukung data, tapi menunjukkan dukungan untuk kesimpulan
1 Penarikan kesimpulan tidak mendukung oleh data
0 Gagal mencapai suatu kesimpulan.

Contoh Proposal PTK
JUDUL PENELITIAN
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS SISWA KELAS V SD MELALUI PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS
MULTIPLE INTELLIGENCES
(Teuku Alamsyah dan Muhammad Iqbal)
1. Latar Belakang Masalah
Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Oleh karena itu, pembaruan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional (Nurhadi dkk., 2004:1). Dalam konteks pembaruan pendidikan, ada tiga isu utama yang perlu disoroti, yaitu pembaruan kurikulum, peningkatan kualitas pembelajaran, dan efektivitas metode pembelajaran. Kualitas pembelajaran harus ditingkatkan untuk meningkatkan kualitas hasil pendidikan. Secara mikro, harus ditemukan strategi atau pendekatan pembelajaran yang efektif di kelas yang lebih dapat memberdayakan potensi siswa. Ketiga hal itulah yang saat ini menjadi fokus pembaruan pendidikan di Indonesia. Berkenaan dengan penerapan atau pemilihan strategi pembelajaran, sebagai seorang guru, pertanyaan-pertanyaan berikut ini kiranya menarik untuk disimak (1) apakah Anda mengenal dengan baik siswa Anda? (2) Apakah di kelas Anda ada siswa yang bisa menciptakan seni visual yang indah? (3) Adakah yang mahir di bidang olahraga? (4) Adakah yang mampu memainkan alat musik yang dapat menyentuh perasaan? (5) Apakah Anda tergetar dengan ketelitian matematis siswa Anda? (6) Adakah di kelas Anda siswa yang paling cerdas dan siswa yang sangat tidak cerdas? (7) Adakah siswa Anda yang suka membaca cerita, menulis puisi, dan mengembangkan bakat mereka dalam menulis? Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang sulit untuk terjawab karena setiap siswa memiliki keunikan, dan kecerdasan mereka berkembang dalam bentuk yang berbeda-beda. Setiap siswa memang unik dan secara individual menawarkan kontribusi yang berharga bagi kebudayaan manusia (Campbell, Campbell, dan Dickinson, 2006:1). Sebagai seorang guru, kita diharapkan memiliki pengetahuan yang memadai tentang siswa di kelas kita. Dengan demikian, tugas seorang gurulah mengarahkan siswa ke arah perkembangan yang optimal.
Gardner (1983) sebagai pencetus Theory of Multiple Intelligences menyatakan bahwa kecerdasan adalah bahasa-bahasa yang dibicarakan oleh semua orang dan sebagian dipengaruhi oleh kebudayaan tempat seseorang dilahirkan. Kecerdasan merupakan alat untuk belajar, menyelesaikan masalah, dan menciptakan semua hal yang bisa digunakan manusia. Gardner (dalam Campbell, Campbell, dan Dickinson, 2006:2-3) mendeskripsikan tujuh kecerdasan manusia, yaitu: (1) kecerdasan linguistik (linguistic Intelligences), (2) kecerdasan logika-matematika (logical-mathematical intelegence), (3) kecerdasan spasial (spatial Intelligences), (4) kecerdasan kinestetik-tubuh (bodly-kinesthetic Intelligences), (5) kecerdasan musik (musical Intelligences), (6) kecerdasan interpersonal (interpersonal Intelligences), dan (7) kecerdasan intrapersonal (intrapersonal Intelligences).
Pemahaman seorang guru terhadap ketujuh jenis kecerdasan ini sangatlah penting. Dengan pemahaman ini guru memiliki pengetahuan yang memadai tentang karakteristik siswanya. Lebih lanjut tentunya guru akan dapat memperlakukan siswanya sebagaimana seharusnya. Guru akan dapat lebih mengarahkan setiap siswa sesuai dengan bakat kecerdasan yang dimilikinya. Seorang siswa yang lemah dalam bidang matematika umpamanya, tidak akan selalu berarti bahwa siswa yang bersangkutan juga lemah dalam bidang-bidang yang lain. Di sinilah pentingnya seorang guru mengenal setiap siswanya dengan baik sehingga dapat memberikan layanan pendidikan secara optimal.
Pengalaman Bruce Campbell berikut ini dapat dijadikan teladan oleh para guru dalam pembelajaran. Bruce Campbell telah menerapkan teori Gardner pada Sekolah Dasar tingkat III/IV/V, dan kelas berbagai usia selama enam tahun. Model pembelajaran ini melibatkan tujuh pusat pembelajaran, masing-masing melibatkan salah satu kecerdasan. Para siswa menghabiskan sekitar dua pertiga hari sekolah mereka. Di pagi hari dimulai dengan ceramah singkat dan diskusi tentang tema kelas yang baru. Para siswa dibagi menjadi tujuh kelompok untuk memulai kegiatan mereka, dengan menghabiskan sekitar 25 menit untuk setiap bidang kegiatannya. Hari yang ketiga yang terakhir, mereka mengerjakan proyek mandiri atas pilihan mereka dan membagi pekerjaan mereka dengan teman sekelas.
Sekali lagi, penerapan ide-ide Gardner terhadap siswa-siswa Bruce tidak hanya menghasilkan skor tes yang lebih tinggi, tetapi juga peningkatan area yang lain di dalam kehidupan anak-anak. Selama setahun, Bruce melaksanakan proyek penelitian (Action Research Project) dan bebagai upaya model kurikuler ini telah didokumentasikan: para siswa menemukan area kekuatan mereka yang berbeda dan dapat menerapkan bermacam kecerdasan dalam kegiatan kelas. Permasalahan perilaku menjadi berkurang, konsep diri menjadi meningkat, keterampilan bekerja sama dan kepemimpinan menjadi berkembang, dan yang terpenting kecintaan anak-anak untuk belajar menjadi bertambah.
Pengalaman Bruce tersebut akan diupayakan diterapkan dalam penelitian ini dalam bentuk action research berkolaborasi dengan guru kelas V SDN 35 Kota Banda Aceh, tempat penelitian ini akan dilaksanakan. Jenis multiple Intelligences yang akan diterapkan adalah kecerdasan linguistik dalam bentuk verbal-linguistik. Penerapan strategi pembelajaran multiple Intelligences yang berkenaan dengan linguistic Intelligences ini diharapkan dapat meningkatkan hasil pembelajaran bahasa Indonesia aspek keterampilan menulis pada siswa kelas V SDN 35 Kota Banda Aceh. Selain itu, dari hasil penelitian ini diharapkan juga dapat terdata siswa-siswa yang memiliki bakat kecerdasan linguistik yang selanjutnya dapat dibina dan diarahkan agar siswa yang bersangkutan dapat mengembangkan bakatnya atau kecerdasannya secara maksimal. Dengan demikian, pembelajaran yang berlangsung setiap hari di kelas bukanlah sebuah rutinitas, melainkan sebuah tempat yang memberikan makna tersendiri bagi masa depan peserta didik.
Dalam konteks tersebut, peran guru tidak dapat diabaikan. Mampukah seorang guru melihat dan mencermati hal-hal yang demikian? Diyakini semua guru memiliki kemampuan itu dengan catatan: mengajar bukanlah penyelesaian sebuah tugas. Dalam kata mengajar mestinya terkandung makna pembelajaran dan juga pendidikan. Artinya, tugas guru adalah melaksanakan pembelajaran sekaligus melakukan kegiatan mendidik.
Sehubungan dengan profesi guru, menarik untuk disimak pernyataan (Djoyonegoro dalam Mulyasa, 2006: 3) bahwa hanya 43% guru pada berbagai jenjang pendidikan yang memenuhi kualifikasi sebagai guru yang profesional. Artinya, sebagian besar guru (57%) tidak atau belum memenuhi syarat, tidak kompeten, dan tidak profesional. Menyikapi pernyataan tersebut tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa pendidikan kita masih jauh dari harapan dan kebutuhan. Padahal dalam kapasitasnya yang sangat luas, pendidikan memiliki peran dan berpengaruh positif terhadap segala bidang kehidupan dan perkembangan manusia dengan berbagai aspek kepribadiannya.
Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah telah melakukan berbagai upaya sebagai kebijakan dalam peningkatan kualitas pendidikan. Kebijakan dalam peningkatan kualitas pendidikan dimulai dari peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Dasar. Dalam upaya pembinaan dan pengembangan pendidikan di Sekolah Dasar, pemerintah telah mengembangkan suatu sistem pembinaan yang dikenal sebagai Sistem Pembinaan Profesional (SPP). Sistem ini dilaksanakan dengan pendekatan gugus sekolah sehingga beberapa sekolah yang lokasinya berdekatan dikelompokkan dalam satu gugus (3 sampai dengan 8 sekolah). Satu sekolah ditunjuk sebagai sekolah inti dan yang lainnya merupakan sekolah imbas. Pembinaan mutu pendidikan tersebut dilaksanakan dengan menggunakan prinsip whole school development, yang memandang sekolah sebagai suatu keutuhan. Pembinaan dan pengembangan ditekankan pada semua aspek dan komponen yang menentukan mutu pendidikan di sekolah.
Salah satu komponen yang sangat menentukan dalam peningkatan mutu pendidikan adalah komponen guru dengan segala kinerjanya. Guru memegang peranan penting dalam suatu proses pembelajaran termasuk dalam perencanaan maupun pelaksanaan kurikulum (Syaodih dalam Mulyasa, 2006). Proses pembelajaran sebagai suatu aktivitas untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa berkaitan langsung dengan aktivitas guru. Sebagai suatu sistem kegiatan, proses pembelajaran melibatkan guru mulai dari pemilihan dan pengurutan materi pembelajaran, penerapan dan penggunaan metode pembelajaran, penyampaian materi pembelajaran, pembimbingan belajar, sampai pada kegiatan pengevaluasian hasil belajar. Berkaitan dengan peran tersebut, suatu proses pembelajaran akan berlangsung secara baik jika dilaksanakan oleh guru yang memiliki kualitas kompetensi akademik dan profesional yang memadai. Oleh karena itu, peningkatan mutu pendidikan diupayakan melalui peningkatan mutu guru. Selengkap apa pun prasarana dan sarana pendidikan, tanpa didukung oleh mutu guru yang memadai, prasarana dan sarana tersebut tidak memiliki arti yang signifikan terhadap peningkatan mutu pendidikan di suatu sekolah.
Terdapat berbagai macam alternatif strategi pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru dalam pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Strategi-strategi yang dimaksud antara lain: aktive learning, cooperative learning, problem solving, direct instruction, small group work, problem based instruction, discovery, dan yang dapat dipandang sebagai salah satu strategi pembelajaran mutakhir adalah strategi pembelajaran yang ditawarkan oleh Gardner, yaitu multiple Intelligences. Strategi pembelajaran yang disebut terakhir inilah yang akan diterapkan dalam penelitian ini khususnya untuk meningkatkan kemampuan berbahasa, aspek menulis, pada siswa Sekolah Dasar.
2. Rumusan Masalah
Masalah penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1) Bagaimanakah pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia aspek keterampilan menulis yang diterapkan oleh guru kelas V SD Negeri 35 Kota Banda Aceh?
2) Bagaimanakah gambaran awal kemampuan menulis siswa kelas V SD Negeri 35 Kota Banda Aceh?
3) Bagaimanakah proses pembelajaran menulis dengan penerapan strategi multiple Intelligences: linguistic Intelligences pada siswa kelas V SD Negeri 35 Kota Banda Aceh?
4) Bagaimanakah hasil pembelajaran menulis dengan penerapan strategi multiple Intelligences: linguistic Intelligences pada siswa kelas V SD Negeri 35 Kota Banda Aceh?
5) Berapa persenkah siswa kelas V SD Negeri 35 Kota Banda Aceh yang memiliki bakat linguistic Intelligences?

3. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1) Mendeskripsikan pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia aspek keterampilan menulis yang diterapkan oleh guru kelas V SD Negeri 35 Kota Banda Aceh.
2) Mendeskripsikan gambaran awal kemampuan menulis siswa kelas V SD Negeri 35 Kota Banda Aceh.
3) Menerapkan strategi multiple Intelligences: linguistic Intelligences dalam pembelajaran menulis pada siswa kelas V SD Negeri 35 Kota Banda Aceh.
4) Mendeskripsikan hasil pembelajaran menulis dengan penerapan strategi multiple Intelligences: linguistic Intelligences pada siswa kelas V SD Negeri 35 Kota Banda Aceh.
5) Mendapatkan data jumlah siswa kelas V SD Negeri 35 Kota Banda Aceh yang memiliki bakat linguistic Intelligences.

4. TINJAUAN PUSTAKA
4.1 Konsep Multiple Intelligencess
Multiple Intelligencess mengacu pada sebuah teori kecerdasan yang dikembangkan pertengahan tahun 1980-an oleh Howard Gardner, seorang profesor dalam bidang pendidikan di Universitas Harvard. Setiap orang memiliki kesemua kecerdasan ini dengan proposi yang berbeda-beda.
Gardner pada awalnya menemukan tujuh macam kecerdasan.
1) bahasa
2) logika/matematika
3) musik/irama
4) visual/ruang
5) fisik/gerak
6) hubungan antarmanusia
7) hubungan dengan diri sendiri
Guru yang menggunakan teori multiple intellegences akan berusaha keras untuk menyajikan pelajaran dengan berbagai macam cara, seperti menggunakan bahasa, angka-angka, objek fisik yang ada di sekeliling, bunyi, badan dan juga keterampilan sosial.

1. Tujuh Kecedasan Manusia menurut Multiple Intellegences
1) Kecerdasan Bahasa (Verbal/Linguistic Intelligences)
Kemampuan untuk menggunakan kata-kata atau bahasa. Pembelajar seperti ini memiliki kemampuan mendengarkan (auditory) yang sudah berkembang dengan baik dan biasanya merupakan pembicara yang baik. Mereka berpikir dengan kata-kata dan bukan dengan gambar.
Keterampilan mereka termasuk: menyimak, berbicara, menulis, bercerita, menjelaskan, mengajar, menggunakan humor, memahami struktur kalimat dan makna kata, mengigat informasi, meyakinkan seseorang tentang sudut pandang mereka, menganalisa bahasa dari segi penggunaannya.
Pilihan karir yang memungkinkan: pujanga, wartawan, penulis, guru, ahli hukum, politikus, dan penerjemah.

2) Kecerdasan Logika/Matematika (Logical/mathematical Intelligences)
Kemampuan untuk menggunakan alasan, logika, dan angka-angka. Pembelajar tipe ini berpikir secara konseptual dalam pola logika dan angka-angka, membuat kaitan antara potongan-potongan informasi. Selalu ingin tahu tentang dunia di sekeliling mereka, pembelajar seperti ini banyak bertanya dan senang melakukan eksperimen.
Keterampilan mereka adalah: memecahkan masalah, mengklasifikasikan sesuatu dan mengelompokkan informasi, bekerja dengan konsep abstrak untuk mengetahui hubungan yang ada antara satu dengan lainnya, behubungan dengan serangkaian alasan untuk membuat analisa yang logis, melakukan eksperimen terkontrol, mempertanyakan kejadian-kejadian alam, mengerjakan perhitungan matematika yang rumit, serta bekerja dengan bentuk-bentuk geometris. Kemungkinan pilihan karir: ilmuan, insinyur, pembuat program komputer, peneliti, akuntan, dan geometris.

3) Kecerdasan Musik/ Irama (Musical/ Rhythmic Intelligence)
Kemampuan untuk memainkan, mengapresiasi, dan menghasilkan. Pembelajar yang memiliki kecenderungan musik ini berpikir dalam bunyi-bunyi, irama, dan pola-pola. Mereka dengan segera merespon musik, apakah mengapresiasi atau mengkritik apa yang mereka dengar. Banyak di antara pembelajar tipe ini sensitif terhadap bunyi-bunyi di lingkungan sekitarnya (misalkan bunyi jangkrik, bel, atau air menetes dari kran. Kemampuan mereka termasuk: bernyanyi, bersiul, bermain alat musik, mengenali pola nada, membuat komposisi musik, mengingat melodi, memahami struktur, dan ritme musik. Jalur karir yang mungkin: musisi, disc jockey, penyanyi, kompesor.

4) Kecerdasan Visual/Ruang (Visual/Spatial Intelligence)
Untuk memperhatikan apa yang terlihat, pembelajar seperti ini cenderung berpikir dalam gambar dan menciptakan bayangan yang jelas untuk menyimpan informasi. Mereka suka melihat peta, bagan, gambar, video, dan film.
Keterampilan mereka adalah: mengaitkan potongan-potongan gambar, membaca, menulis, memahami tabel dan grafik, menentukan arah, membuat sketsa, melukis, menciptakan metafora visual, dan analogi (mungkin dengan tampilan gambar), memanipulasi bayangan, memperbaiki sesuatu, merancang barang yang praktis, dan menafsirkan gambar. Pilihan karir yang memungkinkan: navigator, pemahat, seniman(visual), penemu, arsitek, desainer interior, mekanik, insinyur.

5) Kecerdasan Fisik/Gerak (Bodily/Kinesthetic Intelligence)
Kemampuan untuk mengatur gerak tubuh dan menangani benda-benda dengan ahli. Pembelajar seperti ini mengekspresikan dirinya melalui gerakan. Mereka memiliki kemampuan alami dalam hal keseimbangan serta koordinasi mata dan tangan (misalkan, menyeimbangkan palang-palang). Dengan berinteraksi dengan ruang di sekitar mereka dan melakukan sesuatu kegiatan, mereka mampu mengingat dan memproses informasi.
Keterampilan mereka termasuk: menari, koordinasi fisik, olahraga, eksperimen praktis, menggunakan bahasa tubuh, kerajinan tangan, akting, berpantonim, menggunakan tangan untuk menciptakan emosi ke seluruh tubuh. Pilihan karir yang memungkinkan: Atlet, guru olahraga, penari, pemain film, petugas pemadam kebakaran, pekerja seni.
6) Kecerdasan Hubungan Antar manusia (Interpersonal Intelligence)
Pembelajar seperti ini berusaha untuk melihat segala sesuatunya dari sudut pandang orang lain agar ia bisa memahami bagaimana mereka berpikir dan merasakan. Mereka terkadang memiliki kemampuan yang sulit untuk dijelaskan misalkan kemampuan untuk merasakan perasaan, maksud, dan motivasi. Mereka merupakan seorang yang mampu mengorganisir dengan baik, meskipun terkadang mereka menggunakan manipulasi. Pada umumnya mereka berusaha untuk mempertahankan kedamaian dalam setting kelompok dan mendorong pertanian. Mereka menggunakan bahasa baik verbal (misalkan berbicara) maupun nonverbal (misalkan kontak mata, bahasa tubuh) untuk membuka kesempatan komunikasi dengan baik.
Keterampilan mereka adalah: melihat segala sesuatu dari perspektif lain, menyimak, menggunakan empati, memahami perasaan orang lain, memberikan bimbingan, bekerja sama dengan kelompok, memperhatikan perasaan orang-orang, motivasi dan maksud, berkomunikasi baik secara verbal maupun nonverbal, membangun kepercayaan, mengatasi konflik secara damai, mengembangkan hubungan positif dengan orang lain. Pilihan karir yang memungkinkan: penasehat, penjual, politikus, pebisnis.

7) Kecerdasan Hubungan Antarmanusia (Interpersonal Intelligence)
Kemampuan untuk melakukan refleksi atas diri sendiri dan menyadari keadaan dalam diri sendiri. Pembelajar seperti ini berusaha untuk memahami perasaan dalam diri mereka dan dalam hubungan dengan lainnya, dan kekuatannya dan kelemahannya.
Keterampilan mereka adalah: mengenali kekuatan dan kelemahan diri mereka sendiri, merefleksikan dan menganalisa diri mereka sendiri, kesadaran atas perasaan dalam mereka, mengevaluasi pola pikir, memberikan penjelasan bagi diri mereka sendiri serta memahami peran mereka dalam kaitannya dengan orang lain. Pilihan karir yang memungkinkan: peneliti, penemu teori, filsuf.

Sifat-sifat Intelegensi Verbal Linguistik
Di awal sejarah Negara (Amerika Serikat), di sekolah-sekolah Massachusetts Bay Colony, membaca dan menulis meliputi dua pertiga kurikulum. Dewasa ini kurikulum telah berkembang pesat. Akan tetapi, membaca dan menulis, sejalan dengan menyimak dan berbicara, tetap merupakan alat yang esensial dalam mempelajari semua pelajaran.
Hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh para pelopor pendidikan: Lev Vygotsky, Susanne Langer, James Brimon, dan James Moffet (dalam Campbell, Campbell, dan Dickinson, 2006:12) terdata karakteristik-karakteristik kecerdasan verbal linguistik sebagai berikut.
1) Mendengar dan merespon setiap suara, ritme, warna, dan berbagai ungkapan kata.
2) Menirukan suara, bahasa, membaca, dan menulis dari orang lain.
3) Belajar melalui menyimak, membaca, menulis, dan diskusi.
4) Menyimak secara efektif, memahami, menguraikan, menafsirkan, dan mengingat apa yang diucapkan.
5) Membaca secara efektif, memahami, meringkas, menafsirkan atau menerangkan, dan mengingat apa yang telah dibaca.
6) Berbicara secara efektif kepada berbagai pendengar, berbagai tujuan, dan mengetahui cara berbicara secara sederhana, fasih, persuasif, atau bergairah pada waktu-waktu yang tepat.
7) Menulis secara efektif, memahami, dan menerapkan aturan-aturan tata bahasa, ejaan tanda baca, dan menggunakan kosakata yang efektif.
8) Memperlihatkan kemampuan untuk mempelajari bahasa lainnya.
9) Menggunakan keterampilan menyimak, berbicara, menulis, dan membaca untuk mengingat, berkomunikasi, berdiskusi, menjelaskan, mempengaruhi, mencipta- kan pengetahuan, menyusun makna, dan menggambarkan bahasa itu sendiri.
10) Berusaha untuk mengingatkan pemakaian bahasanya sendiri.
11) Menunjukkan minat dalam jurnalisme, puisi, bercerita, debat, berbicara, menulis atau menyunting.
12) Menciptakan bentuk-bentuk bahasa baru atau karya tulis orisinil atau komunikasi oral.

4.3 Peningkatan Keterampilan Menulis Melalui Strategi Multiple Intelligences
Keterampilan menulis pada dasarnya tidak terlepas dari tiga keterampilan berbahasa lainnya, yaitu menyimak, berbicara, dan membaca (Edelsky, 1991; Froese, 1990; Goodman, 1986; Weafer, 1992, dalam Santosa, 2004). Menulis didorong oleh kegiatan berbicara, membaca, dan menyimak. Menulis membawa ide-ide dari seseorang dengan tujuan dan makna yang berbeda. Siswa melalui bermacam kegiatan menulis, dapat mengembangkan perasaan audiens dan merasakan kegiatan menulis sebagai tindakan yang relevan yang terjadi di antara diri sendiri, orang lain, dan masyarakat.
Britton (1970) menyarankan para guru tentang pembelajaran menulis sebagai berikut.
1) Menulis secara mekanis
2) Menulis untuk informasi
3) Menulis untuk keperluan personal
4) Menulis untuk pengembangan imajinasi
Keempat model pembelajaran menulis sebagaimana disebutkan tersebut memberi peranan besar untuk melatih dan mengembangkan kecerdasan verbal-linguistik.Di samping itu, untuk meningkatkan kecerdasan verbal-linguistik dalam mengungkapkan gagasan secara tertulis, terdapat tiga model lain yang juga disarankan untuk diterapkan oleh para guru dalam pembelajaran bahasa aspek keterampilan menulis di kelas, yaitu:
1) Menuliskan dengan memanfaatkan musik/lagu.
2) Menulis berdasarkan potret lingkungan.
3) Menulis berdasarkan cerita rakyat yang didengar.

5. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memiliki kontribusi sebagai berikut.
1) Bagi guru, penelitian ini diharapkan memiliki kontribusi sebagai salah satu alternatif pemilihan model atau strategi pembelajaran yang dapat diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar di kelas. Di samping itu, penelitian ini juga diharapkan dapat terdata siswa-siswa yang memiliki bakat kecerdasan linguistik yang selanjutnya dapat dibina dan diarahkan agar siswa yang bersangkutan dapat mengembangkan bakatnya atau kecerdasannya secara maksimal.
2) Bagi siswa, peningkatan keterampilan menulis melalui penerapan strategi pembelajaran multiple Intelligencess diharapkan dapat memberikan motivasi kepada siswa untuk lebih mengembangkan kecerdasannya. Di samping itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menciptakan konsep kerja sama dan menumbuhkan kecintaan siswa untuk belajar.
3) Bagi LPTK, sebagai lembaga yang mendidik calon guru, baik calon guru Sekolah Dasar maupun calon guru sekolah menengah atau sekolah lanjutan, hasil penelitian ini dapat menjadi salah satu alternatif model pembelajaran dalam pembekalan mahasiswa yang memprogramkan Matakuliah Pengajaran Mikro karena model pembelajaran multiple Intelligencess merupakan salah satu model pembelajaran yang sangat efektif untuk diterapkan di sekolah. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan juga dapat menjadi salah satu referensi Matakuliah Strategi Belajar-Mengajar.

6. Metode Penelitian
1) Pendekatan Penelitian
Penelitian ini dapat digolongkan sebagai penelitian tindakan kelas (action research). Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Classroom Action Research (CAR), yaitu sebuah penelitian yang dilakukan di kelas. Kelas, dalam hal ini tidak terikat pada ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik. Kelas adalah sekelompok peserta didik yang sedang belajar.
PTK dilakukan dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelas. PTK berfokus pada kelas atau pada proses belajar-mengajar yang terjadi di kelas, dan bukan pada input kelas (silabus, materi, dll.) ataupun output (hasil belajar). PTK harus tertuju atau mengenai hal-hal yang terjadi di dalam kelas (Depdiknas Dirjen PMPTK, 2007). Hasil penelitian tidak dimaksudkan untuk digeneralisasikan. Oleh karena itu, penelitian ini tergolong sebagai penelitian kualitatif. Secara kualitatif dapat dijelaskan bahwa penelitian ini (1) dilakukan pada setting alamiah, yaitu lingkungan kelas, (2) data penelitian lebih bersifat deskriptif dan data yang akan terkumpul berbentuk kata-kata sehingga tidak menekankan pada angka, (3) lebih mengarah pada proses daripada hasil, (4) analisis data dilakukan secara induktif, (5) peneliti merupakan instrumen kunci, dan (6) lebih menekankan pada makna (Sugiyono, 2005:10)

2) Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di SD Negeri 35 Kota Banda Aceh. Pemilihan SD Negeri 35 sebagai tempat penelitian ini didasarkan atas pertimbangan bahwa SDN 35 merupakan salah satu SD inti. SD inti merupakan merupakan SD yang sudah mendapat pengakuan dari Depdiknas setempat sebagai SD yang dinilai baik dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, memiliki guru-guru yang berkompeten, administrasi yang teratur, dan fasilitas belajar-mengajar yang lengkap. Sekolah inti juga merupakan sekolah percontohan atau sekolah imbas bagi sekolah-sekolah lainnya.

3) Data dan Sumber Data
Data penelitian ini adalah berupa perangkat pelaksanaan pembelajaran, konteks pembelajaran yang melibatkan guru dan siswa, fenomena kelas yang teramati dalam konteks pembelajaran, model-model pembelajaran menulis dengan strategi pembelajaran berbasis multiple Intelligencess yang diterapkan, dan hasil pembelajaran menulis baik sebelum penerapan strategi pembelajaran berbasis multiples Intelligencess maupun setelah penerapan model pembelajaran kooperatif.
Mengingat penelitian ini dilakukan secara kolaboratif, sumber data penelitian ini adalah peneliti, guru, dan siswa kelas V SDN 35 Kota Banda Aceh dalam konteks pembelajaran bahasa Indonesia di kelas. Di sisi lain, peneliti juga merupakan instrumen kunci (key instrument) dalam penelitian ini.

4) Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data penelitian ini direncanakan dilaksanakan dalam dua siklus.
Secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui pada setiap siklus, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Kegiatan pengumpulan data pada setiap siklus dapat digambarkan sebagai berikut.

(1) Siklus I
a) Perencanaan
a. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara kolaboratif antara peneliti dan guru kelas V SDN 35 Kota Banda Aceh.
b. Penyusunan instrumen tes awal.
c. Penyiapan media pembelajaran, LKS, dan instrumen pendukung lainnya untuk penerapan pembelajaran menulis dengan menggunakan musik/lagu sebagai media rangsangan untuk menulis.
d. Kegiatan pembelajaran pada siklus ini meliputi: mendengarkan musik/lagu melalui tape recorder kemudian siswa diminta mendata kosakata pada setiap bait lagu untuk dibuat sinonim kata, antonim kata, dan menuliskan bagian lirik yang paling berkesan dalam lagu yang diperdengarkan.

b) Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan dapat dikatakan tidak dapat dipisahkan dengan tahap pengamatan. Oleh karena itu, tahap pelaksanaan dan tahap pengamatan dilakukan secara bersamaan. Kegiatan penelitian pada tahap ini adalah sebagai berikut.
a. Melaksanakan tes awal dalam bentuk memperlihatkan sebuah gambar sebagai stimulus dan meminta setiap siswa menulis berdasarkan gambar yang diperlihatkan tersebut. Tes ini lebih dimaksudkan sebagai upaya pengenalan kemampuan siswa dalam menulis.
b. Memperdengarkan lagu melalui tape recorder kemudian meminta setiap siswa menuliskan kosakata-kosakata yang mereka ingat dari setiap bait lagu. Langkah berikutnya adalah menuliskan sinonim kata dan antonim kata dari lagu setiap kosakata yang mereka data melalui lagu.
c. Setelah kegiatan menulis sinonim dan antonim kata selesai, kegiatan berikutnya adalah meminta setiap siswa menuliskan bagian dari bait lagu yang memberikan kesan mendalam baginya disertai dengan alasan-alasan yang logis.
d. Setiap data dalam proses kegiatan ini dicatat secara cermat dan didokumentasikan secara khusus sebagai bagian dari kegiatan pengamatan.

c) Refleksi
Refleksi dalam konteks PTK tidak lain adalah evaluasi. Setelah kegiatan pelaksanaan Jadi, satu siklus adalah dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan refleksi, yang tidak lain adalah evaluasi. Setelah kegiatan pelaksanaan dan pengamatan selesai, langkah berikutnya adalah melakukan tinjauan ulang terhadap keberhasilan dan kegagalan yang terjadi pada proses yang telah dilalui tersebut. Berdasarkan evaluasi atau refleksi itulah peneliti bersama guru mitra menyusun rancangan penelitian untuk siklus II. Rancangan penelitian pada siklus II sangat bergantung kepada data atau hasil yang didapat pada siklus I.

(2) Siklus II
Rencana pelaksanaan tindakan yang dipersiapkan untuk siklus II adalah memperdengarkan cerita. Cerita yang dipilih adalah cerita yang dipandang dekat dengan lingkungan anak, yaitu salah satu cerita yang bertemakan ketidakjujuran dalam bekerja dan memberi efek tidak baik terhadap diri sendiri. Dengan mengikuti petunjuk LKS, siswa diminta menuliskan tema, penokohan, alur cerita, dan amanat. Bentuk tulisan yang diharapkan dihasilkan oleh siswa adalah tulisan yang dijalin dalam bentuk paragraf naratif. Siswa diminta berimajinasi menulis ulang cerita dengan mengemukakan tema cerita, penokohan, alur cerita, dan amanat cerita. Pada siklus ini juga diterapkan model menulis terbimbing. Namun, rencana pelaksanaan tindakan pada siklus II ini sangat bergantung kepada hasil refleksi siklus I. Jadi, bentuk penelitian tindakan tidak pernah merupakan kegiatan tunggal, tetapi selalu harus berupa rangkaian kegiatan yang akan kembali ke asal, yaitu dalam bentuk siklus.
5 ) Analisis Data
(1) Analisis Data Kuantitatif
Data penelitian ini terdiri atas data yang berbentuk angka-angka dan data yang berbentuk deskripsi kata-kata. Data yang berbentuk angka yang diperoleh dari hasil tes (sesuai petunjuk LKS), diolah untuk mendapatkan nilai rata-rata (mean).
Langkah-langkah yang ditempuh dalam pengolahan data kuantitatif tersebut sebagaimana disarankan oleh Sudijono (2005:51) adalah sebagai berikut.
1) Menentukan range
2) Menentukan jumlah kelas
3) Menentukan lebar kelas
4) Menyusun table distribusi frekuensi
5) Menghitung nilai rata-rata dengan rumus:

Keterangan: x = skor rata-rata yang dicari
Fx = hasil perkalian antara F dan x
N = jumlah subjek

(2) Analisis Data Kualitatif
Terkait dengan data kualitatif dapat dijelaskan bahwa analisis data dilakukan dengan cara menata secara sistematis hasil pengamatan dan tindakan di kelas sehingga diperoleh sebuah deskripsi data yang utuh dan runtut. Analisis data kualitatif terdiri atas (a) analisis selama pengumpulan data dan (b) analisis setelah masa pengumpulan data.
Analisis data selama masa pengumpulan data dimaksudkan agar setiap temuan data tidak mudah terlupakan dan seandainya terdapat hal-hal yang kurang jelas bisa langsung dikonfirmasikan kembali dengan subjek penelitian. Selain itu, analisis ketika proses pengumpulan data dapat menghindari kemungkinan penumpukan data. Langkah-langkah analisis data pada masa pengumpulan data adalah sebagai berikut.
1) Merekam secara tertulis proses atau interaksi pembelajaran yang berlangsung pada penerapan strategi menulis berbasis mulptiple Intelligencess pada setiap siklus.
2) Menganalisis tanggapan guru dan siswa terhadap strategi pembelajaran yang diterapkan.
3) Menganalisis semua tulisan siswa yang dihasilkan pada setiap siklus.
4) Membuat dokumen portofolio.
5) Melakukan triangulasi dengan narasumber, yaitu guru, siswa, anggota tim peneliti, dan teman sejawat.
6) Melakukan pemilahan data sesuai dengan strategi pembelajaran yang diterapkan.

Analisis data setelah masa pengumpulan data selesai mengikuti langkah-langkah berikut.
1) Mempelajari kembali keseluruhan analisis yang dilakukan pada masa pengumpulan data.
2) Melakukan penambahan, pengembangan, dan perbaikan-perbaikan terhadap analisis yang telah dilakukan sebelumnya.
3) Menyusun simpulan sementara.
4) Melakukan pengkajian ulang terhadap keseluruhan hasil analisis dan triangulasi.
5) Penarikan simpulan akhir.

DAFTAR PUSTAKA
Britton, J. 1970. Language and Learning. Harmondsworth, England: Penguin.
BSNP. 2006. Standar Isi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: BSNP
Campbell, Linda. dkk. 2006. Metode Praktis Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligence. Depok : Intuisi Press.
Gardner, H. 1983. Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. N.Y: Basic Books.
Depdiknas. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdiknas.
Dirjen PMPTK Depdiknas. 2002. Pedoman Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Depdiknas.
Mulyasa, E. 2006. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif
dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Moleong, Lexy J. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nurhadi. dkk. 2004. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK. Malang: UNM 2004.
Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV Alfabeta.
Sudijono, Anas. 2005. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

semoga bermanfaat…….

BAHAN BELAJAR MANDIRI

Agar pembelajaran di KKG pada pembahasan prosedur Perencanaan ini berjalan dengan baik, guru peserta belajar di KKG sebaiknya membawa laporan tugas terstruktur dan hasil tugas terstruktur mengenai identifikasi masalah dan rumusan masalah yang akan dicari solusinya, serta kajian kritis.

1. PENGANTAR
Bahan Belajar Mandiri (BBM) dengan topik perencanaan ini merupakan tindak lanjut dari identifikasi masalah dari case study, lesson study, laporan hasil kerja siswa (LKS) atau pengamatan ketika proses pembelajaran berlang-sung yang dijadikan rumusan masalah, kemudian ditindaklanjuti dengan perencanaan pembelajaran yang diarahkan untuk memperbaiki persoalan yang telah dirumuskan sebelum penelitian tindakan kelas dilaksa-nakan (Lihat bahan ajar 1).
Perencanaan tersebut mencakup RPP, LKS, Instrumen penskoran yang akan digunakan dalam pembelajaran pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas IV,V, atau VI SD.
Agar kegiatan pembelajaran di KKG ini dapat berjalan dengan lancar, sebaiknya guru peserta membawa hasil dari tugas terstruktur dan tugas mandiri dari pertemuan sebelumnya.

a. Kedudukan Topik Perencanaan
Topik Perencanaan merupakan topik kesepuluh dari enambelas topik/materi yang harus dikuasai dalam proses belajar BERMUTU (Lihat bahan ajar 3). Topik ini merupakan tahap kedua dari enam langkah/tahap melaksanakan PTK (Penelitian Tindakan Kelas).

b. Pentingnya Topik Perencanaan
Dalam penelitian tindakan kelas, perencanaan pembelajaran dan perangkatnya merupakan hal yang penting karena menjadi pedoman untuk kegiatan yang akan dilaksanakan. Hal ini terkait dengan Permendiknas no.16 tahun 2007 mengenai kompetensi guru untuk mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu dan menyelenggarakan pembe-lajaran yang mendidik. Oleh karena itu, pengetahuan dan keterampilan yang terkait dengan penyusunan perencanaan pembelajaran harus dikuasai oleh guru peserta, seperti metode, strategi/teknik pembelajar-an, media/sumber belajar, materi ajar, dan penskoran (Lihat bahan ajar 2).
Di samping kompetensi tersebut, perencanaan dalam PTK dinyatakan pula kompetensi guru, yaitu melakukan tindakan refleksi untuk peningkatan kualitas pendidik-an.
Pada kegiatan prosedur perencanaan ini guru pemandu akan membantu guru peserta menyusun perencanaan dalam melaksanakan PTK berdasarkan rumusan masalah hasil identifikasi masalah yang telah dilaksana-kan dalam pertemuan sebelumnya. Perencanaan ini disesuaikan dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan standar isi berdasarkan kalender pendidikan yang sedang berjalan (Lihat bahan ajar 4).

c. Ruang Lingkup
Ruang lingkup pembahasan dalam topik perencanaan dapat mencangkup:
1) Aspek pengembangan kurikulum (mencakup analisis Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar dan Standar Isi).
2) Aspek penguasaan materi subjek (keterampilan berbahasa seperti, mendengarkan, berbicara, mem-baca, menulis, dan apresiasi sastra).
3) Aspek praktik pembelajaran (mencakup model pembelajaran, pendekatan, dan strategi/metode pembelajaran, media/sumber belajar, teknik-teknik assessment/penskoran dan instrumen penskoran).
4) Metodologi (metode, teknik pengumpulan data, jenis data yang akan dijaring, cara mengolah data, dan petugas pengumpulan data).

d. Petunjuk Kegiatan
1. Kegiatan di KKG
Kegiatan guru peserta dalam topik perencanaan ini akan meliputi brainstorming, diskusi kelompok untuk menentukan permasalahan yang akan dijadikan penelitian, mengidentifikasi SK, KD, dan standar isi yang akan dipergunakan untuk pemecahan masalah yang telah ditetapkan. Dari hasil analisis tersebut guru peserta menyusun perangkat pembelajaran Bahasa Indonesia SD kelas 4,5, dan 6 yang dilengkapi dengan skenario pembelajaran, media dan penskorannya serta menyusun data yang akan dijadikan PTK. Sebelum dipergunakan/dilaksanakan rencana ini dipresentasikan secara klasikal sehingga dapat dijadikan model pelaksanaan di kelas nanti dan dapat menjadi contoh untuk tugas individu.

2. Kegiatan Terstruktur dan Tugas Mandiri
Setelah kegiatan belajar (tatap muka) di KKG guru peserta melakukan beberapa kegiatan terstruktur serta tugas mandiri. Pada kegiatan ini guru peserta disiapkan untuk dapat melaksanakan rencana pembelajaran yang telah disusunnya serta dipergunakan untuk tatap muka selanjutnya di KKG.

2. KOMPETENSI DAN INDIKATOR
Kompetensi dan indikator yang ingin dicapai melalui pembelajaran perencanaan ini adalah sebagai berikut.
Kompetensi Indikator
Mampu menyusun rencana tindakan perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas IV, V, dan VI. 1. Menyusun rencana tindakan perbaikan pembelajaran.
2. Menentukan SK,KD, Indikator, media/sumber belajar, dan penskoran yang sesuai dengan rencana tindakan perbaikan pembelajaran berdasarkan rumusan masalah yang telah ditentukan.
3. Menyusun instrumen pengumpulan data.

3. PERSIAPAN
Agar pelaksanaan kegiatan diskusi di KKG berjalan lancar maka guru pemandu perlu mempersiapkan, se-bagai berikut.
a. Guru Pemandu mempelajari topik dan sumber belajar yang disarankan dan relevan.
b. Guru Pemandu menyiapkan bahan ajar yang diperlu-kan dalam sesi ini, papan tulis/kertas plano, kapur/ spidol, White board.
c. Guru Pemandu mempersiapkan bahan ajar, antara lain:
Bahan Ajar 1 Penjelasan umum kegiatan pembahasan topik perencanaan
Bahan Ajar 2 Kompetensi inti guru terkait dengan prosedur perencanaan
Bahan Ajar 3 Kedudukan prosedur perencanaan dalam urutan PTK
Bahan Ajar 4 Format silabus dan RPP
Bahan Ajar 5 Instrumen observasi pembelajaran
Bahan Ajar 6 Contoh format penskoran perencanaan

4. SUMBER BELAJAR
Sumber belajar 1 Standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia
Sumber belajar 2 Contoh model rencana pembelajaran membaca Bahasa Indonesia bagi guru di Sekolah Dasar
Sumber belajar 3 Metode Penelitian Pembelajaran Bahasa (Lihat sumber Belajar dalam web)

5. KEGIATAN BELAJAR
Alur Kegiatan Belajar

Penjelasan Alur Kegiatan
Kegiatan 1: Penjelasan tentang topik yang akan dipelajari sesuai hasil identifikasi dan mendiskusikan alternatif solusi pemecahan masalah yang telah ditetapkan serta menggali sumber belajar yang akan dipergunakan
Mengawali kegiatan dengan salam dan memberikan informasi mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan. Melalui tayangan (bahan ajar 1) guru pemandu menginformasikan kompetensi, indikator, kegiatan belajar yang akan dilakukan, dan hasil belajar yang diharapkan selama guru peserta mempelajari prosedur perencanaan. Selanjutnya guru pemandu memberikan kekuatan pentingnya proses perencanaan ini.
Guru pemandu mengkaji tugas mandiri mengenai identifikasi masalah (rumusan masalah) dan selanjut-nya pemandu memberikan penguatan serta membantu menentukan rencana tindakan perbaikan pembela-jaran. Kedudukan prosedur perencanaan dijelaskan guru pemandu melalui tayangan kedudukan prosedur indentifikasi masalah dalam pelaksaan PTK.
Guru Pemandu membagi kelas menjadi empat kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari lima orang. Setiap kelompok mengidentifikasi rumusan masalah dan memilih satu masalah yang akan diangkat menjadi penelitian tindakan kelas. Dilaksanakan selama 10 menit. Setiap kelompok melakukan pleno untuk mencari kesepakatan masalah yang akan ditindaklanjuti dalam PTK.

Kegiatan 2: Diskusi mengenai SK dan KD yang disesuaikan untuk pemecahan masalah yang telah ditetapkan dan menentukan skenario, pembelajaran yang sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan
Setiap kelompok mempresentasikan hasilnya dan menyepakati satu rumusan masalah yang akan dijadikan PTK dalam proses pembelajaran BERMUTU. Berdasarkan proses tersebut setiap guru peserta yang terlibat dalam kelompok pembelajaran ini diwajibkan mendapatkan masalah yang akan djadikan PTK untuk laporan individu guru peserta tersebut (lihat tugas mandiri dan terstruktur yang sebelumnya).
Setelah ada kesepakatan masalah dirumuskan dan disepakati untuk diteruskan menjadi PTK yang akan dibahas bersama. Perlu diinformasikan bahwa prosedur perencanaan yang akan dipelajari pada pertemuan kali ini akan menentukan keberhasilan pelaksanaan PTK dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Prosedur perencanaan ini tidak hanya terfokus dalam penyusun-an RPP saja, tetapi juga pada kemampuan guru peserta dalam menganalisis alternatif pemecahan masalah dan mengembangkan alternatif tindakan yang akan dilaku-kan berdasarkan akar penyebab masalah yang telah disepakati untuk dibahas bersama (Lihat bahan ajar 4).
Guru peserta dibantu pemandu mendiskusikan bersama untuk menentukan SK dan KD (lihat lampiran 1) yang tepat sesuai rencana tindakan yang akan dilakukan. Kemudian dilanjutkan dengan menentukan standar isi dan indikator untuk dijadikan RPP.

Kegiatan 3: Menyusun perangkat pembelajaran Bahasa Indonesia yang meliputi, RPP, media pembelajaran, bahan ajar, dan instrumen penskoran
Berdasarkan SK dan KD, guru peserta dalam 4 kelompok, masing-masing kelompok mendiskusikan (1) strategi/teknik pembelajaran yang sesuai dengan tindakan yang dilakukan; (2) memilih/menentukan media/sumber belajar, (3) metode/teknik, (4) menyusun penskoran yang sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan (Lihat bahan ajar 2,4 dan 6).
Hasil dari kelompok kecil dipresentasikan untuk menyepakati tindakan pelaksanaan yang akan dilaku-kan oleh guru model di kelas sebenarnya, kemudian diskusi klasikal guru menyusun RPP yang akan dipergu-nakan dalam praktik pembelajaran di kelas (open class).

Kegiatan 4: Menentukan metode, teknik pengumpulan data, instrumen yang akan digunakan dalam pengumpulan data, dan jenis data yang akan dijaring terkait dengan masalah yang akan dicari solusinya
Setelah RPP tersusun, kelas dibagi kembali dalam 4 kelompok, Setiap kelompok mendiskusikan (1) penentuan metode yang akan dipergunakan, (2) teknik pengumpulan data yang akan dilakukan selama proses pembelajaran tersebut, (3) instrumen yang akan digu-nakan dalam pengumpulan data, dan (4) penentuan jenis data yang akan dijaring.
Seluruh kelompok berkumpul kembali untuk mempre-sentasikan dan menyamakan pendapat tentang PTK yang akan dilaksanakan dan menentukan siapa guru model yang akan mempraktikkan model tersebut.

Kegiatan 5: Menyusun Instrumen pengumpulan data terkait dengan observasi terhadap guru peserta dan siswa dalam pelaksanaan Pembelajaran
Tugas penyusunan instrumen dibagikan pada kelompok (kelompok disesuaikan dengan banyaknya instrumen yang akan dibuat). Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi dan pemandu memberikan penguatan.

Kegiatan 6: Mempersiapkan tindak lanjut untuk kesempurnaan perencanaan
Guru Pemandu meminta salah seorang guru peserta untuk merangkum hal-hal yang telah dipelajari dan disepakai untuk ditindaklanjuti pada pertemuan beri-kutnya.
Guru Pemandu memberikan kesempatan kepada guru peserta untuk mengerjakan tugas terstruktur yang harus dikerjakan.

6. PENSKORAN
Penskoran terhadap pencapaian hasil belajar guru peserta dilakukan pada saat proses pembelajaran dan dari produk kegiatan belajar. Penskoran terhadap guru peserta dalam proses belajar dapat mencakup aspek afektif, misalnya: keaktifan dalam diskusi, kontribusi dalam diskusi, kesungguhan mengikuti kegiatan. Instrumen asesmen yang digunakan untuk menskor aspek afektif menggunakan non tes. Produk yang dapat diskor adalah: silabus, perangkat pembelajaran yang mencakup RPP, LKS/bahan ajar, media pembelajar-an, instrumen penskoran, rencana metodologi. Pengumpulan data (metode, teknik, instrumen dan jenis data yang akan dijaring sesuai masalah dan tujuan) serta laporan tugas terstruktur. Produk peserta akan dilampirkan dalam portofolio peserta diskusi.

Catatan untuk Pendamping
a. Pastikan guru peserta menguasai cara mengembang-kan perangkat pembelajaran Bahasa Indonesia SD kelas tinggi yang mencakup silabus, RPP, LKS, instrumen penskoran, serta bahan ajar lainya yang diperlukan peserta.
b. Jika perlu berikan penguatan-penguatan bagi guru peserta yang masih memerlukan bantuan dalam penguasaan materi Bahasa Indonesia, model-model pembelajaran Bahasa Indonesia SD kelas tinggi, dan cara merancang pembelajaran Bahasa Indonesia SD kelas tinggi, pengembangan bahan ajar dan instrumen penskoran.
Gunakan sumber belajar yang relevan dan buat media pembelajaran (power point) saat tatap muka.

a. Tugas Terstruktur
1. Masing-masing guru peserta menyusun skenario pembelajaran dalam bentuk RPP berdasarkan rumusan masalah dan rencana tindakan yang akan dilakukan.
2. Masing-masing guru peserta menyiapkan sarana, media/sumber belajar dan penskoran yang dibutuh-kan untuk melaksanan pembelajaran seusai dengan RPP yang telah disusun.
3. Tetapkan tim kolaborasi, subjek dan lokasi peneliti-an, serta indikator keberhasilan yang ingin dicapai.
b. Tugas Mandiri
1. Buatlah analisis SK, KD, dan standar isi yang sesuai dengan rumusan masalah yang telah Anda buat!
2. Susunlah perangkat pembelajaran yang meliputi silabus, RPP!
3. Tentukan strategi, teknik, media, sumber belajar, dan penskoran pembelajaran yang akan dipakai dalam perangkat rencana pembelajaran!
4. Tentukan metode, teknik pengumpulan data, instrumen yang akan digunakan dalam mengumpul-kan data, dan jenis data yang akan dijaring terkait masalah pembelajaran yang akan dicari solusinya!
5. Susunlah instrumen pengumpulan data terkait dengan observasi pelaksanaan pembelajaran!

BAHAN AJAR
Bahan Ajar 1
PENJELASAN UMUM KEGIATAN PEMBAHASAN TOPIK PERENCANAAN
Kompetensi Indikator Kegiatan belajar Hasil belajar yang diharapkan
Keterampilan merencanakan pembelajaran Bahasa Indonesia di SD kelas tinggi 1. Menganalisis SK dan KD yang terdapat dalam standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia SD kelas tinggi dan memiliki keterkaitan dengan masalah; Diskusi kelompok Hasil analisis SK dan KD
2. Menentukan model pembelajaran Bahasa Indonesia yang cocok dengan SK dan KD yang memiliki keterkaitan; Diskusi kelompok Model belajar yang akan diterapkan dalam pembelajaran
3. Menyusun silabus pembelajaran Bahasa Indonesia SD kelas tinggi; Kerja kelompok Silabus yang akan dipergunakan dalam kegiatan pembelajaran di kelas yang akan dijadikan model
4. Menyusun perangkat pembelajaran Bahasa Indonesia yang meliputi RPP, media pembelajaran, bahan ajar, dan instrumen penskoran; Kerja kelompok menyusun RPP RPP yang akan dipergunakan dalam kegiatan pembelajaran di kelas yang akan dijadikan model
Keterampilan merencanakan metode dan teknik pengumpulan data Menentukan metode, teknik pengumpulan data, instrumen yang akan digunakan dalam mengumpulkan data, dan jenis data yang akan dijaring terkait masalah pembelajaran yang akan dicari solusinya; Kerja kelompok Adanya metode yang akan dipakai dalam pengumpulan data
Keterampilan merancang instumen obervasi pembelajaran Membuat instrumen pengumpulan data terkait dengan observasi pelaksanaan pembelajaran. Kerja kelompok Instrumen yaang akan dipergunakan dalam proses pembelajaran

Bahan Ajar 2
Tayangan 2: Kompetensi Inti Guru Terkait dengan Topik Perencanaan
No. Kompetensi Inti Kompetensi Guru Mata Pelajaran
3. Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu. 3.1 Memahami prinsip-prinsip pengembangan kurikulum.
3.2 Menentukan tujuan pembelajaran yang diampu.
3.3. Menentukan pengalaman belajar yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diampu.
3.4. Memilih materi pembelajaran yang diampu yang terkait dengan pengalaman belajar dan tujuan pembelajaran.
3.5. Menata materi pembelajaran secara benar sesuai dengan pendekatan yang dipilih dan karakteristik peserta didik.
3.6. Mengembangkan indikator dan instrumen penskoran.
4. Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik 4.1. Memahami prinsip-prinsip perancangan pembelajaran yang mendidik.
4.2. Mengembangkan komponen-komponen rancangan pembelajaran.
4.3. Menyusun rancangan pembelajaran yang lengkap, baik untuk kegiatan di dalam kelas, laboratorium, maupun lapangan.
10. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran 10.1. Melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan.
10.2. Memanfaatkan hasil refleksi untuk perbaikan dan pengembangan pembelajaran dalam mata pelajaran yang diampu.
10.3. Melakukan penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dalam mata pelajaran yang diampu.

Sumber: Permen no 16, 2007, Standar Kompetensi Guru Mata Pelajaran di SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK*

Bahan Ajar 3
Kedudukan topik Perencanaan dalam Urutan PTK

Bahan Ajar 4
Format Silabus
Nama Sekolah :
Mata Pelajaran :
Kelas/Semester :
Standar Kompetensi :
Alokasi Waktu :

Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Indikator Kegiatan Pembelajaran Penskoran Alokasi waktu Sumber/Alat/Bahan

Format RPP
Mata Pelajaran :
Kelas/Program :
Materi :
Alokasi Waktu :
Standar Kompetensi :
Kompetensi Dasar :
Indikator :

1. Tujuan Pembelajaran
2. Materi Pembelajaran
3. Kriteria Kelulusan Minimal (KKM)
4. Model/strategi/Pendekatan/Metode
a. Model
b. Strategi
c. Pendekatan
d. Metode
5. Langkah-langkah Pembelajaran

Pertemuan Rincian Kegiatan Waktu (menit)
I

Pendahuluan

Kegiatan Inti

Penutup

VI. Sumber/Alat Bantu
Sumber :
– buku teks
– buku Bahasa Indonesia untuk SD yang relevan
– Lembar Kerja Siswa

VII. Penskoran
Prosedur Penskoran
a. Penskoran Kognitif
Jenis : Pertanyaan lisan dan tulisan
Bentuk : Pilihan Ganda dan Uraian
b. Penskoran Afektif
Bentuk : Lembar pengamatan sikap siswa
c. Penskoran Psikomotor
Bentuk : Lembar observasi kinerja

Bahan Ajar 5
Format Instrumen Observasi Pembelajaran
LEMBAR OBSERVASI PEMBELAJARAN
Program – BERMUTU

Mata Pelajaran/Topik /
Kelas/Sekolah /
Nama Pengajar

TAHAP/ASPEK INDIKATOR HASIL OBSERVASI
KEGIATAN AWAL
Apersepsi dan motivasi

1. Apa yang dilakukan guru peserta untuk menggali pengetahuan awal atau memotivasi siswa?
2. Bagaimana respons siswa? Apakah siswa bertanya tentang sesuatu masalah terkait dengan apa yang disajikan guru peserta pada kegiatan awal?

KEGIATAN INTI
Materi ajar:
3. Apakah guru peserta memberikan penjelasan umum tentang materi ajar atau prosedur kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa?
4. Bagaimana keterkaitan antara pembelajaran dengan realita kehidupan, lingkungan dan pengetahuan lainnya?

Pengelolaan sumber belajar/media 5. Apakah guru peserta terampil dalam memanfaatkan dan mampu memanipulasi media pembelajaran?
6. Bagaimana interaksi siswa dengan sumber belajar/media ?

Strategi pembelajaran 7. Apakah proses pembelajaran dilaksanakan dengan strategi yang sesuai secara lancar?
8. Apakah siswa dapat mengikuti alur kegiatan belajar?
9. Bagaimana cara guru memberikan arahan yang mendorong siswa untuk bertanya, berpikir dan beraktivitas?
10. Apakah siswa aktif melakukan kegiatan fisik dan mental (berpikir)? Berapa banyak siswa yang aktif belajar?

KEGIATAN PENUTUP

Penguatan/ konsulidasi 11. Bagaimana cara guru peserta memberikan penguatan, dengan mereviu, merangkum atau menyimpulkan?
12. Apakah guru peserta memberi tugas rumah untuk remidi atau penguatan?
Evaluasi 13. Bagaimana cara guru peserta melakukan evaluasi pembelajaran?
14. Bagaimana ketuntasan belajar siswa?
KOMENTAR OBSERVER** Keterlaksanaan skenario pembelajaran (berdasarkan RPP):

Pelajaran berharga yang dapat dipetik oleh observer:
Lain-lain:
**Mohon komentar dan masukan …..!

……………………, …………………….200 ,
Peninjau,

__________________________
Jabatan/Posisi:
Bahan Ajar 6
Lampiran 1:
CONTOH FORMAT PENSKORAN PERENCANAAN
Nama Guru : ………………………………….
Asal Sekolah : ………………………………….
No. Aspek Yang diskor (Indikator) Deskripsi Kompetensi Skor Keterangan
A B C D
1. Menyusun silabus (Produk yang dikumpulkan)
2. Menyusun RPP dengan menerapkan model pembelajaran yang berorientasi pada PAKEM (Produk yang dikumpulkan)
3. Merencanakan media belajar yang akan digunakan
4. Menyusun instrumen penskoran sesuai dengan indikator
5. Menentukan metode penelitian dan teknik pengumpulan data
6. Menyusun lembar observasi pembelajaran
7. Menentukan jenis data yang akan dijaring terkait dengan masalah yang akan dicari solusinya
Observasi aspek afektif
1. Keaktifan dalam diskusi
2. Kontribusi dalam diskusi
3 Kesungguhan mengikuti kegiatan
4 Tanggung jawab dalam melaksanakan tugas
5 Kemampuan bekerja sama dengan rekan sejawat
SUMBER BELAJAR
Sumber Belajar 1
STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR
Satuan Pendidikan : Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI)
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia

A. Latar Belakang
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.
Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.
Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia ini diharapkan:
1. Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;
2. Guru dapat memusatkan perhatian kepada pengemba-ngan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar;
3. Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya;
4. Orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah;
5. Sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia;
6. daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.

B. Tujuan
Mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemam-puan sebagai berikut.
1. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis.
2. Menghargai dan bangga menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara.
3. Memahami Bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.
4. Menggunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan social.
5. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
6. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Mendengarkan
2. Berbicara
3. Membaca
4. Menulis.
Pada akhir pendidikan di SD/MI, peserta didik telah membaca sekurang-kurangnya sembilan buku sastra dan nonsastra.

Kelas IV, Semester 1
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Mendengarkan penjelasan tentang petunjuk denah dan simbol daerah/lambang korps.
1.1 Membuat gambar/denah berdasarkan penjelasan yang didengar.
1.2 Menjelaskan kembali secara lisan atau tulis penjelasan tentang simbol daerah/lambang korps.
Berbicara
2. Mendeskripsikan secara lisan tempat sesuai denah dan petunjuk penggunaan suatu alat.
2.1 Mendeskripsikan tempat sesuai dengan denah atau gambar dengan kalimat yang runtut.
2.2 Menjelaskan petunjuk penggunaan suatu alat dengan bahasa yang baik dan benar.
Membaca
3. Memahami teks agak panjang (150-200 kata), petunjuk pemakaian, makna kata dalam kamus/ensiklopedi.
3.1 Menemukan pikiran pokok teks agak panjang (150-200 kata) dengan cara membaca sekilas.
3.2 Melakukan sesuatu berdasarkan petunjuk pemakaian yang dibaca.
3.3 Menemukan makna dan informasi secara tepat dalam kamus/ensiklopedi melalui membaca memindai.
Menulis
4. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dalam bentuk percakapan, petunjuk, cerita, dan surat.
4.1 Melengkapi percakapan yang belum selesai dengan memperhatikan penggunaan ejaan (tanda titik dua, dan tanda petik).
4.2 Menulis petunjuk untuk melakukan sesuatu atau penjelasan tentang cara membuat sesuatu.
4.3 Melengkapi bagian cerita yang hilang (rumpang) dengan menggunakan kata/kalimat yang tepat sehingga menjadi cerita yang padu.
4.4 Menulis surat untuk teman sebaya tentang pengalaman atau cita-cita dengan bahasa yang baik dan benar dan memperhatikan penggunaan ejaan (huruf besar, tanda titik, tanda koma, dll.)

Kelas IV, Semester 2
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
5. Mendengarkan pengumuman dan pembacaan pantun.
5.1 Menyampaikan kembali isi pengumuman yang dibacakan.
5.2 Menirukan pembacaan pantun anak dengan lafal dan intonasi yang tepat.
Berbicara
6. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dengan berbalas pantun dan bertelepon.
6.1 Berbalas pantun dengan lafal dan intonasi yang tepat.
6.2 Menyampaikan pesan yang diterima melalui telepon sesuai dengan isi pesan.
Membaca
7. Memahami teks melalui membaca intensif, membaca nyaring, dan membaca pantun.
7.1 Menemukan kalimat utama pada tiap paragraf melalui membaca intensif.
7.2 Membaca nyaring suatu pengumuman dengan lafal dan intonasi yang tepat.
7.3 Membaca pantun anak secara berbalasan dengan lafal dan intonasi yang tepat.
Menulis
8. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dalam bentuk karangan, pengumuman, dan pantun anak.

8.1 Menyusun karangan tentang berbagai topik sederhana dengan memperhatikan penggunaan ejaan (huruf besar, tanda titik, tanda koma, dll.)
8.2 Menulis pengumuman dengan bahasa yang baik dan benar serta memperhatikan penggunaan ejaan.
8.3 Membuat pantun anak yang menarik tentang berbagai tema (persahabatan, ketekunan, kepatuhan, dll.) sesuai dengan ciri-ciri pantun.

Kelas V, Semester 1
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Memahami penjelasan narasumber dan cerita rakyat secara lisan.
1.1 Menanggapi penjelasan narasumber (petani, pedagang, nelayan, karyawan, dll.) dengan memperhatikan santun berbahasa.
1.2 Mengidentifikasi unsur cerita tentang cerita rakyat yang didengarnya.
Berbicara
2. Mengungkapkan pikiran, pendapat, perasaan, fakta secara lisan dengan menanggapi suatu persoalan, menceritakan hasil pengamatan, atau berwawancara.

2.1 Menanggapi suatu persoalan atau peristiwa dan memberikan saran pemecahannya dengan memperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa.
2.2 Menceritakan hasil pengamatan/kunjungan dengan bahasa runtut, baik, dan benar.
2.3 Berwawancara sederhana dengan narasumber (petani, pedagang, nelayan, karyawan, dll.) dengan memperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa.
Membaca
3. Memahami teks dengan membaca teks percakapan, membaca cepat 75 kata/menit, dan membaca puisi.
3.1 Membaca teks percakapan dengan lafal dan intonasi yang tepat.
3.2 Menemukan gagasan utama suatu teks yang dibaca dengan kecepatan 75 kata per menit.
3.3 Membaca puisi dengan lafal dan intonasi yang tepat.

Menulis
4. Mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman secara tertulis dalam bentuk karangan, surat undangan, dan dialog tertulis.
4.1 Menulis karangan berdasarkan pengalaman dengan memperhatikan pilihan kata dan penggunaan ejaan.
4.2 Menulis surat undangan (ulang tahun, acara agama, kegiatan sekolah, kenaikan kelas, dll.) dengan kalimat efektif dan memperhatikan penggunaan ejaan.
4.3 Menulis dialog sederhana antara dua atau tiga tokoh dengan memperhatikan isi serta perannya.

Kelas V, Semester 2
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
5. Memahami cerita tentang suatu peristiwa dan cerita pendek anak yang disampaikan secara lisan.
5.1 Menanggapi cerita tentang peristiwa yang terjadi di sekitar yang disampaikan secara lisan.
5.2 Mengidentifikasi unsur cerita (tokoh, tema, latar, amanat).
Berbicara
6. Mengungkapkan pikiran dan perasaan secara lisan dalam diskusi dan bermain drama.
6.1 Mengomentari persoalan faktual disertai alasan yang mendukung dengan memperhatikan pilihan kata dan santun berbahasa.
6.2 Memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi, dan ekspresi yang tepat.
Membaca
7. Memahami teks dengan membaca sekilas, membaca memindai, dan membaca cerita anak.
7.1 Membandingkan isi dua teks yang dibaca dengan membaca sekilas.
7.2 Menemukan informasi secara cepat dari berbagai teks khusus (buku petunjuk telepon, jadwal perjalanan, daftar susunan acara, daftar menu, dll.) yang dilakukan melalui membaca memindai.
7.3 Menyimpulkan isi cerita anak dalam beberapa kalimat.
Menulis
8. Mengungkapkan pikiran, perasaan, informasi, dan fakta secara tertulis dalam bentuk ringkasan, laporan, dan puisi bebas.
8.1 Meringkas isi buku yang dipilih sendiri dengan memperhatikan penggunaan ejaan.
8.2 Menulis laporan pengamatan atau kunjungan berdasarkan tahapan (catatan, konsep awal, perbaikan, final) dengan memperhatikan penggunaan ejaan.
8.3 Menulis puisi bebas dengan pilihan kata yang tepat.

Kelas VI, Semester 1
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
1. Memahami teks dan cerita anak yang dibacakan.
1.1 Menulis hal-hal penting/pokok dari suatu teks yang dibacakan.
1.2 Mengidentifikasi tokoh, watak , latar, tema atau amanat dari cerita anak yang dibacakan.
Berbicara
2. Memberikan informasi dan tanggapan secara lisan.
2.1 Menyampaikan pesan/informasi yang diperoleh dari berbagai media dengan bahasa yang runtut, baik dan benar.
2.2 Menanggapi (mengkritik/memuji) sesuatu hal disertai alasan dengan menggunakan bahasa yang santun.
Membaca
3. Memahami teks dengan membaca intensif dan membaca sekilas.
3.1 Mendeskripsikan isi dan teknik penyajian suatu laporan hasil pengamatan/kunjungan.
3.2 Menanggapi informasi dari kolom/rubrik khusus (majalah anak, koran, dll.)
Menulis
4. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dalam bentuk formulir, ringkasan, dialog, dan parafrase.
4.1 Mengisi formulir (pendaftaran, kartu anggota, wesel pos, kartu pos, daftar riwayat hidup, dll.) dengan benar.
4.2 Membuat ringkasan dari teks yang dibaca atau yang didengar.
4.3 Menyusun percakapan tentang berbagai topik dengan memperhatikan penggunaan ejaan.
4.4 Mengubah puisi ke dalam bentuk prosa dengan tetap memperhatikan makna puisi.

Kelas VI, Semester 2
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Mendengarkan
5. Memahami wacana lisan tentang berita dan drama pendek.
5.1 Menyimpulkan isi berita yang didengar dari televisi atau radio.
5.2 Menceritakan isi drama pendek yang disampaikan secara lisan.
Berbicara
6. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi dengan berpidato, melaporkan isi buku, dan baca puisi.
6.1 Berpidato atau presentasi untuk berbagai keperluan (acara perpisahan, perayaan ulang tahun, dll.) dengan lafal, intonasi, dan sikap yang tepat.
6.2 Melaporkan isi buku yang dibaca (judul, pengarang, jumlah halaman, dan isi) dengan kalimat yang runtut.
6.3 Membacakan puisi karya sendiri dengan ekspresi yang tepat.
Membaca
7. Memahami teks dengan membaca intensif dan membaca teks drama.
7.1 Menemukan makna tersirat suatu teks melalui membaca intensif.
7.2 Mengidentifikasi berbagai unsur (tokoh, sifat, latar, tema, jalan cerita, dan amanat) dari teks drama anak.
Menulis
8. Mengungkapkan pikiran dan informasi secara tertulis dalam bentuk naskah pidato dan surat resmi.
8.1 Menyusun naskah pidato/sambutan (perpisahan, ulang tahun, perayaan sekolah, dll.) dengan bahasa yang baik dan benar, serta memperhatikan penggunaan ejaan.
8.2 Menulis surat resmi dengan memperhatikan pilihan kata sesuai dengan orang yang dituju.

D. Arah Pengembangan
Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator penca-paian kompetensi untuk penskoran. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penskoran perlu memper-hatikan Standar Proses dan Standar Penskoran.

Sumber Belajar 2
Silabus dan RPP
SILABUS
Nama Sekolah : Sekolah Dasar
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester : IV/1
Standar kompetensi : 1. Mendengarkan,
Mendengarkan penjelasan tentang petunjuk denah
dan symbol daerah atau lambang korps.

2. Berbicara,
Mendeskripsikan secara lisan tempat sesuai denah dan petunjuk penggunaan suatu alat.

3. Menulis,
Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dalam bentuk percakapan, petunjuk, cerita, dan surat.

Kompetensi
Dasar Materi
Pokok Indikator Pengalaman Belajar Penskoran Alokasi Waktu Sumber/
Bahan/ Alat
Membuat gambar/ denah berdasarkan penjelasan yang didengar. Denah sekolah 1. Mencatat hal-hal penting dari penjelasan
2. Membuat denah berdasarkan penjelasan yang didengar
a. Mendengarkan penjelasan tentang denah dengan cermat
b. Mencatat hal-hal penting dari penjelasan guru
c. Membuat denah berdasarkan penjelasan yang didengar Tes tertulis saat membuat denah
2X45 menit
Gambar/
denah
Mendeskripsi-kan tempat sesuai dengan denah atau gambar dengan kalimat yang runtut. Denah sekolah 1. Menjelaskan urutan perjalanan menuju tempat tertentu
2. Menjelaskan secara rinci satu tempat tertentu dalam denah dengan pilihan kata yang tepat dan kalimat yang runtut a. Menjelaskan tanda-tanda dalam denah (arah mata angin)
b. Menjawab pertanyaan tentang denah
c. Menjelaskan secara rinci urutan perjalanan menuju tempat tertentu dari suatu denah dengan kalimat yang runtut
d. Menjelaskan secara rinci suatu denah dengan kalimat yang runtut Kinerja: saat mendes-kripsikan denah

2X45 menit Denah/ gambar
Melengkapi bagian cerita yang hilang (rumpang) dengan menggunakan kata/kalimat yang tepat sehingga menjadi cerita yang padu. Cerita rumpang tentang suatu tempat Melengkapi bagian awal, tengah, atau akhir cerita yang hilang sehingga menjadi cerita yang utuhpadu a. Membaca dalam hati cerita rumpang
b. Mengisi cerita rumpang dengan kata yang tepat Tes tertulis 2X45 menit Cerita rumpang

Contoh RPP 1
RENCANA PERSIAPAN PENGAJARAN
Mata pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas Semester : IV/1
Pertemuan Ke : 1
Alokasi Waktu :
Standar Kompetensi : Mendeskripsikan secara lisan tempat sesuai denah dan petunjuk penggunaan suatu alat.
Kompetensi Dasar : Mendeskripsikan tempat sesuai dengan denah atau gambar dengan kalimat yang runtut.
Indikator : – Menjelaskan simbol-simbol dalam denah (arah mata angin, tempat umum)
– Menjelaskan secara rinci satu tempat tertentu dalam denah dengan kalimat yang runtut
I. Tujuan Pembelajaran:
– Siswa dapat memahami tanda/simbol dalam denah.
– Siswa dapat mencatat hal-hal penting yang akan dideskripsikan.
– Siswa dapat menjelaskan urutan perjalanan menuju tempat tertentu dengan kalimat yang runtut.

II. Materi Pokok : Denah sekolah/lingkungan
III. Metode : diskusi, modelling (pemodelan), dan penugasan
IV. Langkah-langkah Pembelajaran:
A. Kegiatan Awal
1. Siswa diajak bernyanyi lagu ”Naik-Naik ke Puncak Gunung”
2. Guru bertanya tentang tempat-tempat yang pernah dikunjungi siswa
Mis: nama dan tempat gunung, tempat pariwisata, dan rumah kerabat
3. Guru menanyakan hal lain, seperti jarak (jauh-dekat), bangunan/ tempat apa saja yang dilihat selama melewati tempat itu.

B. Kegiatan Inti
1. Guru menugaskan siswa mencermati denah sederhana tentang suatu tempat.
2. Guru menugaskan siswa mencermati dan mendiskusikan simbol-simbol dalam denah, misalnya arah mata angin (U = Utara, B = Barat, T = Timur, S = Selatan), rumah ibadah, tempat umum (rumah makan, pom bensin, dll).
3. Guru menugaskan siswa mencatat hal-hal penting dari denah yang akan dideskripsikan.
4. Guru menugaskan siswa mendeskripsikan denah berdasarkan hal-hal penting yang telah dicatat dengan menggunakan kalimat yang runtut.
5. Guru menanyakan kepada siswa lain tentang kejelasan pendeskripsian denah temannya.
6. Guru dan siswa mendiskusikan bagaimana cara mendeskripsikan denah secara jelas.

C. Kegiatan Penutup
Guru dan siswa merefleksikan hasil pembelajaran, yaitu manfaat mempelajari kompetensi ini.

V. Alat dan Sumber Belajar:
– contoh denah
– buku teks

VI. Penskoran

Format Penskoran Mendeskripsikan Denah

No. Aspek Skor
1. Keruntutan Kalimat
a. runtut
b. kurang runtut
c. tidak runtut
5
3
1
2 Keberanian
a. berani
b. malu-malu
c. takut
5
3
1

Contoh RPP 2
RENCANA PERSIAPAN PENGAJARAN
Pengantar : Model pembelajaran ini memberi kesempatan siswa untuk meningkatkan kemampuan membaca cepat dengan kebebasan untuk membentuk dan menentukan pikiran pokok bahan bacaan yang dibaca. Pendekatan pembelajaran ini ditujukan untuk lebih memberdaya-kan siswa melalui pendekatan Integratif, Contextual Teaching and Learning, dan Multiple Intelligence.
Mata pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas Semester : IV/1
Pertemuan Ke : 1
Alokasi Waktu : 2 x 35 menit
Standar Kompetensi : Memahami teks agak panjang (150-200 kata), petunjuk pemakaian, makna kata dalam kamus/ensiklopedi.
Kompetensi Dasar : 3.1. Menemukan pikiran pokok teks agak panjang (150- 200 kata) dengan cara membaca sekilas.
Indikator : – Menemukan pikiran pokok teks agak panjang dengan membaca sekilas.
– Menjelaskan pikiran pokok teks agak panjang dengan membaca sekilas.

I. Tujuan Pembelajaran:
1. Siswa dapat menjelaskan letak Bank yang terdekat dengan tempat tinggal mereka.
2. Siswa dapat memahami teks agak panjang.
3. Siswa dapat mencatat hal-hal penting dari bacaan yang dibaca.
4. Siswa dapat menjelaskan urutan pikiran pokok teks agak panjang dengan membaca sekilas.
II. Materi Pokok : Teks bacaan dengan muatan 150-200 kata
III. Metode : diskusi, tanya jawab, dan penugasan
IV. Langkah-langkah Pembelajaran
A. Kegiatan Awal
1. Siswa diajak bernyanyi lagu ”Menabung.”
2. Guru bertanya kepada siswa apakah mereka pernah ke Bank.
3. Bila pernah, benda apa saja yang pernah dilihat oleh mereka.
4. Guru menjelaskan kegiatan hari ini.
5. Bila benda tersebut berbentuk petunjuk apakah mereka baca?

B. Kegiatan Inti
1. Guru menugaskan siswa mencermati bacaan sederhana tentang hal yang berkaitan dengan menabung.
2. Guru menugaskan siswa membaca teks tersebut.
3. Guru menugaskan siswa mencatat hal-hal penting dari bacaan yang dibacanya.
4. Guru menugaskan siswa menjelaskan hal-hal penting yang telah dicatat dengan menggunakan kalimat yang runtut.
5. Guru menanyakan kepada siswa lain tentang kejelasan uraian dari siswa yang menjelaskan bacaan tersebut.
6. Guru dan siswa mendiskusikan bagaimana cara menjelaskan urutan pikiran pokok teks agak panjang dengan membaca sekilas.

C. Kegiatan Penutup
1. Guru dan siswa menimpulkan hasil pembelajaran.
2. Merefleksikan hasil pembelajaran.
3. Tindak lanjut siswa mencari yaitu manfaat mempelajari kemampuan ini.

V. Alat dan Sumber Belajar:
1. Contoh bacaan tentang menabung
2. Buku Bahasa Indonesia
3. Foto atau gambar Bank

VI. Evaluasi
Kriteria Penskoran Proses dalam pelaksanaan diskusi

Lembar Pengamatan Sikap
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester :
Waktu Pengamatan :
Kelompok Diskusi :
Kompetensi Dasar : Menjelaskan unsur-unsur instrinsik cerpen
No. Nama Siswa Aspek Jumlah
Skor Keterangan
1 2 3 4 5
1.
2.
3.
4.
5.

No Keterangan Skor Skor
Huruf Verbal
1. Keaktifan berdiskusi 8,5 – 10 A Sangat baik
2. Percaya diri 7,0 – 8,4 B Baik
3. Menghargai pendapat orang lain 5,5 – 6,9 C Cukup
4. Sopan dalam bertutur kata 4,0 – 5,4 D Kurang
5. Tidak memaksakan kehendak 0,0 – 3,9 E Sangat Kurang

Kriteria Penskoran Tes Tulis
Format pedoman penskoran untuk membaca cepat
No. Kunci/Kriteria jawaban/Aspek yang diskor Skor

Kecepatan Membaca
 300 kata/menit
250 – 299 kata/menit
200 – 249 kata/menit
 249 kata/ menit 1 – 10
10
5
2
1

Format pedoman penskoran untuk pemahaman bacaan
No. Kunci/Kriteria jawaban/Aspek yang diskor Skor
Ketepatan Menjawab
 75 % menjawab tepat
70% – 74% menjawab tepat
60% – 69% menjawab tepat
 60% menjawab tepat 5 – 10
10
7
6
5

Apabila ingin mengetahui kecepatan efektif membaca (KEM), dapat menghitung dengan format dan rumus berikut.

Format Penskoran Kecepatan Efektif Membaca
Kompetensi : Membacakan cepat dan pemahaman
Kelas/semester : XI/2
Tanggal ujian :

No. Nama Siswa Skor KEM
KM PI
1.
2.

Untuk mengukur kemampuan membaca cepat dan membaca pemahaman dapat dipergunakan rumus seperti berikut.

Contoh RPP 3

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Nama Sekolah : SD Negeri Kauman 1 Kota Malang
Kelas/Semester : 4/I
Hari/Tanggal : Senin,12 November 2007
Waktu : 2 x 30 menit (2 jam pelajaran)
Materi Pokok : Kalimat Percakapan

A. Standar Kompetensi: Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi secara tertulis dalam bentuk percakapan, petunjuk, cerita, dan surat.

B. Kompetensi Dasar: Melengkapi percakapan yang belum selesai dengan memperhatikan penggunaan ejaan (tanda baca titik dua, dan tanda petik).

C. Indikator:
 Siswa dapat membaca kalimat percakapan pada cerita dengan intonasi yang tepat.
 Siswa dapat menyusun percakapan berdasarkan kalimat percakapan pada cerita dengan memperhatikan penggunaan tanda baca titik dua (:) dan tanda petik (“…”).
 Siswa dapat melakukan percakapan secara berpasangan dari kalimat percakapan yang telah selesai disusun.

D. Hasil Belajar:
Kalimat percakapan yang telah selesai atau lengkap.

E. Metode Pembelajaran:
 Demonstrasi
 Pemodelan
 Diskusi
 Tanya-jawab
 Penugasan

F. Kegiatan Pembelajaran:
No. KEGIATAN PENGORGANISASIAN
SISWA WAKTU
1. Prakegiatan Klasikal 3 menit
a. Guru menyapa siswa, memeriksa kehadiran siswa, dan mengondisikan siswa siap belajar.
b. Guru menyiapkan media dan sumber (lembar teks, lembar kerja)
2. Kegiatan Awal Klasikal 5 menit
a. Guru melakukan apersepsi tentang materi pembelajaran.
– Apakah anak-anak pernah mendengar atau menyaksikan orang melakukan percakapan?
– Apa isi percakapan itu?
– Siapa yang dapat memberikan contoh percakapan?
b. Guru menginformasikan materi pembelajaran.
– Pada pembelajaran kali ini, kita akan mempelajari bagaimana menyusun kalimat percakapan berdasarkan cerita yang tersedia atau terlampir.
c. Guru menginformasikan tujuan pembelajaran.
– Melalui pembelajaran ini, kalian diharapkan dapat: (a) membaca kalimat percakapan pada cerita dengan intonasi yang tepat, (b) menyusun percakapan berdasarkan kalimat percakapan pada cerita dengan memperhatikan penggunaan tanda baca titik dua (:) dan tanda petik (“…”), serta (c) melakukan percakapan secara berpasangan dari kalimat percakapan yang telah selesai disusun. 3 menit

1 menit

1 menit
3. Kegiatan Inti 40 menit
a. Guru mengondisikan siswa siap mendengarkan pembacaan cerita.
b. Siswa membaca kalimat percakapan pada cerita dengan intonasi yang tepat:
– Siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang terdiri atas empat orang.
– Siswa mendengarkan pembacaan cerita dengan seksama.
– Siswa berinteraksi dengan guru di sela-sela pembacaan cerita.
– Siswa mengerjakan tugas yang diberikan guru melalui LKS yang disiapkan.
– Siswa dan guru membahas hasil karya siswa.
– Siswa memperoleh penguatan dari guru.
– Siswa menanyakan hal-hal yang belum dipahami berkaitan dengan intonasi pembacaan yang benar.

c. Siswa menyusun percakapan berdasarkan kalimat percakapan pada cerita dengan memperhatikan penggunaan tanda baca titik dua (:) dan tanda petik (“…”).
– Siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang terdiri atas empat kelompok.
– Siswa menyusun kalimat percakapan berdasarkan cerita bersama teman sekelompoknya.
– Siswa mendapat penguatan dari guru dan teman lainnya.

d. Siswa melakukan percakapan secara berpasangan dari kalimat percakapan yang telah selesai disusun.
– Kelompok siswa bergantian tampil melakukan percakapan di depan kelas.
– Siswa mendapat penguatan dari guru. Klasikal

Kelompok
Kelompok

Kelompok
Individual
Kelompok
Klasikal
Kelompok

Individual

Kelompok

Kelompok

Kelompok

Kelompok
Kelompok 1 menit

15 menit

15 menit

9 menit
4. Kegiatan Akhir
a. Dengan bimbingan guru, siswa menyimpulkan kegiatan pembelajaran hari itu.
b. Guru mengadakan evaluasi.
c. Guru dan siswa mengadakan refleksi terhadap pembelajaran hari itu.
d. Guru menugaskan siswa membuat kalimat percakapan berdasarkan kalimat percakapan orang tua di rumah sebagai tindak lanjut pembelajaran (dikerjakan di buku PR).
e. Guru menutup pembelajaran. Klasikal

Klasikal
Individual

Klasikal

Individual 12 menit

2 menit
7 menit

1 menit

2 menit

G. Pengukuran (Terlampir)
– Jenis tes : Tertulis
– Bentuk tes : Subjektif
– Alat : Tugas (LKS) dan soal tertulis, lembar penskoran,
serta kunci jawaban.
– Prosedur penskoran :
Penskoran proses : Pengamatan selama pembelajaran berlangsung
Penskoran hasil : LKS dan tes tulis pada akhir pembelajaran

H. Media dan Sumber Belajar
1. Media : Penggalan cerita, LKS, dan buku teks.
2. Sumber Belajar :
Depdiknas. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.

I. Rangkuman Materi (Terlampir)

Malang, 12 November 2007

Guru Pamong/Guru Kelas, Guru Praktik,

Mengetahui:

Kepala Sekolah, Dosen Pembimbing,

Lampiran 1 RPP 3
RANGKUMAN MATERI
BIDANG STUDI BAHASA INDONESIA
Penggalan Cerita

Lampiran 2 RPP 3
LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS)
MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA

 Kerjakan bersama teman kelompokmu dengan benar!
Setelah membaca cerita “Pemain Cadangan” tadi, coba lanjutkan kalimat percakapan sebagai berikut ini!
Pak Tomi : ”Jaga kesehatan kalian baik-baik, ya. Besok kita main berhadapan dengan Klub Pelita. Besok kalian datang sebelum pukul 9. Terutama kamu Angga.”
Angga : “Ya, Pak.”
Ibu : __________________________________________________
Willy : __________________________________________________
Ibu : __________________________________________________
Willy : __________________________________________________
__________________________________________________
__________________________________________________
Ibu : __________________________________________________
Willy : __________________________________________________
___________________________________________________
Ibu :___________________________________________________
Willy : __________________________________________________
___________________________________________________
Ibu : __________________________________________________
______________________________________________________________________________________________________

Willy : __________________________________________________
______________________________________________________________________________________________________
Ibu : __________________________________________________
_________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Lampiran 3 RPP 3
ALAT EVALUASI
MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA
Nama : ______________________
Kelas : ______________________
No. Absen : ______________________

Kerjakan seperti contoh!
Kalian harus rajin belajar, kata Pak Guru. Baik Pak, jawab anak-anak serentak.
Pak Guru : “Kalian harus rajin belajar.”
Anak-anak : “Baik, Pak.”

1. Ari, tolong kerjakan di papan tulis, pinta Pak Umar. Saya belum selesai, kata Ari sambil garuk kepala.
Pak Umar :______________________________________________
Ari : ______________________________________________

2. Siapa tokoh yang paling kamu senangi pada cerita tadi? tanya Pak Umar sambil menunjuk seseorang. Dengan lantang Udin menjawab, Ibu, Pak.
Pak Umar : ______________________________________________
Udin : ______________________________________________

3. “Mestinya, walau diturunkan pada menit-menit terakhir, kamu harus tetap semangat,” jawab Ibu. “Ah, Ibu. Buat apa main serius, kalau tim kita sudah kalah. Lagi pula, sepuluh menit itu, ‘kan, sebentar sekali, Bu,” jawab Willy protes.
Ibu : ______________________________________________
Willy : ______________________________________________

4. “Waktu menggantikan Dodi, apa kamu bermain serius?” tanya Ibu. “Buat apa main serius, Bu. Waktu itu, pertandingannya tinggal sepuluh menit,” jawab Willy ketus.
Ibu : ______________________________________________
Willy : ______________________________________________
5. Ibu bertanya kepada Willy, mengapa dia cemberut. “Willy tidak mau ikut latihan bola lagi!” jawabnya ketus sambil cemberut.
Ibu : ______________________________________________
Willy : ______________________________________________

Lampiran 4 RPP 3
LEMBAR EVALUASI
MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA
1. Penskoran Proses: penskoran proses dilakukan terhadap keaktifan, partisipasi, dan perhatian siswa saat: siswa membaca cerita, siswa menyusun kalimat percakapan, dan siswa membacakan hasil karyanya dengan menggunakan lembar observasi berikut.
2. Bubuhilah tanda cek (V) pada huruf B = Baik, S = Sedang, dan K = Kurang pada setiap aspek yang sesuai dengan nama siswa di bawah ini
No. NAMA ASPEK PENGAMATAN*
Ketepatan intonasi siswa saat membaca cerita Keseriusan siswa saat membuat kalimat percakapan Keberanian siswa menyampai-kan hasil pekerjaannya
B S K B S K B S K

Keterangan: B= Baik, S= Sedang, K=Kurang
KETERANGAN
Baik : Tepat intonasi pembacaannya – jarang terjadi kesalahan, serius dalam menyelesaikan tugas-tugasnya, serta berani tampil menyajikan hasil pekerjaannya, baik di kelompoknya maupun di depan kelas.
Sedang : Agak tepat intonasi pembacaannya – beberapa kali terjadi kesalahan, agak serius dalam menyelesaikan tugas-tugasnya, serta kurang berani tampil menyajikan hasil pekerjaannya, baik di kelompoknya maupun di depan kelas.
Kurang : Tidak tepat intonasi pembacaannya – sering sekali terjadi kesalahan, tidak serius dalam menyelesaikan tugas-tugasnya, serta tidak berani tampil menyajikan hasil pekerjaannya, baik di kelompoknya maupun di depan kelas.
Baik = 3, Sedang = 2, dan Kurang = 1
2. Penskoran Hasil: memberi skor pada hasil kerja siswa (jawaban LKS dan jawaban soal evaluasi) dengan menggunakan penyekoran sebagai berikut.
a. Untuk LKS: Jumlah skor maksimal 10, diperoleh dari:
Total Skor
Skor LKS =
Banyaknya SIswa

b. Skor alat evaluasi: Jumlah skor maksimal 10, dengan rincian: masing-masing soal diberi bobot 2.

Skor LKS + skor alat evaluasi (menjawab soal)
c. Skor hasil =
2

SKOR PROSES + SKOR HASIL
SKOR AKHIR =
2

BAHAN BELAJAR MANDIRI

Pembelajaran dengan topik identifikasi masalah ini berjalan baik bila guru peserta belajar di KKG memahami semua informasi yang diberikan dalam pembelajaran generik. Dalam hal ini, guru peserta memahami materi: (1) pengenalan proses pembe-lajaran BERMUTU, (2) pengenalan PTK, Lesson Study, dan Case study, dan (3) pelaksanaan PTK model BERMUTU. Pemahaman materi yang telah dibahas sebelumnya merupakan prasyarat untuk melaksanakan kegiatan selanjutnya.

1.PENGANTAR
Bahan Belajar Mandiri (BBM) ini ditujukan untuk guru pemandu yang akan memandu kegiatan pembelajaran di KKG sekolah dasar kelas tinggi mata pelajaran Bahasa Indonesia. Bahan Belajar Mandiri (BBM) ini akan melatih guru peserta untuk memperbaiki kinerja pembelajaran dan mengidentifikasi masalah sebagai dasar penyusunan rencana PTK.
Karena sebagai bahan untuk melatih guru peserta, dalam Bahan Belajar Mandiri (BBM) ini diberikan contoh bagaimana melakukan prosedur awal Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pada contoh ini, prosedur identifikasi masalah menggunakan salah satu case study yang disediakan sebagai sumber belajar (lihat lampiran).

a. Kedudukan Topik Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah merupakan topik kesembilan dari enam belas topik/materi yang harus dikuasai dalam proses Pembelajaran BERMUTU. Topik ini merupakan tahap pertama dari enam langkah/tahap melaksanakan PTK (Penelitian Tindakan Kelas).
Prosedur identifikasi masalah itu penting diikuti karena hal ini merupakan dasar untuk perbaikan kinerja guru peserta dalam pembelajaran. Jika guru peserta mampu mengidentifikasi masalah yang dihadapi dalam pembe-lajarannya, guru peserta akan mampu memperbaiki kompetensinya secara berkelanjutan. Jika guru peserta telah dapat mengidentifikasi masalah dengan baik, berarti guru peserta telah memulai perencanaan PTK.

b. Pentingnya Topik Identifikasi Masalah
Topik ini penting dipelajari karena keterampilan mengidentifikasi masalah akan membantu guru peserta dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan mutu proses dan hasil belajar yang diampu. Oleh karena itu, identifikasi masalah perlu dipahami dengan baik oleh para guru peserta. Tujuannya adalah agar guru peserta dapat memahami masalah-masalah dalam pembelajar-an mereka. Identifikasi masalah tidak hanya merupakan dasar untuk penelitian tindakan kelas, tetapi juga merupakan bagian dari kompetensi profesional yang harus dikuasai oleh guru peserta.
Untuk dapat memahami materi ini dengan baik, para guru peserta harus memahami materi: (1) pengenalan proses pembelajaran BERMUTU, (2) pengenalan PTK, Lesson Study, dan Case study, dan (3) pelaksanaan PTK model BERMUTU.

c. Ruang Lingkup
Pembahasan dalam topik ini adalah masalah yang terkait dengan konteks pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar kelas tinggi (kelas IV, V, dan VI). Prosedur identifikasi masalah dilaksanakan melalui studi kasus.
Masalah yang muncul melalui identifikasi masalah itu bisa mencakup aspek pengembangan kurikulum, penguatan materi, dan pelaksanaan pembelajaran.
Aspek pengembangan kurikulum mencakup (1) pemahaman tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia, (2) kemampuan menganalisis standar kompetensi dan kompetensi dasar, (3) pengembangan silabus, RPP, dan (4) sistem penilaian. Penguatan materi mencakup (1) pemahaman dan penguasaan terhadap empat keteram-pilan berbahasa, yaitu keterampilan menyimak, ber-bicara, membaca, dan menulis, serta apresiasi sastra dan kebahasaan. Pelaksanaan pembelajaran antara lain meliputi pemilihan strategi/model pembelajaran, pendekatan, metode, media pembelajaran, pengelola-an kelas, dan proses hasil belajar.

d. Petunjuk Kegiatan
Kegiatan guru peserta dalam topik identifikasi masalah ini dilaksanakan pada saat diskusi di KKG selama 4 jam (1 jam = 50 menit) . Kegiatan ini mencakup:
1. Kegiatan di KKG
1. Brainstorming (curah pendapat), yakni diskusi kelompok mengidentifikasi semua masalah. Dalam hal ini, guru peserta melakukan diskusi/curah pendapat mengenai permasalahan yang dihadapi ketika melakukan proses pembelajaran di kelas, contoh perangkat pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas IV, V atau VI Sekolah Dasar, hasil kerja siswa (LKS), atau hasil pengamatan ketika proses pembe-lajaran sedang berlangsung.
2. Diskusi kelas (klasikal). Hasil curah pendapat tersebut ditindaklanjuti dengan memilih salah satu case study untuk diidentifikasi.
3. Latihan (diskusi kelompok kecil). Guru peserta berlatih mengidentifikasi masalah, menganalisis masalah, dan merumuskan masalah berdasarkan case study yang telah mereka tentukan bersama.

2. Kegiatan Terstruktur dan Belajar Mandiri
Setelah kegiatan belajar (tatap muka) di KKG, guru peserta belajar di KKG melakukan beberapa kegiatan terstruktur serta belajar mandiri. Pada kegiatan ini guru peserta disiapkan untuk melaksanakan tugas ini sebagai bagian dari tatap muka selanjutnya di KKG. Tugas tersebut mencakup:
(1) Menyusun case study pembelajaran Bahasa Indonesia yang dialami oleh masing-masing guru peserta di kelasnya.
(2) Mendata masalah pembelajaran Bahasa Indonesia, kemungkinan penyebab, dan rumusan masalah oleh masing-masing guru peserta.
(3) Menyusun kajian kritis yang berkaitan dengan bidang studi Bahasa Indonesia.

2. KOMPETENSI DAN INDIKATOR
Kompetensi dan indikator yang ingin dicapai pada topik identifikasi masalah adalah sebagai berikut.
Kompetensi Indikator
Mengidentifikasi masalah-masalah dalam pembelajaran bahasa Indonesia, merumuskan masalah, dan mendeskripsikan faktor-faktor penyebab timbulnya masalah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas tinggi (kelas IV,V, dan VI). 1. Mampu mengidentifikasi masalah-masalah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
2. Mengklasifikasi masalah-masalah yang terkait dengan aspek pengembangan kurikulum, penguasaan materi, dan praktik pembelajaran melalui kajian case study dan lesson study.
3. Menganalisis faktor-faktor penyebab masalah.
4. Merumuskan masalah yang terkait dengan pembelajaran yang sudah diklasifikasikan.

3. PERSIAPAN
Untuk mempelajari topik identifikasi masalah diperlu-kan persiapan sebagai berikut.
a. Guru Pemandu mempelajari topik dan sumber belajar yang relevan serta mempelajari kegiatan belajar yang disarankan di KKG
b. Guru Pemandu menyiapkan alat dan bahan, misalnya:
1) papan tulis/kertas plano, kapur/spidol, White board,
2) format identifikasi masalah pembelajaran baha-sa Indonesia,
3) contoh-contoh studi kasus pembelajaran Bahasa Indonesia di SD kelas Tinggi,
4) contoh rekaman hasil pembelajaran Bahasa Indonesia, LCD, dan laptop (bila memungkinkan).
c. Guru Pemandu menyiapkan Bahan Ajar yang dilampirkan untuk sesi ini, yakni:

Bahan Ajar 1 Overview kegiatan dalam pertemuan identifikasi masalah
Bahan Ajar 2 Kedudukan prosedur identifikasi masalah dalam urutan PTK
Bahan Ajar 3 Daftar contoh masalah pembelajaran Bahasa Indonesia SD kelas IV,V,dan VI yang ditemukan guru
Bahan Ajar 4 Contoh pertanyaan untuk case study
Bahan Ajar 5 Contoh klasifikasi masalah
Bahan Ajar 6 Kaidah perumusan masalah (format identifikasi, analisis dan rumusan masalah)
Bahan Ajar 7 Contoh faktor-faktor penyebab munculnya masalah dan rumusan masalah
Bahan Ajar 8 Daftar pertanyaan refleksi

4. SUMBER BELAJAR
Sumber belajar 1 Contoh studi kasus dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas tinggi
Sumber belajar 2 Contoh rangkuman identifikasi masalah
Sumber belajar 3 Hylite Modul PTK (f)

5. KEGIATAN BELAJAR
Alur Kegiatan Belajar

Penjelasan Alur Kegiatan
Kegiatan 1: Penjelasan tentang topik yang akan dipelajari, kompetensi, indikator, kegiatan belajar, dan sumber belajar (10 menit)
Melalui tayangan PowerPoint, kegiatan belajar diawali dengan penginformasian topik, kompetensi, indikator, kegiatan belajar yang akan dilakukan, dan hasil belajar yang diharapkan setelah guru peserta mempelajari topik identifikasi masalah. Penginformasian dilanjutkan dengan pemberian penguatan tentang kedudukan identifkasi masalah dalam tahapan pelaksanaan PTK (Lihat Bahan Ajar 1 dan 2).
Guru Pemandu menanyakan tugas terstruktur yang telah dibuat, misalnya kesulitan yang dihadapi ketika menyusunan masalah tersebut dan menyarankan untuk melihat permasalahan dari contoh yang ada misalnya: case study, hasil belajar siswa, dan lain-lain.
Bahan Ajar yang digunakan: (a) Bahan Ajar 1: Overview kegiatan Pertemuan Identifikasi Masalah, (b) Bahan Ajar 2: Kedudukan dan pentingnya Prosedur Identifikasi Masalah dalam PTK.

Kegiatan 2: Curah pendapat tentang permasalahan yang dihadapi Guru Peserta dalam pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia SD Kelas Tinggi (20 Menit)
Guru pemandu mengelompokkan kelas menjadi empat kelompok, tiap kelompok terdiri atas lima orang. Pemandu memandu setiap kelompok untuk mengemu-kakan permasalahan yang pernah dialami dalam pembelajaran Bahasa Indonesia SD kelas tinggi. Setiap guru peserta dalam kelompok menyebutkan permasala-han yang pernah dialami. Setiap permasalahan ditulis-kan di papan tulis atau kertas plano.
Kegiatan brainstorming dilangsungkan selama 20 menit, guru pemandu meminta setiap kelompok mencermati permasalahan yang telah dikemukakan secara tertulis oleh kelompok lain. Lebih lanjut, pemandu meminta guru peserta pada setiap kelompok untuk menelaah daftar masalah yang sudah teridentifi-kasi dan melakukan pemilahan mana masalah yang benar-benar merupakan masalah penting dalam pem-belajaran Bahasa Indonesia SD kelas tinggi (Lihat Bahan Ajar 3).
Kegiatan 3: Diskusi kelompok mengkaji Sumber Belajar (Case study) untuk berlatih mengidentifika-si masalah, merumuskan masalah, dan penentuan sumber masalah (80 Menit)
Setelah para guru peserta memiliki persepsi yang sama mengenai makna masalah dan rumusan masalah, mereka diminta untuk berlatih mengidentifikasi masalah dari pengalaman pembelajaran orang lain yang dituangkan dalam bentuk case study (Lihat Bahan Ajar 4 dan 5). Case study yang diminta untuk diidentifikasi permasalahannya adalah case study yang berjudul, “Saya Ingin Lebih Bersahabat dengan Mereka” dan “Mendengar Berita” (terlampir).
Para guru peserta diminta duduk berkelompok (5 orang per kelompok). Kepada setiap guru peserta dalam kelompok dibagikan teks case study. Secara individu mereka diminta membaca case study (membaca senyap), kemudian secara berkelompok, mereka menjawab pertanyaan yang terdapat dalam Bahan Ajar empat.
Setelah semua kelompok menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, langkah berikutnya adalah presentasi kelompok. Setiap kelompok diminta mempresentasikan hasil kerja kelompok dan kelompok lain menanggapi. Berdasarkan hasil diskusi, para guru peserta diminta memfokuskan diri terhadap pertanyaan nomor 3. Pertanyaan nomor 1, 2, 4, dan 5 juga penting agar para guru peserta mendapat gambaran yang lebih utuh tentang hakikat sebuah case study. Dari pertanyaan nomor 3 ini diharapkan guru peserta sudah dapat mengidentifikasi sejumlah masalah yang dihadapi oleh guru penulis case study. Lebih lanjut mereka diminta menganalisis faktor-faktor penyebab masalah dan menyusun rumusan masalah. Secara lebih spesifik, untuk menganalisis faktor-faktor penyebab masalah dan menyusun rumusan masalah, mereka diminta mengikuti panduan berikut.
1) Dari sejumlah masalah yang sudah teridentifikasi, misalnya tidak ada siswa yang mau berbicara ketika presentasi tugas kelompok dan pembelajar-an kurang melibatkan semua siswa, tuliskan faktor-faktor penyebab munculnya masalah tersebut.
2) Rumuskanlah masalah tersebut dalam bentuk kalimat tanya (Lihat Bahan Ajar 6 dan 7).

Kegiatan 4: Tanya jawab dan pemberian penguatan (40 menit)
Kegiatan berikutnya, setelah setiap kelompok meng-analisis faktor-faktor penyebab masalah dan menyusun rumusan masalah. Mereka diminta sharing (berbagi), menuliskan hasil kerja pada kertas plano, dan presentasi. Guru Pemandu mengomentari dan membe-rikan penguatan.

Kegiatan 5: Memilah permasalahan berdasarkan aspek pengembangan kurikulum, penguasaan materi subjek, dan praktik pembelajaran
Mintalah kepada setiap kelompok guru peserta untuk melihat kembali daftar masalah yang terindentifikasi dari kegiatan 2 dan 3. Mintalah mereka mengklasifikasi-kannya kembali dalam aspek pengembangan kurikulum, materi subjek, dan pelaksanaan pembelajaran.
Guru peserta mengklasifikasikan masalah ke dalam sumber masalah dalam pembelajaran (pengembangan kurikulum, materi subjek, dan pelaksanaan pembela-jarn). Hasil diskusi dituangkan dalam format identifikasi dan rumusan masalah. Berdasarkan hasil identifikasi masalah dan rumusan masalah dicarikan faktor-faktor penyebabnya (lihat Bahan Ajar 5,6 dan 7).

Kegiatan 6: Merangkum hasil belajar dan pemberian tugas mandiri
Membuat rangkuman hasil belajar pertemuan itu dan memberikan tugas mandiri: menyusun Case study hasil pembelajaran sendiri. Dari Case study yang disusun tersebut, mereka diminta mengidentifikasi masalah yang terungkap di dalamnya.

Kegiatan 7: Penutup
Sebagai penutup kegiatan, semua guru peserta secara berkelompok atau berpasangan memberikan informasi hasil tugas terstruktur dan tugas mandiri yang telah dilakukan untuk diberi masukan dari teman sejawat guna mendapatkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan (Lihat Bahan Ajar 8).

6. PENILAIAN
Penilaian terhadap pencapaian hasil belajar guru peserta dilakukan pada saat proses pembelajaran dan produk kegiatan belajar. Penilaian proses mencakup aspek afektif, misalnya: keaktifan dalam diskusi, dan kontribusi dalam diskusi, kesungguhan mengikuti kegiatan. Instrumen penilaian yang digunakan untuk menilai aspek afektif menggunakan non tes. Produk mencakup: laporan tugas terstruktur berupa daftar identifikasi masalah, rumusan masalah pembelajaran, data atau deskripsi kondisi penyebab timbulnya masalah. Produk guru peserta akan dilampirkan dalam portofolio peserta diskusi.

a. Tugas Terstrukur
Hasil akhir yang diharapkan dari tugas ini adalah guru peserta dapat menulis narasi pembelajaran/case study dan menemukan masalah pembelajaran melalui analisis ter-hadap case study yang ditulisnya
Informasikan Tugas Terstrukur yang harus dikerjakan guru peserta sesuai dengan langkah yang disusun di dalam Pengantar. Guru pemandu mengingatkan guru peserta dengan membaca tugas bersama:
1) Mintalah teman sejawat untuk mengobservasi pembelajaran Anda pada pertemuan yang telah disepakati. Bergabunglah dengan teman sekelompok Anda (sekolah berdekatan). Lakukan observasi juga ketika teman Anda mengajar.
2) Ketika teman sejawat mengajar. buatlah catatan-catatan lapangan, kemudian identifikasikan fenomena pembelajaran yang muncul, masalah, dan rumusan masalah pembelajaran.
3) Kumpulkanlah dokumen hasil belajar siswa Anda (dari ulangan harian, tugas-tugas, atau LKS yang sudah terisi).
4) Komentar hasil pengamatan Anda, berikan kepada guru peserta yang berpraktik mengajar setelah kegiatan praktik mengajar selesai.
5) Setiap guru peserta diminta menulis pengalaman pembelajarannya dalam bentuk case study.
6) Guru peserta diminta mendaftar masalah-masalah pembelajaran yang mereka temukan dalam case study hasil pembelajaran yang mereka alami sendiri.
7) Tulislah penyebab timbulnya masalah tersebut
8) Rumuskanlah satu masalah yang dapat diangkat menjadi masalah PTK.

Kajian Kritis (1)
1) Bacalah dengan cermat case study ”Saya Ingin Lebih
Bersahabat dengan Mereka” dan “Mendengar Berita”
2) Analisislah kedua case study tersebut dengan
menjawab pertanyaan berikut.
(1) Apa sajakah persiapan guru peserta sebelum pembelajaran di kelas?
(2) Deskripsikanlah kegiatan pembelajaran dalam Case study tersebut (a) kegiatan awal, (b) kegiatan inti, dan (c) kegiatan penutup!
(3) Bagaimanakah perilaku siswa dalam pembela-jaran?
(4) Daftarkanlah masalah/kegagalan guru/perilaku siswa yang terdapat dalam case study tersebut!
(5) Pilihlah salah satu masalah dari daftar masalah yang Anda susun, kemudian tulislah solusi yang akan Anda tempuh untuk mengatasi masalah tersebut.
(6) Tulislah masalah beserta solusinya tersebut dalam bentuk rumusan masalah yang dapat ditindaklanjuti melalui PTK.

Kajian Kritis (2)
Guru peserta diminta mempelajari materi penelitian tindakan kelas dalam Sumber Belajar
Setelah Anda membaca materi tentang PTK sebagai-mana disarankan, kerjakanlah tugas berikut!
1) Tuliskan pemahaman Anda tentang PTK!
2) Mengapa PTK penting dilakukan oleh seorang guru?
3) Berdasarkan pengalaman Anda sebagai guru peserta tentu Anda sering dihadapkan pada permasalahan-permasalahan pembelajaran. Tulislah masalah-masalah pembelajaran yang pernah Anda alami. (permasalahan dimaksud dapat mencakup pema-haman terhadap kurikulum, Bahan Ajar, dan praktik pembelajaran)
4) Pilihlah dari daftar masalah yang sudah Anda buat satu masalah yang dipandang paling esensial untuk dicari pemecahannya.
5) Tulislah solusi yang akan Anda tempuh untuk mengatasi masalah dimaksud!
6) Buatlah rumusan masalah terhadap masalah tersebut!

b. Tugas Belajar Mandiri
Untuk mengecek kemampuan guru peserta dalam mengidentifikasi masalah, guru pemandu dapat menunjuk Sumber Belajar case study, Hasil kerja siswa, atau lesson study. Tugas tersebut sebagai berikut:
1. Mintalah guru peserta memilih Case study yang menarik bagi mereka (case study terlampir).
2. Membaca serta menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan dalam sesi ini.
3. Mengklasifikasikan masalah.
4. Merumuskan masalah berdasarkan kaidah penulisan rumusan masalah.
5. Menulis hasil kerja untuk ditindaklanjuti pada per-temuan berikutnya.
6. Guru pemandu juga mengingatkan para guru peserta tentang bacaan teoritis tentang identifikasi perencanaan dan kajian kritis yang perlu diselesai-kan.
7. Setelah memberikan tugas terstrukur, akhiri kegiat-an dan informasikan topik bahasan pertemuan minggu berikutnya yang akan dibahas, yaitu prosedur perencanaan.

BAHAN AJAR
Bahan Ajar 1
Overview Kegiatan dalam Pertemuan Identifikasi Masalah
Kompetensi Idikator Pencapaian Kompetensi Kegiatan Belajar Hasil yang Diharapkan
Mengidentifikasi masalah-masalah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, merumuskan masalah, dan mendeskripsikan faktor-faktor penyebab timbulnya masalah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kelas tinggi (kelas IV,V, dan VI). Mampu mengidentifikasi masalah-masalah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Curah pendapat (Brain storming) Daftar permasalahan dalam pemebalajaran Bahasa Indonesia
Mengklasifikasi masalah –masalah yang terkait dengan aspek pengembangan kurikulum. Diskusi Tabel klasifikasi masalah
Menuliskan proses pembelajaran melalui kajian case study dan lesson study. Kajian Case Study Tuliskan tentang proses pembelajaran melalui kajian case study dan lesson study
Merumuskan masalah yang terkait dengan pembelajaran yang sudah diklasifikasikan. Latihan Rumusan masalah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia

Bahan Ajar 2
Kedudukan Prosedur Identifikasi Masalah dalam Urutan PTK

Bahan Ajar 3
Daftar Contoh Masalah yang Ditemukan Guru Peserta
1. Jumlah siswa terlalu banyak dan ruang kelas kurang memadai.
2. Ketidaksiapan guru dalam membuat perencanaan khususnya model pembelajaran yang bervariasi.
3. Masih banyak siswa yang kurang berani mengajukan pertanyaan ketika proses pembelajaran sedang berlangsung.
4. Kurangnya pengetahuan dan minat guru dalam hal kesastraan sehingga sulit mendapatkan materi pem-belajaran.
5. Banyak siswa yang kurang bertanggung jawab terhadap tugas dan pekerjaan rumah yang diberikan.
6. Guru kurang menguasai strategi/model-model pem-belajaran menarik dan variatif.
7. Rendahnya motivasi siswa dalam belajar Bahasa Indonesia.
8. Masih banyak siswa yang tidak peduli akan hasil tulisannya (tata cara penulisan).
9. Bentuk tugas kurang menarik dan tidak menantang siswa untuk berpikir kritis dan kreatif.
10. Kurangnya waktu guru untuk memeriksa hasil kerja siswa khususnya dalam pembelajaran menulis.
11. Kurangnya kesadaran siswa untuk berbicara dangan bahasa yang baik dan benar.
12. Guru sulit mendapatkan sumber belajar berbentuk bacaan yang baru dan menarik.
13. Siswa tidak mau berbicara ketika harus mempresentasikan hasil kerja baik secara individu maupun kelompok.
14. Masih banyak siswa kesulitan mengekspresikan idenya dalam bentuk tulisan secara runtut.

Bahan Ajar 4
Contoh Pertanyaan untuk Case study
1. Pengalaman apa yang dapat Anda petik dari Case study?
2. Fakta-fakta apa yang terdapat di dalam Case study?
3. Apa sajakah kegagalan guru dalam Case study?
4. Apa sajakah keberhasilan guru dalam Case study?
5. Apa yang akan Anda lakukan seandainya Anda adalah guru penulis Case study itu?

Bahan Ajar 5
Contoh Klasifikasi Masalah
No. Sumber Belajar Masalah yang teridentifikasi Area permasalahan
Pengembangan kurikulum Materi subjek Praktik Pembelajaran
1. Pengalaman guru Siswa tidak mau bertanya 
2. Hasil kerja siswa . . . .
3. Study kasus dari teman sejawat Sulit mengaktifkan siswa berdiskusi 

Bahan Ajar 6
Kaidah Perumusan Masalah
1. Masalah hendaknya dirumuskan dengan jelas dan tidak menimbulkan makna ganda
2. Dituangkan dalam bentuk kalimat tanya
3. Rumusan masalah menunjukkan hubungan antara dua variabel
4. Rumusan menunjukkan secara eksplisit subjek dan atau lokasi penelitian

Bahan Ajar 7
Contoh Faktor-Faktor Penyebab Munculnya Masalah
Masalah Faktor-Faktor Penyebab Munculnya Masalah Rumusan Masalah
Siswa kelas V sulit mengekspresikan idenya dalam bentuk tulisan secara runtut
1. Kurangnya motivasi dari guru
2. Kurangnya kesempatan yang diberikan oleh guru pada siswa
3. Kurangnya kemampuan kebahasaan siswa
4. Siswa malas menulis
5. Sering mendapat ejekan dari teman ketika berbicara
6. Siswa malas menulis
7. Siswa lebih senang menonton TV atau bermain daripada mengerjakan tugas/PR. Apakah pemberian motivasi dari guru dapat meningkatkan hasil belajar menulis siswa di kelas V

Bahan Ajar 8
Daftar Pertanyaan Refleksi
1. Apa yang Anda pelajari pada pertemuan di KKG hari ini?
2. Bagian kegiatan belajar mana yang belum dipahami pada topik belajar hari ini?
3. Bagian kegiatan belajar mana yang paling Anda sukai? Mengapa?
4. Bagian kegiatan belajar mana yang paling tidak disukai? Apa alasannya?
5. Apakah cara belajar hari ini sudah tepat? Apa usulan Anda agar cara belajar pada pertemuan berikutnya lebih baik?

SUMBER BELAJAR
Contoh Studi Kasus 1
Saya Ingin Lebih Bersahabat dengan Mereka
Oleh Teuku Alamsyah

Pembelajaran di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah memiliki karakte-ristik tersendiri yang berbeda dengan pembelajaran di sekolah menengah dan tentu sangat jauh berbeda dengan pembelajaran di perguruan tinggi. Sebelum melaksanakan pembelajaran, saya sudah membayangkan akan berhadapan dengan anak-anak yang masih sangat lugu, masih banyak membutuhkan bimbingan dan arahan. Pengetahuan yang akan kita berikan kepada mereka adalah sesuatu yang sangat dasar yang akan menjadi bekal bagi mereka dalam mengikuti jenjang pendidikan berikutnya. Saya juga yakin bahwa kekeliruan yang dilakukan oleh seorang guru dalam pembelajaran di tingkat dasar ini akan memberikan dampak yang kurang baik bagi anak untuk jangka waktu yang sangat lama. Inilah dasar pemikiran saya bahwa pembelajaran di Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah bukanlah sesuatu yang dapat dianggap mudah.
Kamis, 24 Januari 2008, pukul 8.00 saya melaksanakan pembelajaran di kelas V SD Negeri 35 Kota Banda Aceh. Sesuai dengan isi silabus semester 2, saya mengajar Keterampilan Menyimak terintegrasi dengan Standar Kompeten-si: Memahami cerita tentang suatu peristiwa dan cerita pendek anak yang disampaikan secara lisan, dan Kompetensi Dasar: Mengidentifikasi unsur cerita (tokoh, tema, latar, dan amanat). Dua hari sebelum pembelajaran berlangsung, saya menyiapkan RPP dengan memilih teks cerita “Mahjubah si Pemalas”.
Awal saya berdiri di depan kelas, saya melihat wajah anak-anak yang polos menantikan sepatah kata pembuka dari saya. Terus terang waktu itu saya agak bingung bagaimana saya harus memulai. Bagaimana saya harus menyapa mereka. Hampir saja saya menyapa, “Saudara-saudara!” Namun, tentu saja itu tak jadi. Saya memilih sapaan, “Anak-anak kita bertemu kembali dalam pelajaran Bahasa Indonesia.” “Hari ini kita melanjutkan topik yang sudah pernah kita singgung pada pertemuan sebelumnya.” Ketika itu pula saya sadar telah melakukan ‘kebohongan’ karena kita memang belum pernah bertemu sebelumnya dalam konteks belajar-mengajar di kelas. Saya merasa mulai gugup. Namun, wajah polos anak-anak mengatasi kegugupan itu. Saya melanjutkan, “Anak-anak hari ini kita akan mendengarkan sebuah cerita yang berjudul “Mahjubah si Pemalas”. “Siapa di antara kamu yang tidak pernah mendengarkan cerita?” Tidak satu pun anak-anak menjawab. Saya melanjutkan, “Bapak yakin kamu semua pasti pernah mendengarkan cerita dan senang mendengarkan cerita.” (Semua anak duduk dalam kelompok yang tampaknya kelompok di kelas itu sudah permanen, satu kelompok 5 orang).
Saya membagikan fotokopi teks cerita. Kebetulan pada salah satu kelompok, teks yang saya bagikan berlebih dan serta-merta seorang anak mengembalikannya kepada saya sambil berujar, “Pak ini lebih, Pak.” “Oh, ya, terima kasih”. Pada konteks ini saya melihat nilai kejujuran pada anak. Pengetahuan saya tentang anak bertambah. Mereka benar-benar ‘anak manusia’ yang perlu mendapat didikan dengan benar.
Pembelajaran berlanjut. Setiap kelompok saya minta mengidentifikasi tokoh, tema, latar, dan amanat berdasarkan cerita yang mereka simak dan sekaligus mereka baca. Sebelum anak-anak bekerja dalam kelompok mengidentifikasi tokoh, tema, latar, dan amanat cerita, saya mengajukan pertanyaan, “Siapa yang pernah menonton film?” (beberapa anak mengangkat tangan). “Bagus!” “Tampaknya di kelas ini semua anak pernah menonton film!” “Film apa saja yang pernah kamu tonton? (kelas hening, tidak ada yang menjawab). “Memang, kalau kita banyak menonton film, banyak film yang kita lupa judulnya bukan?” “Tidak apa! Yang penting semua anak pernah menonton film!” “Sekarang coba kita ingat film India. Pernah nonton film India?” Dengan bersemangat semua anak menjawab, “Pernah, Pak!” “Iya, bagus!” Dalam film ada banyak pemain. Pemain film ini disebut juga tokoh. Dalam cerita yang kita baca juga begitu. Ada pelaku cerita yang lebih dikenal sebagai tokoh cerita. Jadi, dalam cerita ada tokoh utama dan tokoh pembantu. (saya menjelaskan perbedaan tokoh utama dan tokoh pembantu). Selain itu, dalam teks cerita seperti halnya film, juga ada tempat dan waktu berlangsungnya kejadian. Inilah yang dikenal sebagai latar. Tidak itu saja, setiap pengarang dalam ceritanya ingin mengemukakan suatu pokok persoalan kepada pembaca. Inilah yang dikenal sebagai tema. Menikmati sebuah cerita belumlah lengkap jika pembaca belum dapat memahami pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang. Pesan ini lebih dikenal sebagai amanat cerita dan biasanya disampaikan oleh pengarang tidak secara nyata. Tugas pembacalah menemukan sendiri pesan atau amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang. Dengan memahami alur, latar, tokoh dan penokohan, tema, dan amanat dalam cerita, cerita yang kita baca akan memberikan makna bagi kita dan memperkaya batin kita.
“Nah! Anak-anak silakan bekerja dalam kelompok mengidentifikasi tokoh, tema, latar, dan amanat dalam teks cerita ‘Mahjubah si Pemalas’.” (semua anak tampak bersemangat bekerja) Namun, pada saat presentasi tugas kelompok, saya mengalami kesulitan, yaitu tidak satu pun kelompok bersedia tampil memaparkan tugas yang sudah mereka selesaikan. Saya merasa mereka malu. Dengan gaya bahasa sedikit bernada pujian, saya membujuk mereka.”Anak-anak di kelas ini semuanya pinter. Semuanya mampu berbicara. Bercerita dan berbicara itu tidak jauh berbeda. “Silakan, Anak-anak!” Kita mulai dari kelompok I. Setelah dibujuk-bujuk, kelompok I tampil menempelkan hasil kerja kelompoknya di papan tulis dan memaparkannya atau lebih tepat membacanya. Saya berharap akan ada tanggapan dari kelompok lain (sebagaimana skenario pembelajaran yang sudah saya rancang dua hari sebelumnya). Harapan saya adalah harapan hampa. Tidak satu pun anak dari kelompok lain bersedia berkomentar dan ini tidak bisa dibujuk. Akhirnya, sharing dalam bentuk diskusi tidak bisa berlangsung hari itu.
Saya melanjutkan pembelajaran dengan meminta semua kelompok menempelkan tugas kelompoknya di papan tulis dan membacakannya. Setiap satu kelompok selesai membacakan hasil kerja kelompoknya, penghargaan yang diberikan adalah tepuk tangan dan saya merasa semua anak antusias bertepuk tangan. Selain itu, saya juga merasa bahwa tidak semua anak dalam kelompok berpartisipasi penuh terhadap pembelajaran. Beberapa anak terlihat wajahnya tanpa ekspresi dan saya merasa ada ‘ketidaknyamanan’ dalam batin saya. Saya menginginkan semua anak terlibat penuh dalam konteks pembelajaran.
Hal lain yang merupakan bagian dari ‘ketidaknyamanan’ saya adalah penggunaan papan tulis. Saya merasa tulisan saya di papan tulis yang cenderung berbentuk denah lebih tepat untuk konteks perkuliahan di perguruan tinggi daripada untuk anak SD (marilah kita mencermati berikut ini!).

Dari segi penggunaan bahasa, saya juga merasakan bahwa saya harus sangat lebih banyak belajar bagaimana seharusnya berbahasa dengan anak-anak. Berbahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak. Saya sangat tidak berharap anak SD akan ‘dewasa’ sebelum saatnya tiba. Mereka masih anak-anak dan biarlah tetap anak-anak. Biarlah mereka menikmati dunianya, dunia kanak-kanak dengan ragam bahasa kanak-kanaknya. Saya merasa bahasa saya cenderung tinggi untuk konteks pembelajaran di tingkat dasar.
Meskipun saya merasa tujuan pembelajaran atau target pembelajaran pagi itu 90% tercapai, masih ada ganjalan di benak saya ketika pembelajaran berakhir. Ganjalan itu antara lain adalah (1) Bagaimanakah seharusnya kita mengajar? (2) Apakah semua anak menikmati pembelajaran ini? (3) Apakah bahasa sapaan saya dalam bentuk “kamu”, “kalian” terhadap anak-anak akan membekas dalam jiwa mereka sebagai bentuk sapaan yang kurang bersahabat? (4) Apakah pembelajaran saya tentang cerita “Mahjubah si Pemalas” memberikan makna tersendiri bagi anak-anak? Namun, saya mengakhiri pembelajaran hari itu dengan sebuah senyum, sebuah senyum bahagia mendapat kesempatan bertemu anak-anak sekolah dasar karena saya pun pernah menjadi anak-anak.
Di penghujung pembelajaran, sebagai refleksi saya ajukan sebuah pertanyaan, “Bagaimana anak-anak pembelajaran hari ini dengan Bapak Guru yang baru?” Jawaban yang diberikan oleh seorang anak kiranya sangatlah patut untuk kita renungkan bersama, yaitu “Kami senang Pak, karena Bapak tidak marah-marah”. Sebuah jawaban yang cukup jujur tentunya.

Refleksi
Oleh Teuku Alamsyah
Saya merasa teramat lega setelah mengungkapkan secara tertulis semua yang saya rasakan ketika saya melaksanakan pembelajaran di kelas V SD. Ada sebuah tanya yang terus bergayut di dada, apakah semua anak yang ikut pembelajaran saya memahami dengan baik semua yang seharusnya memang mereka pahami hari itu? Kalaulah masih ada kesempatan, saya ingin melanjutkan lagi pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas V SD Negeri 35 Kota Banda Aceh untuk memastikan bahwa kehadiran saya di kelas mereka hari itu memberikan urunan yang berarti dalam pembekalan pemahaman nilai-nilai positif dalam cerita.
Masih segar dalam ingatan saya wajah tiga orang anak yang kurang ekspresif ketika pembelajaran berlangsung. Betapa andai bisa kembali, saya ingin lebih ‘bersahabat’ dengan mereka. Mengapa ekspresi anak-anak itu seperti kurang bergairah? Kita semua tentu berharap agar semua anak dapat mengikuti pembelajaran tanpa beban di luar konteks pembelajaran. Mungkin dalam hal ini saya terlalu emosional. Namun, inilah yang memang saya rasakan.
Pelajaran atau nilai yang dapat dipetik dari cerita “Mahjubah si Pemalas” adalah pembentukan perilaku anak agar mereka tidak melakukan atau mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan oleh Mahjubah. Sebuah konsep yang sederhana memang, tetapi memiliki makna yang dalam. Dengan kata lain, dalam cerita Mahjubah banyak terkandung nilai pendidikan, nilai moral, dan nilai agama yang cukup penting bagi anak-anak.
Refleksi anak-anak terhadap Mahjubah (hasil tugas PR) juga cukup beragam. Secara umum anak-anak mengatakan bahwa mereka senang membaca cerita Mahjubah. Mereka senang pada Mahjubah. Walaupun pada awal cerita Mahjubah gadis yang malas, pada akhir cerita Mahjubah telah berubah. Namun, terhadap pertanyaan Apa yang akan kamu lakukan seandainya kamu menjadi Mahjubah? Umumnya anak-anak menjawab mereka tidak ingin seperti Mahjubah. Kalaupun harus menjadi Mahjubah, mereka akan rajin membantu orang tua, rajin salat, dan pergi ke sekolah tepat pada waktunya.
Refleksi yang ditulis oleh anak-anak terhadap Mahjubah semakin melengkapi kebermaknaan kehadiran saya di kelas mereka. Saya mengoleksi tulisan mereka. Bagi saya, ungkapan anak-anak itu tentang Mahjubah adalah ungkapan kejujuran nurani. Akhirnya, saya menyadari sepenuhnya bahwa untuk menjadi guru, terutama guru Sekolah Dasar, diperlukan kompetensi yang memadai baik kompetensi akademik maupun kompetensi pedagogik.

Contoh Studi Kasus 2
Mendengar Berita
Oleh Fakriyah
Rabu, 23 Januari 2008, saya mengajar pelajaran Bahasa Indonesia di kelas VI. Selain di kelas VI, saya juga mengajar Bahasa Indonesia di kelas V. Di kelas VI, saya dipercayakan sebagai wali kelas. Siswa kelas VI berjumlah 28 orang dengan rincian: 12 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan. Sebagai wali kelas, yang tentunya dalam banyak hal saya memiliki kedekatan dengan mereka, saya berkesimpulan bahwa dalam konteks pembelajaran di kelas, hampir semua siswa kelas VI ini cenderung pendiam. Ketika dihadapkan pada kondisi menja-wab pertanyaan atau mengajukan pertanyaan, mereka cenderung menunjukkan sikap enggan dan malu.
Pembelajaran Bahasa Indonesia pada semua jenjang pendidikan terdiri atas empat aspek keterampilan, yaitu keterampilan mendengarkan/menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Rabu, 23 Januari 2008, jam I, saya mengajar Bahasa Indonesia dengan Standar Kompetensi aspek mendengarkan, yaitu memahami wacana lisan tentang berita dan drama pendek, dan Kompetensi Dasarnya adalah menyimpulkan isi berita yang didengar dari televisi atau radio. Tujuan pembelajarannya adalah anak dapat menyimpulkan isi berita yang didengar dari televisi atau radio. Dalam pembelajaran tersebut, saya menerapkan metode pembelajaran kerja kelompok.
Kegiatan awal yang saya lakukan adalah menanyakan kepada anak tentang, “Pernahkah kamu mendengar berita di televisi atau radio?” Siswa menjawab “Pernah, Bu!” “Nah, Anak-anak! Berita-berita yang kalian lihat dan dengar melalui televisi dan radio itu tentunya dapat kalian sampaikan lagi kepada orang lain, bukan?”
Selanjutnya, saya membagikan teks bacaan berita aktual kepada setiap kelompok. (semua siswa di kelas itu sudah dibagi menjadi lima kelompok. Pembagian kelompok ini dilakukan pada awal tahun pelajaran dan bersifat permanen. Artinya, kelompok-kelompok ini bersifat tetap selama duduk di kelas VI). Saya meminta salah seorang siswa membacakan teks tersebut dan siswa yang lain mendengarkannya.
Setelah itu, saya memberikan penjelasan kepada anak-anak bagaimana caranya kita menyimpulkan/mencatat pokok-pokok isi berita yang kita dengar di televisi dan radio. Setelah kita mendengar isi teks bacaan tersebut, yang harus kita lakukan adalah menyusun dulu beberapa pertanyaan, yaitu:
• Siapa yang diceritakan dalam berita tersebut?
• Apa yang mereka temukan?
• Di mana kejadian itu terjadi?
• Kapan kejadian itu terjadi?
• Apa yang dilakukan terhadap temuan itu?
Setelah memberikan penjelasan, saya memperhatikan wajah anak-anak. Dalam pandangan saya, anak-anak sepertinya sudah memahami penjelasan saya. Namun, saya tidak terlalu yakin karena masih terlihat beberapa anak berpura-pura mengambil pulpen untuk segera menulis. Selanjutnya, saya meminta anak-anak bekerja dalam kelompok masing-masing mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Saya memperhatikan anak-anak bekerja dalam kelompok. Teramati oleh saya beberapa orang anak seperti kurang bergairah dan kurang bersemangat dalam proses pembelajaran. Mereka tampak tidak bereaksi serius terhadap teks yang saya bagikan yang menjadi tugas mereka dalam kerja kelompok. Mereka lebih banyak diam dan tidak mempedulikan teks itu. Namun, ada juga beberapa orang anak yang tampak serius mencermati isi teks.
Sebelumnya, pada semester I, pelajaran mendengarkan isi berita sudah pernah diberikan. Akan tetapi, model pembelajaran yang saya terapkan waktu itu berbeda dengan model pembelajaran yang saya terapkan sekarang. Waktu itu, saya hanya meminta anak-anak menjawab soal-soal yang ada pada buku teks. Jawaban ditulis pada buku latihan masing-masing. Saya menyadari bahwa model pembelajaran yang demikian tidak bernuansa PAKEM. Jadi, dalam pembelajaran kali ini saya mencoba melakukan perubahan. Saya melaksanakan pembelajaran dengan membentuk kelompok. Siswa bekerja menyelesaikan tugas dalam bentuk kerja kelompok. Harapan saya, dengan kerja kelompok suasana kelas menjadi tampak lebih hidup. Anak-anak menjadi lebih bersemangat. Akan tetapi, usaha saya itu tidak membuahkan hasil yang maksimal. Suasana kelas tampak kaku dan jauh dari yang saya harapkan. Semua yang saya lakukan tidak mengubah suasana kelas yang kaku itu menjadi hidup. Timbul pertanyaan dalam batin saya, ”Apakah anak-anak bosan?”
Lebih lanjut, saya meminta setiap kelompok mempresentasikan/ membaca-kan hasil kerja kelompoknya di depan kelas. Setiap kelompok yang selesai membacakan hasil kerja kelompoknya, saya berikan tepuk tangan. Saya memperhatikan bahwa hanya beberapa orang anak yang mengikuti saya bertepuk tangan. Sebagian yang lain sepertinya bertepuk tangan pun terlihat enggan.
Pada saat kelompok 5 membacakan hasil kerja kelompoknya, siswa yang oleh kelompoknya ditunjuk sebagai pembaca, secara kebetulan salah dalam membaca teks berita. Akibatnya, dia ditertawakan oleh kelompok lain sehingga suasana kelas menjadi ribut. Saya menenangkan anak-anak agar kembali fokus pada pelajaran dan tidak boleh menertawakan teman yang salah. Saya mengatakan, “Jangan tertawa kalau teman salah membaca ya? Dia pasti tidak sengaja.”
Setelah itu, saya mengatakan kepada semua anak bahwa yang mereka bacakan di depan adalah pokok-pokok isi berita yang didengarnya tadi. Selanjutnya, saya menyuruh anak-anak menyimpulkan pokok-pokok berita tersebut ke dalam beberapa kalimat (menjadi satu alinea) di buku latihannya masing-masing.
Saya merasa puas terhadap pembelajaran hari itu karena tujuan pembelajaran yang saya harapkan tercapai meskipun hanya 90%. Namun, ada ganjalan di hati saya, “Mengapa anak-anak kurang bergairah, padahal saya sudah merancang kegiatan belajar-mengajar agar anak bergairah dalam mengikuti pelajaran.”

Refleksi Penulis Case study
Oleh Fakriyah, S.Pd.
Setelah saya membaca berulang-ulang narasi yang telah saya buat, saya dapat merefleksikan kembali bahwa di dalam proses belajar-mengajar yang saya lakukan pada hari Rabu itu kelihatan tegang, suasananya kaku, dan anak-anak tampak kurang bergairah. Mengingat kembali pembelajaran hari itu, ada ketidakpuasan dalam batin saya. Ada pertanyaan yang tidak/belum terjawab, “Mengapa sebagian besar siswa sepertinya kurang bersemangat dalam kerja kelompok? Mengapa mereka lebih banyak berdiam diri dalam kelompok?
Namun, saya mencoba berfikir bahwa saya sudah berusaha melakukan perubahan model pembelajaran dari model pembelajaran individu menjadi model pembelajaran kerja sama dalam kelompok. Tujuan saya adalah agar kelas tampak hidup dan tidak membosankan. Yang terjadi adalah di luar yang saya harapkan. Timbul pertanyaan di hati saya, “Apa yang menyebabkan anak-anak seperti kurang bergairah? Apakah anak-anak memahami penjelasan saya karena tujuan pembelajaran yang saya harapkan tercapai (hal ini dilihat dari tugas murid yang ada)?”

Komentar Pengamat
Oleh Usmida
Setelah saya mengamati Ibu Fakriyah mengajar, ada beberapa hal yang perlu disampaikan. Di dalam penyajian materi pelajaran, beliau sudah baik sehingga tercapai tujuan yang diharapkan. Akan tetapi, alangkah baiknya di dalam proses belajar mengajar, guru harus menggunakan multimetode sehingga tidak menimbulkan kekakuan di dalam kelas.
Guru harus bisa membuat suasana kelas lebih rileks supaya anak-anak jangan merasa ada beban.

BAB I
PENDAHULUAN

Setiap orangtua tentu berkeinginan agar anaknya dapat tumbuh kembang optimal, yaitu agar anaknya dapat mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang terbaik sesuai dengan potensi genetik yang ada pada anak tersebut. Hal ini dapat tercapai apabila kebutuhan dasar anak ( asah, asih, dan asuh ) terpenuhi. Kebutuhan dasar anak harus dipenuhi yang mencakup imtaq, perhatian, kasih sayang, gizi, kesehatan, penghargaan, pengasuhan, rasa aman / perlindungan, partisipasi, stimulasi dan pendidikan ( asah, asih dan asuh ). Kebutuhan dasar tersebut harus dipenuhi sejak dini, bahkan sejak bayi berada dalam kandungan.(5) Untuk itulah dalam perkuliahan ini akan dibahas mengenai pemantauan tumbuh kembang neonatus terutama pada pertumbuhan fisik pada neonatus baik BB dan TB dengan menggunakan Denver Development Stress Test (DDST).
Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup dua peristiwa yang sifatnya berbeda, tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembangan.
Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm,meter), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh); sedangkan perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan.
Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis (perubahan yang bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya, baik fisik maupun psikis dan merupakan satu kesatuan yang harmonis), progresif (perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan meluas, baik secara kuantitatif/fisik mapun kualitatif/psikis), dan berkesinambungan (perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan) dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya”. (Yusuf, 2003:15). Setiap individu akan mengalami proses perkembangan yang berlangsung melalui tahapan-tahapan perkembangan secara berantai.

BAB II
PEMBAHASAN

A. JANIN

Janin atau fetus, adalah mamalia yang berkembang setelah fase embrio dan sebelum kelahiran. Dalam bahasa Latin, fetus secara harfiah dapat diartikan “berisi bibit muda, mengandung”. Pada manusia, janin berkembang pada akhir minggu kedelapan kehamilan, sewaktu struktur utama dan sistem organ terbentuk, hingga kelahiran.

A.1. Proses Pembentukan Janin

Spermatogenesis merupakan peralihan dari bakal sel kelamin yang aktif membelah ke sperma yang masak serta menyangkut berbagai macam perubahan struktur yang berlangsung secara berurutan. Spermatogenesis berlangsung pada tubulus seminiferus dan diatur oleh hormone gonadtotropin dan testosterone.

Tahap pembentukan spermatozoa dibagi atas tiga tahap yaitu :

1. Spermatocytogenesis
Merupakan spermatogonia yang mengalami mitosis berkali-kali yang akan menjadi spermatosit primer. Spermatogonia merupakan struktur primitif dan dapat melakukan reproduksi (membelah) dengan cara mitosis. Spermatogonia ini mendapatkan nutrisi dari sel-sel sertoli dan berkembang menjadi spermatosit primer. Spermatosit primer mengandung kromosom diploid (2n) pada inti selnya dan mengalami meiosis. Satu spermatosit akan menghasilkan dua sel anak, yaitu spermatosit sekunder.

2. Tahapan Meiois
Spermatosit I (primer) menjauh dari lamina basalis, sitoplasma makin banyak dan segera mengalami meiosis I yang kemudian diikuti dengan meiosis II. Sitokenesis pada meiosis I dan II ternyata tidak membagi sel benih yang lengkap terpisah, tapi masih berhubungan sesame lewat suatu jembatan (Interceluler bridge). Dibandingkan dengan spermatosit I, spermatosit II memiliki inti yang gelap.

3. Tahapan Spermiogenesis

Spermiogenesis merupakan transformasi spermatid menjadi spermatozoa yang meliputi 4 fase yaitu fase golgi, fase tutup, fase akrosom dan fase pematangan. Hasil akhir berupa empat spermatozoa masak. Dua spermatozoa akan membawa kromosom penentu jenis kelamin wanita “X”. Apabila salah satu dari spermatozoa ini bersatu dengan ovum, maka pola sel somatik manusia yang 23 pasang kromosom itu akan dipertahankan.

Oogenesis merupakan sel-sel kelamin primordial mula-mula terlihat di dalam ektoderm embrional dari saccus vitellinus, dan mengadakan migrasi ke epitelium germinativum kira-kira pada minggu ke 6 kehidupan intrauteri. Masing-masing sel kelamin primordial (oogonium) dikelilingi oleh sel-sel pregranulosa yang melindungi dan memberi nutrien oogonium dan secara bersama-sama membentuk folikel primordial.

Folikel primordial mengadakan migrasi ke stroma cortex ovarium dan folikel ini dihasilkan sebanyak 200.000. Sejumlah folikel primordial berupaya berkembang selama kehidupan intrauteri dan selama masa kanak-kanak, tetapi tidak satupun mencapai pemasakan. Pada waktu pubertas satu folikel dapat menyelesaikan proses pemasakan dan disebut folikel de Graaf dimana didalamnya terdapat sel kelamin yang disebut oosit primer.

Oosit Primer merupakan Inti (nukleus) oosit primer mengandung 23 pasang kromosom (2n). Satu pasang kromosom merupakan kromosom yang menentukan jenis kelamin, dan disebut kromosom XX. Kromosom-kromosom yang lain disebut autosom. Satu kromosom terdiri dari dua kromatin. Kromatin membawa gen-gen yang disebut DNA.

A.2. Perkembangan Janin di Rahim

- Pembelahan
Pada manusia pembelahan terjadi secara holobastik tidak teratur. Dimana bidang dan waktu tahap-tahap pembelahan tidak sama dan tidak serentak pada berbagai daerah zigot. Awalnya zigot membelah menjadi 2 sel, kemudian terjadi tingkat 3 sel, kemudian tingkat 4 sel, diteruskan tingkat 5 sel, 6 sel, 7 sel, 8 sel, dan terus menerus hingga terbentuk balstomer yang terdiri dari 60-70 sel, berupa gumpalan massif yang disebut morula. Pembelahan atau segmentasi terjadi setelah pembelahan. Zigot membelah berulang kali sampai terdiri dari berpuluh sel kecil yang disebut blastomer. Pembelahan itu bias meliputi seluruh bagian, bias pula hanya sebagian kecil zigot. Pembelahan ini terjadi secara mitosis. Bidang yang ditempuh oleh arah pembelahan ketika zigot mengalami mitosis terus-menerus menjadi banyak sel, disebut bidang pembelahan.

Ada 4 macam bidang pembelahan yaitu meridian, vertical, ekuator dan latitudinal

1. Blastulasi dan Nidasi
Setelah sel-sel morula mengalami pembelahan terus-menerus maka akan terbentuk rongga di tengah. Rongga ini makin lama makin besar dan berisi cairan. Embrio yang memiliki rongga disebut blastula, rongganya disebut blastocoel, proses pembentukan blastula disebut blastulasi. Pembelahan hingga terbentuk blastula ini terjadi di oviduk dan berlangsung selama 5 hari. Selanjutnya blastula akan mengalir ke dalam uterus. Setelah memasuki uterus, mula-mula blastosis terapung-apung di dalam lumen uteus. Kemudian, 6-7 hari setelah fertilisasi embryo akan mengadakan pertautan dengan dinding uterus untuk dapat berkembang ke tahap selanjutnya. Peristiwa terpautnya antara embryo pada endometrium uterus disebut implantasi atau nidasi. Implantasi ini telah lengkap pada 12 hari setelah fertilisasi (Yatim, 1990: . Setelah tahap blastula selesai dilanjutkan dengan tahap gastrulasi. Gastrula berlangsung pada hari ke 15. Tahap gastrula ini merupakan tahap atau stadium paling kritis bagi embryo. Pada gastrulasi terjadi perkembangan embryo yang dinamis karena terjadi perpindahan sel, perubahan bentuk sel dan pengorganisasian embryo dalam suatu sistem sumbu. Kumpulan sel yang semula terletak berjauhan, sekarang terletak cukup dekat untuk melakukan interkasi yang bersifat merangsang dalam pembentukan sistem organ-organ tbuh. Gastrulasi ini menghasilkan 3 lapisan lembaga yaitu laisan endoderm di sebelah dalam, mesoderm disebelah tengah dan ectoderm di sebelah luar. Dalam proses gastrulasi disamping terus menerus terjadi pembelahan dan perbanyakan sel, terjadi pula berbagai macam gerakan sel di dalam usaha mengatur dan menyusun sesuai dengan bentuk dan susunan tubuh individu dari spesies yang bersangkutan.

2. Tubulasi
Tubulasi adalah pertumbuhan yang mengiringi pembentukan gastrula atau disebut juga dengan pembumbungan. Daerah-daerah bakal pembentuk alat atau ketiga lapis benih ectoderm, mesoderm dan endoderm, menyusun diri sehingga berupa bumbung, berongga. Yang tidak mengalami pembumbungan yaitu notochord, tetapi masif. Mengiringi proses tubulasi terjadi proses differensiasi setempat pada tiap bumbung ketiga lapis benih, yang pada pertumbuhan berikutnya akan menumbuhkan alat (organ) bentuk definitif. Ketika tubulasi ectoderm saraf berlangsung, terjadi pula differensiasi awal pada daerah-daerah bumbung itu, bagian depan tubuh menjadi encephalon (otak) dan bagian belakang menjadi medulla spinalis bagi bumbung neural (saraf). Pada bumbung endoderm terjadi differensiasi awal saluran atas bagian depan, tengah dan belakang. Pada bumbung mesoderm terjadi differensiasi awal untuk menumbuhkan otot rangka, bagian dermis kulit dan jaringan pengikat lain, otot visera, rangka dan alat urogenitalia.

3. Fetus/Janin
Tahap perkembangan janin dimulai pada bulan ke 3 sampai ke 10. Pada 6 bulan terakhir perkembangan manusia digunakan untuk meningkatkan ukuran dan mematangkan organ-organ yang dibentuk pada 3 bulan pertama. Pada saat janin memasuki bulan ke 3, panjangnya 40 mm. Janin sudah mempunyai sistem organ seperti yang dipunyai oleh orang dewasa. Pada usia ini genitalnya belum dapat dibedakan antara jantan dan betina dan tampak seperti betina serta denyut jantung sudah dapat didengarkan. Pada bulan ke 4 ukuran janin 56 mm. Kepala masih dominan dibandingkan bagian badan, genitalia eksternal nampak berbeda. Pada minggu ke 16 semua organ vital sudah terbentuk. Pembesaran uterus sudah dapat dirasakan oleh ibu. Pada bulan ke 5 ukuran janin 112 mm, sedangkan akhir bulan ke 5 ukuran fetus mencapai 160 mm. Muka nampak seperti manusia dan rambut mulai nampak diseluruh tubuh (lanugo). Pada yang jantan testis mulai menempati tempat dimana ia akan turun ke dalam skrotum. Gerakan janin sudah dapat dirasakan oleh ibu. Paru-paru sudah selesai dibentuk tapi belum berfungsi.
Pada bulan ke 6 ukuran tubuh sudah lebih proporsional tapi nampak kurus, organ internal sudah pada posisi normal. Pada bulan ke 7 janin nampak kurus, keriput dan berwarna merah. Skrotum berkembang dan testis mulai turun untuk masuk ke skrotum, hal ini selesai pada bulan ke 9. system saraf berkembang sehingga cukup untuk mengatur pergerakan fetus, jika dilahirkan 10% dapat bertahan hidup. Pada bulan ke 8 testis ada dalam skrotum dan tubuh mulai ditumbuhi lemak sehingga terlihat halus dan berisi. Berat badan mulai naik jika dilahirkan 70% dapat bertahan hidup. Pada bulan ke 9, janin lebih banyak tertutup lemak (vernix caseosa). Kuku mulai nampak pada ujung jari tangan dan kaki. Pada bulan ke 10, tubuh janin semakin besar maka ruang gerak menjadi berkurang dan lanugo mulai menghilang. Percabangn paru lengkap tapi tidak berfungsi sampai lahir. Induk mensuplai antibodi plasenta mulai regresi dan pembuluh darah palsenta juga mulai regresi.

A.3. Proses Terbentuknya janin laki-laki dan perempuan

Proses terbentuknya janin laki-laki dan perempuan dimulai dari deferensiasai gonad. Awalnya sel sperma yang berkromosom Y akan berdeferensiasi awal menjadi organ jantan dan yang X menjadi organ betina. Deferensiasi lanjut kromosom Y membentuk testis sedangkan kromosom X membentuk ovarium. Proses deferensiasi menjadi testis dimulai dari degenerasi cortex dari gonad dan medulla gonad membentuk tubulus semineferus. Di celah tubulus sel mesenkim membentuk jaringan intertistial bersama sel leydig. Sel leydig bersama dengan sel sertoli membentuk testosteron dan duktus muller tp duktus muller berdegenerasi akibat adanya faktor anti duktus muller, testosteron berdeferensiasi menjadi epididimis, vas deferent, vesikula seminlis dan duktus mesonefros. Karena ada enzim 5 alfareduktase testosteron berdeferensiasi menjadi dihidrotestosteron yang kemudian pada epitel uretra terbentuk prostat dan bulbouretra. Selanjunya mengalami pembengkakan dan terbentuk skrotum. Kemudian testis turun ke pelvis terus menuju ke skrotum. Mula-mula testis berada di cekukan bakal skrotum saat skrotum mkin lmamakin besar testis terpisah dari rongga pelvis. Sedangkan kromosom X yang telah mengalami deferensiasi lanjut kemudian pit primer berdegenerasi membentuk medula yang terisi mesenkim dan pembuluh darah, epitel germinal menebal membentuk sel folikel yang berkembang menjadi folikel telur. Deferensiasi gonad jadi ovarium terjadi setelah beberapa hari defrensiasi testis. Di sini cortex tumbuh membina ovarium sedangkan medula menciut. PGH dari placenta mendorong pertumbuhan sel induk menjadi oogonia, lalu berplorifrasi menjadi oosit primer. Pada perempuan duktus mesonefros degenerasi. Saat gonad yang berdeferensiasi menjadi ovarium turun smpai rongga pelvis kemudian berpusing sekitar 450 letaknya menjadi melintang. Penis dan klitoris awalnya pertumbuhannya sama yaitu berupa invagina ectoderm. Klitoris sebenarnya merupakan sebuh penis yang tidak berkembang secara sempurna. Pada laki-laki evagina ectoderm berkembang bersama terbawanya sinus urogenitalis dari cloaca.

B. BAYI (BALITA)

B.1. Pertumbuhan dan Perkembangan Bayi

Masa bayi dan anak kecil Untuk Belajar berjalan untuk Belajar makan makanan padat, Belajar berbicara, belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh Mencapai stabilitas fisiologi,Belajar kontak perasaan dengan orang tua, keluarga dan orang-orang luar, Belajar mengetahui mana yang benar dan masa yang slah serta mengembangkan kata hati.
– Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang
Secara umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak, yaitu :
1. Faktor Genetik
Faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai hasil akhir proses tumbuh kembang anak. Faktor ini juga merupakan faktor bawaan anak, yaitu potensi anak yang menjadi ciri khasnya. Melalui genetik yang terkandung di dalam sel telur yang telah dibuahi, dapat ditentukan kualitas dan kuantitas pertumbuhan. Ditandai dengan intensitas dan kecepatan pembelahan, derajat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan berhentinya pertumbuhan tulang.
2. Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan faktor yang sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Faktor ini disebut juga milieu merupakan tempat anak tersebut hidup, dan berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya. Lingkungan merupakan lingkungan ”bio-fisiko-psiko-sosial” yang memepengaruhi individu setiap hari, mulai dari konsepsi sampai akhir hayatnya.
Faktor lingkungan ini secara garis besar dibagi menjadi :
a. Faktor yang memepengaruhi anak pada waktu masih di dalam kandungan (faktor pranatal)
b. Faktor lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak setelah lahir (faktor postnatal)
– Faktor Lingkungan Pranatal
Faktor lingkungan pranatal yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang janin mulai dari konsepsi sampai lahir, antara lain :
1. Gizi ibu pada waktu hamil
Gizi ibu yang jelek sebelum terjadinya kehamilan maupun pada waktu sedang hamil, lebih sering menghasilkan bayi BBLR/lahir mati, menyebabkan cacat bawaan, hambatan pertumbuhan otak, anemia pada bayi baru lahir,bayi baru lahir mudah terkena infeksi, abortus dan sebagainya.
2. Mekanis
Trauma dan cairan ketuban yang kurang, posisi janin dalam uterus dapat kelainan bawaan, talipes, dislokasi panggul, tortikolis kongenital, palsi fasialis, atau kranio tabes.
3. Toksin/zat kimia
Zat-zat kimia yang dapat menyebabkan kelainan bawaan pada bayi antara lain obat anti kanker, rokok, alkohol beserta logam berat lainnya.
4. Endokrin
Hormon-hormon yang mungkin berperan pada pertumbuhan janin, adalah somatotropin, tiroid, insulin, hormon plasenta, peptida-peptida lainnya dengan aktivitas mirip insulin. Apabila salah satu dari hormon tersebut mengalami defisiensi maka dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada pertumbuhan susunan saraf pusat sehingga terjadi retardasi mental, cacat bawaan dan lain-lain.
5. Radiasi
Radiasi pada janin sebelum umur kehamilan 18 minggu dapat menyebabkan kematian janin, kerusakan otak, mikrosefali, atau cacat bawaan lainnya, sedangkan efek radiasi pada orang laki-laki dapat menyebabkan cacat bawaan pada anaknya.
6. Infeksi
Setiap hiperpirexia pada ibu hamil dapat merusak janin. Infeksi intrauterin yang sering menyebabkan cacat bawaan adalah TORCH, sedangkan infeksi lainnya yang juga dapat menyebabkan penyakit pada janin adalah varisela, malaria, polio, influenza dan lain-lain.
7. Stres
Stres yang dialami oleh ibu pada waktu hamil dapat mempengaruhi tumbuh kembang janin, antara lain cacat bawaan, kelainan kejiwaan dan lain-lain.
8. Imunitas
Rhesus atau ABO inkomtabilitas sering menyebabkan abortus, hidrops fetalis, kern ikterus, atau lahir mati.
9. Anoksia embrio
Menurunnya oksigenisasi janin melalui gangguan pada plasenta atau tali pusat, menyebabkan BBLR.
– Faktor Lingkungan Postnatal
Bayi baru lahir harus berhasil melewati masa transisi, dari suatu sistem yang teratur yang sebagian besar tergantung pada organ-organ ibunya,ke suatu sistem yang tergantung pada kemempuan genetik dan mekanisme homeostatik bayi itu sendiri.
Lingkungan postnatal yang mempengaruhi tumbuh kembang anak secara umum dapat digolongkan menjadi :
a. Lingkungan biologis
Lingkungan biologis yang dimaksud adalah ras/suku bangsa, jenis kelamin, umur, gizi,, perawatan kesehatan, kepekaan terhadap penyakit, penyakit kronis, fungsi metabolisme, dan hormon.
b. Faktor fisik
Yang termasuk dalam faktor fisik itu antara lain yaitu cuaca, musim, keadaan geografis suatu daerah, sanitasi, keadaan rumah baik dari struktur bangunan, ventilasi, cahaya dan kepadatan hunian, serta radiasi.
c. Faktor psikososial
Stimulasi merupakan hal penting dalam tumbuh kembang anak, selain itu motivasi belajar dapat ditimbulkan sejak dini, dengan memberikan lingkungan yang kondusif untuk belajar, ganjaran atau hukuman yang wajar merupakan hal yang dapat menimbulkan motivasi yang kuat dalam perkembangan kepribadian anak kelak di kemudian hari, Dalam proses sosialisasi dengan lingkungannya anak memerlukan teman sebaya, stres juga sangat berpengaruh terhadap anak, selain sekolah, cinta dan kasih sayang, kualitas interaksi anak orangtua dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang anak.
d. Faktor keluarga dan adat istiadat
Faktor keluarga yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak yaitu pekerjaan/pendapatan keluarga yang memadai akan menunjang tumbuh kembang anak karena orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak baik yang primer maupun sekunder, pendidikan ayah/ibu yang baik dapat menerima informasi dari luar terutama tentang cara pengasuhan anak yang baik, menjaga kesehatan, dan pendidikan yang baik pula, jumlah saudara yang banyak pada keluarga yang keadaan sosial ekonominya cukup akan mengakibatkan berkurangnya perhatian dan kasih sayang yang diterima anak, jenis kelamin dalam keluarga seperti apad masyarakat tradisonal masih banyak wanita yang mengalami malnutrisi sehingga dapat menyebabkan angka kematian bayi meningkat, stabilitas rumah tangga, kepribadian ayah/ibu, adat-istiadat, norma-norma, tabu-tabu, agama, urbanisasi yang banyak menyebabkan kemiskinan dengan segala permasalahannya, serta kehidupan politik dalam masyarakat yang mempengaruhi prioritas kepentingan anak, anggaran dan lain-lain.
– Perkembangan Anak Balita
Periode penting dalam tumbuh kembang anak adalah masa balita. Dalam perkembangan anak terdapat masa kritis, dimana diperlukan rangsangan/stimulasi yang berguna agar potensi berkembang, sehingga perlu mendapat perhatian.Frankenburg dkk.(1981) melalui Denver Development Stress Test (DDST) mengemukakan 4 parameter perkembangan yang dipakai dalam menilai perkembangan anak balita yaitu :
1. Personal Social ( kepribadian/tingkah laku sosial ).
2. Fine Motor Adaptive ( gerakan motorik halus )
3. Langauge ( bahasa )
4. Gross Motor ( perkembangan motorik kasar )
Ada juga yang membagi perkembangan balita ini menjadi 7 aspek perkembangan, seperti pada buku petunjuk program BKB ( Bina Keluarga dan Balita ) yaitu perkembangan :
1. Tingkah laku sosial
2. Menolong diri sendiri
3. Intelektual
4. Gerakan motorik halus
5. Komunikasi pasif
6. Komunikasi aktif
7. Gerakan motorik kasar
Menurut Milestone perkembangan adalah tingkat perkembangan yang harus dicapai anak pada umur tertentu, misalnya :
• 4-6 minggu :
– tersenyum spontan, dapat mengeluarkan suara 1-2 minggu kemudian
• 12-16 minggu :
– menegakkan kepala, tengkurap sendiri
– menoleh kearah suara
– memegang beneda yang ditaruh ditangannya
• 20 minggu :
– meraih benda yang didekatkan padanya

• 26 minggu :
– dapat memeindahkan benda dari astu tangan ketangan lainnya
– duduk, dengan bantuan kedua tangan ke depan
– makan biskuit sendiri
• 9-10 bulan :
– menunjuk dengan jari telunjuk
– memegang benda dengan ibu jari dan telunjuk
– merangkak
– bersuara da.. da…
• 13 bulan :
– berjalan tanpa bantuan
– mengucapkan kata-kata tunggal

Dengan milestone ini kita dapat mengetahui apakah anak mengalami perkembangan anak dalam batas normal atau mengalami keterlambatan. Sehingga kita dapat melakukan deteksi dini dan intervensi dini, agar tumbuh kembang anak dapat lebih optimal.

- Deteksi Intelegency Bayi
Gesell Developmental Schedules
• Usia 4 minggu – 60 bulan
• Identifikasi resiko kerusakan neurologis dan retardasi mental
• Observasi dan evaluasi : perkembangan motorik kasar, motorik halus, bahasa, perilaku adaptif, perilaku sosial
Bayley scales of infant development- II
• Usia 1 bulan – 42 bulan
• Screening hambatan perkembangan
• Skala mental : sensori, konstansi objek, memori, komunikasi verbal, habituasi, mental mapping, bahasa, konsep matematik
• Skala motorik : kontrol tubuh, koordinasi otot, motorik halus, gerakan dinamik, imitasi postur, stereognosis

B.2. Tahap Bayi (Infancy)
Periode ini disebut juga dengan tahapan sensorik oral, karena orang biasa melihat bayi memasukkan segala sesuatu ke dalam mulutnya. Sosok Ibu memainkan peranan terpenting untuk memberikan perhatian positif dan penuh kasih kepada anak, dengan penekanan pada kontak visual dan sentuhan. Jika periode ini dilalui dengan baik, bayi akan menumbuhkan perasaan trust (percaya) pada lingkungan dan melihat bahwa kehidupan ini pada dasarnya baik. Sebaliknya, bila gagal di periode ini, individu memiliki perasaan mistrust (tidak percaya) dan akan melihat bahwa dunia ini adalah tempat yang mengecewakan dan penuh frustrasi. Banyak studi tentang bunuh diri dan usaha bunuh diri yang menunjukkan betapa pentingnya pembentukan keyakinan di tahun-tahun awal kehidupan ini. Di awal kehidupan ini begitu penting meletakkan dasar perasaan percaya dan keyakinan bahwa tiap manusia memiliki hak untuk hidup di muka bumi, dan hal itu hanya bisa dilakukan oleh sosok Ibu, atau siapapun yang dianggap signifikan dalam memberikan kasih sayang secara tetap.
QS Al-Baqarah 233: Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Islam mengatakan bahwa sosok Ibu atau pengganti Ibu adalah madrasah pertama melalui kasih sayangnya, sehingga ada pepatah “surga di telapak kaki ibu”. Ibu lah yang bertanggung jawab di awal untuk mengantarkan anak ke surga.
– Tahap-tahap Tumbuh Kembang Bayi
Tumbuh kembang anak berlangsung secara teratur, saling berkaitan dan berkesinambungan dimulai sejak konsepsi sampai dewasa. Walaupun terdapat variasi akan tetapi setiap anak akan melewati suatu pola tertentu yang merupakan tahap-tahap pertumbuhan dan perkembangan sebagai berikut :
1. Masa prenatal atau masa intrauterin ( masa janin dalam kandungan )
a. Masa mudigah/embrio ialah sejak konsepsi sampai umur kehamilan 8 minggu. Ovum yang telah dibuahi dengan cepat menjadi suatu organisme, terjadi diferensiasi yang berlangsung cepat, terbentuk suatu sistem oragan dalam tubuh.
b. Masa janin/fetus ialah sejak umur 9 minggu sampai kelahiran. Masa ini terdiri dari 2 periode yaitu :
• Masa fetus dini, sejak usia 9 minggu sampai dengan TM II kehidupan intrauterin, terjadi percepatan pertumbuhan, pembentukan jasad manusia sempurna dan alat tubuh telah terbentuk dan mulai berfungsi.
• Masa fetus lanjut, pada akhir
TM pertumbuhan berlangsung pesat dan adanya perkembangan fungsi. Pada masa ini terjadi transferimunoglobin G(IgG) dari ibu melalui plasenta. Akumulasi asam lemak esesnsial seri omega 3(Docosa Hexanicc Acid) omega 6(Arachidonic Acid) pada otak dari retina.

2. Masa : usia 0 – 1 tahun
a. Masa neonatal (0-28 hari), terjadi adaptasi lingkungan dan terjadi perubahan sirkulasi darah, serta mulainya berfungsi orgaan-oragan tubuh lainnya.
1. masa neonatal dini : 0-7 hari
2. masa neonatal lanjut : 8-28 hari
b. Masa pasca neonatal , proses yang pesat dan proses pematangan berlangsung secara kontinu terutama meningkatnya fungsi sistem saraf (29 hari – 1 tahun).
– Tumbuh Kembang Neonatus
1. Penampilan Fisis
Perbandingan berbagai bagian tubuh bayi baru lahir sangat berlainan dengan proporsi janin, balita, anak besar atau dewasa; ukuran kepalanya relatif besar, muka berbentuk bundar, mandibula kecil, dada lebih bundar, dan batas antrieor posterior kurang mendatar, abdomen lebih membuncit, ekstrimitas relatif lebih pendek.
Berat badan bayi baru lahir adalah kira-kira 3000 g, biasanya anak laki-laki lebih berat dari anak perempuan. Lebih kurang 95% bayi cukup bulan mempunyai berat badan antara 2500 – 4500 g.
Panjang badan rata-rata waaktu lahir adalah 50 cm, lebih kurang 95% diantaranya menunjukkan panjang badan sekitar 45 –55 cm.
Pertumbuhan fisik adalah hasil dari perubahan bentuk dan fungsi dari organisme.
2. Pertumbuhan setelah lahir
a. Berat badan
Pada bayi yang lahir cukup bulan, berat badan waktu lahir akan kembali pada hari ke 10. Berat badan menjadi 2 kali berat badan waktu lahir pada bayi umur 5 bulan, mejadi 3 kali berat badan lahir pada umur 1 tahun, dan menjadi 4 kali berat badan lahir pada umur 2 tahun. Pada masa prasekolah kenaikan berat badan rata-rata 2 kg/tahun. Kemudian pertumbuhan konstan mulai berakhir dan dimulai
“ pre adolescent growth spurt” ( pacu tumbuh pra adolesen ) dengan rata-rata kenaikan berat nadan adalah 3-3,5 kg/tahun, yang kemudian dilanjutkan dengan “ adolescent growth spurt” ( pacu tumbuh adolesen ). Dibandingkan dengan anak laki-laki , “growth spurt” ( pacu tumbuh ) anak perempuan dimulai lebih cepat yaitu sekitar umur 8 tahun, sedangkan anak laki-laki baru pada umur sekitar 10 tahun. Tetapi pertumbuhan anak perempuan lebih cepat berhenti adripada anak laki-laki. Anak perempuan umur 18 tahun sudah tidak tumbuh lagi, sedsangkan anak laki-laki baru berhenti tumbuh pada umur 20 tahun. Kenaikan berat badan anak pada tahun pertama kehidupan, kalau anak mendapat gizi yang baik, adalah berkisar anatara :
700 – 1000 gram/bulan pada triwulan I
500 – 600 gram/bulan pada triwulan II
350 – 450 gram/bulan pada triwulan III
250 – 350 gram/bulan pada triwulan IV
Dapat pula digunakan rumus yang dikutip dari Behrman,1992 untuk memperkirakan berat badan adalah sebagai berikut :
Perkiraan Berat badan dalam kilogram :
1. Lahir : 3,25 kg
2. 3-12 bulan : umur(bulan) + 9
3. 1-6 tahun : umur(bulan) x 2 + 8

C. ANAK-ANAK
C.1. Teori dalam Perkembangan Anak
1. Psikoanalisis ( Freud ):
• kepribadian terdiri dari 3 struktur yaitu id, ego dan super ego.
• kebanyakan pemikiran anak anak bersifat tidak disadari.
• tuntutan struktur kepribadian yang saling berhubungan menyebabkan kecemasan.
• mekanisme pertahanan, khusunya represi, melindungi ego dan mengurangi kecemasan.
• Masalah berkembang karena pengalaman masa anak anak.
• individu melalui 5 tahap perkembangan psikoseksual, yaitu oral anal phallic latency dan genital.
• Selama masa phalic, oedipus complex merupakan sumber utama konflik.

2. Psikososial (Erikson ) :
menekankan pada 8 tahap perkembangan psikososial, yaitu :
• Trust vs mistrust ( 0 – 1 tahun )
• autonomy vs shame and doubt ( 1 – 3 tahun )
• Initiative vs guilty ( 3 -5 tahun / pra sekolah )
• industry vs inferiority ( 6 – 11 tahun / masa sekolah )
• Identity vs identity confusion ( 12 – 18 / masa remaja )
• Intimacy vs isolation ( 18 – 40 / masa dewasa dini )
• generativity vs stagnan ( 40 – 60 tahun / masa dewasa madya )
• Ego integrity vs despair ( > 60 th / dewasa lanjut )
3. Teori kognitif ( Piaget )
• individu termotivasi untuk memahami dunia, dengan menggunakan proses perngorganisasian dan penyesuaian diri ( asimilasi dan akomodasi ).
• Individu melampaui 4 tahap perkembangan kognitif , sensori motor, pra operasional, operasional konkrit dan formal.
4. Teori perilaku dan belajar sosial ( Skinner dan bandura )
• Skinner : Pakar teori behaviorist ( teori perilaku ), perkembangan adalah perilaku yang diminati, ditentukan / dipengaruhi oleh adanya hadiah dan hkuman dalam lingkungan.
• bandura : Teori social learning ( belajar sosial ), lingkungan adalah faktor penting yang mempengaruhi perilaku , meskipun proses kognitif juga tidak kalah pentingnya manusia memiliki kemampuan untuk mengendalikan polanya sendiri.
5. Teori etologis ( Konrad lorenz )
Etologi menekankan landasan biologis, dan evolusioner perkembangan. Penamaan ( imprinting ) dan periode penting ( critical period ) merupakan konsep kunci
6. Teori ekologi ( bronfen – brenner )
ada 4 sistem lingkungan yang penting :
• Mikrosistem ( keluarga, peer group, sekolah , misal : penaruh pola asuh terhadap perilaku )
• Mesosistem ( antara bebeapa mikrosistem, misal : anak yang ditolak keluarga akan berpengaruh pada hub guru )
• Eksosistem ( Pengalaman dari setting social tertenut, misal pengalaman / tuntutan kerja terhadap suami – isteri dan anak. )
• Kronosistem ( pemolaan – peristiwa dan keadaan sosio historis, mis : efek perceraian terhadap anak )

C.2. Ciri-ciri Tumbuh Kembang Anak
Tumbuh kembang anak yang sudah dimulai sejak konsepsi sampai dewasa itu mempunyai ciri-ciri tersendiri, yaitu :
1. Tumbuh kembang adalah proses yang kontinu sejak dari konsepsi sampai maturitas/dewasa, yang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan.
2. Terdapat masa percepatan dan masa perlambatan, serta laju tumbuh kembang yang berlainan organ-organ.
3. Pola perkembangan anak adalah sama pada semua anak,tetapi kecepatannya berbeda antara anak satu dengan lainnya.
4. Perkembangan erat hubungannya dengan maturasi sistem susunan saraf.
5. Aktifitas seluruh tubuh diganti respon individu yang khas.
6. Arah perkembangan anak adalah sefalokaudal.
7. Refleks primitif seperti refleks memegang dan berjalan akan menghilang sebelum gerakan volunter tercapai.
C.3. Perkembangan Anak Normal dan Kebiasaan-kebiasaannya
Setiap individu akan mengalami proses perkembangan yang tidak akan dapat ditolak, terlepas dari kehendak individu yang bersangkutan. Proses tersebut berjalan dengan kodrati dan melalui tahapan-tahapan yang telah ditentukan olehNya. Alloh berfirman dalam surat Al Mukminun 14 : وقد خلقكم أطوارا !
Artinya : Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian ( Q.S. 71 : 14 )
Perkembangan individu merupakan suatu proses perubahan individu yang bersifat tetap menuju kearah yang lebih sempurna dan tidak dapat diulang kembali. Menurut Werner (1969) yang dikutip oleh Monks dkk dalam buku psikologi perkembangan menyatakan bahwa pengertian perkembangan individu menunjuk pada suatu proses kearah yang lebih sempurna dan tidak begitu saja diulang kembali. Perkembangan individu menunjuk pada perubahan yang bersifat tetap dan tidak dapat diulang kembali ( Monks Dkk : 2004 : 1 ). Proses perkembangan selalu menuju proses differensiasi dan integrasi. Proses differensiasi artinya ada prinsip totalitas pada diri individu. Dari penghayatan totalitas itu lambat laun bagian-bagiannya menjadi sangat nyata dan bertambah jelas dalam kerangka keseluruhan. Setiap individu akan mengalami proses perkembangan yang berlangsung melalui tahapan-tahapan perkembangan secara berantai. Walaupun tidak ada pemisah yang jelas antara masing-masing tahapan tersebut, proses perkemangan ini bersifat universal.
Dalam proses perkembangan dikenal adanya irama atau naik turunnya proses perkembangan. Artinya proses perkembangan manusia itu tidak konstan terkadang naik terkadang turun. Pada suatau saat individu mengalami perkembangan yang tenang pada saat lain ia mengalami perkembangan yang menggoncangkan. ( Alex sobur : 2003 : 143 )
Menurut para ahli psykologi individu biasanya mengalami dua masa pancaroba atau krisis yang biasanya disebut Trotz. Masa ini terjadi dalam periode :
1. Periode pertama : terjadi pada usia 2 – 3 tahun dengan ciri utama anak menjadi egois, selalu mendahulukan kepentingan diri sendiri.
2. Periode kedua : Terjadi pada usia antara 14 – 17 tahun dengan ciri utama sering membantah orang tuanya dan cenderung mencari identitas diri.
Tentang Trotz yang kedua diatas perlu digaris bawahi bahwa usia 14 – 17 tahun bukanlah harga mati. Artinya rentang usia remaja yang mengalami krisis tahap kedua ini dimasing-masing daerah mungkin berbeda boleh jadi lebih cepat atau lebih lambat.
Proses perkembangan individu memiliki karakter kecepatan yang bervariasi. Dengan kata lain ada individu memiliki tingkat perkembangan cepat, sedang dan lambat. Tingkat proses perkembangan individu tersebut diakibatkan oleh adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya.
– Perkembangan Anak
Makna perkembangan pada seorang anak adalah terjadinya perubahan yang besifat terus nenerus dari keadaan sederhana ke keadaan yang lebih lengkap, lebih komleks dan lebih berdiferensiasi (Berk, 2003). Jadi berbicara soal perkembangan anak yang dibicarakan adalah perubahan. Pertanyaannya adalah perubahan apa saja yang terjadi pada diri seorang anak dalam proses perkembangan ? Untuk menjawab pertanyaan itu maka perlu dipahami tentang aspek-aspek perkembangan.
1. Aspek-Aspek Perkembangan
a. Perkembangan fisik yaitu perubahan dalam ukuran tubuh, proporsi anggota badan, tampang, dan perubahan dalam fungsi-fungsi dari sistem tubuh seperti perkembangan otak, persepsi dan gerak (motorik), serta kesehatan.
b. Perkembangan kognitif yaitu perubahan yang bervariasi dalam proses berpikir dalam kecerdasan termasuk didalamnya rentang perhatian, daya ingat, kemampuan belajar, pemecahan masalah, imajinasi, kreativitas, dan keunikan dalam menyatakan sesuatu dengan mengunakan bahasa.
c. Perkembangan sosial-emosional yaitu perkembangan berkomunikasi secara emosional, memahami diri sendiri, kemampuan untuk memahami perasaan orang lain, pengetahuan tentang orang lain, keterampilan dalam berhubungan dengan orang lain, menjalin persabatan, dan pengertian tentang moral.
Harus dipahami dengan sungguh sungguh bahwa ketiga aspek perkembangan itu merupakan satu kesatuan yang utuh (terpadu), tidak terpisahkan satu sama lain. Setiap aspek perkembangan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh aspek lainnya. Sebagai contoh perkembangan fisik seorang anak seperti meraih, duduk, merangkak, dan berjalan sangat mempengaruh terhadap perkembangan kognitif anak yaitu dalam memahami lingkungan sekitar di mana ia berada. Ketika seorang anak mencapai tingkat perkembangan tertentu dalam berpikifr (kognitif) dan lebih terampil dalam bertindak, maka akan mendapat respon dan stimulasi lebih banyak dari orang dewasa, seperti dalam melakukan permaianan, percakapan dan berkomunikasi sehingga anak dapat mencapai keterampilan baru (aspek sosial-emosional). Hal seperti ini memperkaya pengalaman dan pada gilirannya dapat mendorong berkembangnya semua aspek perkembangan secara menyeluruh. Dengan kata lain perkembangan itu tidak terjadi secara sendiri-sendiri.
2. Periode Perkembangan
Para peneliti biasanya membagi segmen perkembangan anak ke dalam lima periode (Berk, 2003). Ketika anak mencapai perkembangan pada periode tertentu maka akan dipereroleh kemampuan dan pengalaman sosial-emosional yang baru. Periode pra-lahir : sejak masa konsepsi sampai lahir. Pada periode ini terjadi perubahan yang paling cepat. Periode masa bayi dan kanak-kanak: Sejak lahir sampai usia 2 tahun. Pada periode ini terjadi perubahan badan dan pertumbuhan otak yang dramatis, mendukung terjadinya saling berhubungan antara kemampuan gerak, persepsi, kapasitas kecerdasan, bahasa dan terjadi untuk pertama kali berinteraksi secara akrab dengan orang lain. Masa bayi dihabiskan pada tahun pertama sedanga masa kanak-anak dihabiskan pada tahun kedua.
Periode awal masa anak : dari usia 2 tahun sampai 6 tahun. Pada periode ini ukuran badan menjadi lebih tinggi, keterampilan motorik menjadi lebih luwes, mulai dapat mengontrol diri sendiri dan dapat memenuhi menjadi lebih luas. Pada masa ini anak mulai bermain dengan membentuk kelompok teman sebaya. Periode masa anak-anak: dari usia 6 sampai 11 tahun. Pada masa ini anak belajar tentang dunianya lebih luas dan mulai dapat menguasai tanggung jawab, mulai memahami aturan, mulai menguasai proes berpikir logis, mulai menguasai keterampilan baca tulis, dan lebih maju dalam memahami diri sendiri, dan pertemanan. Periode masa remaja: dari usia 11-20 tahun. Periode ini adalah jembatan antara masa anak-anak dengan masa dewasa. Terjadi kematangan seksual, berpikir menjadi lebih abstrak dan idealistic.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
Untuk melihat faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan seorang anak, maka muncul pertanyaan: apakah perkembangan itu prasyarat untuk bisa belajar atau perkembangan itu hasil dari proses belajar ? Pertanyaan itu bisa dijawab ya, bahwa perkembangan itu prasyarat untuk bisa belajar. Artinya jika seorang anak belajar perlu didasari oleh kesiapan (kematangan) yang dicapai dalam perkembangan. Misalnya seorang anak tidak mungkin akan bisa belajar bahasa dan bicara jika belum mencapai kesiapan (kematangan), meskipun lingkungan diciptakan sedemikian rupa agar anak dapat belajar bahasa dan bicara. Sebaliknya, pertanyaan itu bisa dijawab ya bahwa perkembangan itu adalah hasil belajar. Artinya perubahan yang terjadi pada diri seorang anak diperoleh melaui proses interaksi dengan lingkungannya. Misalnya meskipun setiap anak memiliki potensi untuk belajar bahasa dan bicara dan telah mencapai kematangan untuk siap belajar, tetapi anak tersebut sama sekali tidak mendapatkan rangsangan dari luar (lingkungan) untuk belajar, maka anak itu tidak akan memperoleh keterampilan berbahasa. Oleh karena itu terdapat hubungan timbal balik atau saling mempenagruhi antara proses belajar dalam lingkungan dengan kematangan perkembangan. Dengan kata lain pada saat tetentu belajar ditentukan oleh kematangan perkembangan, tetapi pada saat yang lain perkembangan adalah hasil dari proses belajar. Konsekuensi dari keadaan ini maka jika seorang anak mengalami hambatan dalam mencapai kematangan perkembangan karena ada gangguan pada aspek fisik atau kognitif atau sosial-emosional maka dapat dipastikan akan mengalami hambatan belajar, dan anak yang mengalami hambatan belajar akan mengalami hamabtan perkembangan. Anak yang mengalami hambatan belajar dan atau hambatan perkembangan, memerlukan layanan khusus dalam pendidikan dan disebut anak berkebutuhan khusus.
Tahap perkembangan berdasarkan psikologi Para ahli yang menggunakan aspes psikologi sebagai landasan dalam menganalisis tahap perkembangan, mencari pengalaman-pengalaman psikologis mana yang khas bagi individu pada umumnya dapat digunakan sebagai masa perpindahan dari fase yang ada ke fase yang lain. Dalam pekembangannya para ahli berpendapat bahwa dalam perkembangan pada umumnya individu mengalami masa-masa kegoncangan. Apabila perkembangan itu dapat dilukiskan sebagai proses evaluasi, maka pada masa kegoncangan itu evaluasi berubah menjadi revolusi. Kegoncangan psikis itu dialami hamper semua orang, karena itu dapat digunakans ebagai perpindahan darimasa satu kemasa yang lain dalam proses perkembangan. Oswald Kroc mendasarkan pembagian masa perkembangan pada krisis-krisis atau kegoncangan-kegoncangan yang dialami anak dalam proses perkembangannya, yang disebutnya dengan dengan istilah Trotz periode. Menurutnya sepanjang kehidupan ini terdapat beberapa masa Trotz yaitu :
a. Trotz – periode I, anak mengalami masa krisis pertama ketika ia berusia 3,0 – 5,0 tahun, masa ini disebut juga asa anak-anak awal.
b. Trotz – periode II, anak mengalami masa krisis kedua ketika ia berusia 11 – 12 tahun, masa ini termasuk masa kerahasiaan bersekolah.
Sifat-sifat anak trotz ini adalah meraja-raja, egosentris, keras kepala, pembangkang dan sebagainya. Hal itu mereka lakukan dengan tujuan memperoleh kebebasan dan perhatian. Memperhatikan periodesasi yang dikemukakan para ahli diatas baik dari segi biologi, didaktis maupun psikologis.

D. REMAJA
Remaja adalah Adolescence berasal dari “adolescere” yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”Adolescence memiliki arti lebih luas (dibanding pubertas), yaitu mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik atau masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress).
Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.
Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.
Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).
Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001). Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda.
D.1 Aspek-aspek perkembangan pada masa remaja

- Perkembangan fisik
Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).
– Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).
Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi. Dengan mencapai tahap operasi formal remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks. Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis. Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan (Santrock, 2001). Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya.
Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001).
Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme (Piaget dalam Papalia & Olds, 2001). Yang dimaksud dengan egosentrisme di sini adalah “ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain” (Papalia dan Olds, 2001). Elkind (dalam Beyth-Marom et al., 1993; dalam Papalia & Olds, 2001) mengungkapkan salah satu bentuk cara berpikir egosentrisme yang dikenal dengan istilah personal fabel.
Personal fabel adalah “suatu cerita yang kita katakan pada diri kita sendiri mengenai diri kita sendiri, tetapi [cerita] itu tidaklah benar” . Kata fabel berarti cerita rekaan yang tidak berdasarkan fakta, biasanya dengan tokoh-tokoh hewan. Personal fabel biasanya berisi keyakinan bahwa diri seseorang adalah unik dan memiliki karakteristik khusus yang hebat, yang diyakini benar adanya tanpa menyadari sudut pandang orang lain dan fakta sebenarnya. Papalia dan Olds (2001) dengan mengutip Elkind menjelaskan “personal fable” sebagai berikut :
“Personal fable adalah keyakinan remaja bahwa diri mereka unik dan tidak terpengaruh oleh hukum alam. Belief egosentrik ini mendorong perilaku merusak diri [self-destructive] oleh remaja yang berpikir bahwa diri mereka secara magis terlindung dari bahaya. Misalnya seorang remaja putri berpikir bahwa dirinya tidak mungkin hamil [karena perilaku seksual yang dilakukannya], atau seorang remaja pria berpikir bahwa ia tidak akan sampai meninggal dunia di jalan raya [saat mengendarai mobil], atau remaja yang mencoba-coba obat terlarang [drugs] berpikir bahwa ia tidak akan mengalami kecanduan. Remaja biasanya menganggap bahwa hal-hal itu hanya terjadi pada orang lain, bukan pada dirinya”.
Pendapat Elkind bahwa remaja memiliki semacam perasaan invulnerability yaitu keyakinan bahwa diri mereka tidak mungkin mengalami kejadian yang membahayakan diri, merupakan kutipan yang populer dalam penjelasan berkaitan perilaku berisiko yang dilakukan remaja (Beyth-Marom, dkk., 1993). Umumnya dikemukakan bahwa remaja biasanya dipandang memiliki keyakinan yang tidak realistis yaitu bahwa mereka dapat melakukan perilaku yang dipandang berbahaya tanpa kemungkinan mengalami bahaya itu.
Beyth-Marom, dkk (1993) kemudian membuktikan bahwa ternyata baik remaja maupun orang dewasa memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang berisiko merusak diri (self-destructive). Mereka juga mengemukakan adanya derajat yang sama antara remaja dan orang dewasa dalam mempersepsi self-invulnerability. Dengan demikian, kecenderungan melakukan perilaku berisiko dan kecenderungan mempersepsi diri invulnerable menurut Beyth-Marom, dkk., pada remaja dan orang dewasa adalah sama.
– Perkembangan kepribadian dan sosial
Yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001). Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001).
Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.
Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya.
D.2. Psikologi Remaja, Karakteristik dan Permasalahannya
– Karakteristik Remaja
karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:
1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
2. Ketidakstabilan emosi.
3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
4. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.
5. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.
6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
7. Senang bereksperimentasi.
8. Senang bereksplorasi.
9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.
Berdasarkan tinjauan teori perkembangan, usia remaja adalah masa saat terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan fundamental dalam aspek kognitif, emosi, sosial dan pencapaian (Fagan, 2006). Sebagian remaja mampu mengatasi transisi ini dengan baik, namun beberapa remaja bisa jadi mengalami penurunan pada kondisi psikis, fisiologis, dan sosial. Beberapa permasalahan remaja yang muncul biasanya banyak berhubungan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja. Berikut ini dirangkum beberapa permasalahan utama yang dialami oleh remaja.
– Permasalahan Fisik dan Kesehatan
Permasalahan akibat perubahan fisik banyak dirasakan oleh remaja awal ketika mereka mengalami pubertas. Pada remaja yang sudah selesai masa pubertasnya (remaja tengah dan akhir) permasalahan fisik yang terjadi berhubungan dengan ketidakpuasan/ keprihatinan mereka terhadap keadaan fisik yang dimiliki yang biasanya tidak sesuai dengan fisik ideal yang diinginkan. Mereka juga sering membandingkan fisiknya dengan fisik orang lain ataupun idola-idola mereka. Permasalahan fisik ini sering mengakibatkan mereka kurang percaya diri. Levine & Smolak (2002) menyatakan bahwa 40-70% remaja perempuan merasakan ketidakpuasan pada dua atau lebih dari bagian tubuhnya, khususnya pada bagian pinggul, pantat, perut dan paha. Dalam sebuah penelitian survey pun ditemukan hampir 80% remaja ini mengalami ketidakpuasan dengan kondisi fisiknya (Kostanski & Gullone, 1998). Ketidakpuasan akan diri ini sangat erat kaitannya dengan distres emosi, pikiran yang berlebihan tentang penampilan, depresi, rendahnya harga diri, onset merokok, dan perilaku makan yang maladaptiv (& Shaw, 2003; Stice & Whitenton, 2002). Lebih lanjut, ketidakpuasan akan body image ini dapat sebagai pertanda awal munculnya gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia (Polivy & Herman, 1999; Thompson et al).
Dalam masalah kesehatan tidak banyak remaja yang mengalami sakit kronis. Problem yang banyak terjadi adalah kurang tidur, gangguan makan, maupun penggunaan obat-obatan terlarang. Beberapa kecelakaan, bahkan kematian pada remaja penyebab terbesar adalah karakteristik mereka yang suka bereksperimentasi dan berskplorasi.
D.3. Ciri-ciri Masa Remaja
• Merupakan periode transisi/peralihan
• Merupakan periode perubahan, misalnya: perubahan kepekaan emosi, bentuk tubuh, peran, minat, dan nilai.
• Merupakan masa mencari jati diri/identitas diri.
• Merupakan masa yang tidak realistik, karena mereka memandang sesuatu dari “kacamata”-nya sendiri, yang kadang jauh dari realita
D.4. Tugas Perkembangan Masa Remaja
• Menerima kodisi fisik apa adanya, dan mampu memanfaatkannya secara efektif.
• Mencapai hubungan baru yang lebih matang dg teman sebaya, baik sejenis maupun lain jenis.
• Mencapai peran sosial yang bertanggung jawab sebagai pria/wanita.
• Mencapai kemandirian emosional dari ortu maupun orla.
• Mempersiapkan karier ekonomi.
• Mempersiapkan perkawinan dan keluarga.

D.5. Kebutuhan-kebutuhan Remaja
• Mencapai sesuatu atau memupuk ambisi.
• Kebutuhan akan rasa: superior, ingin menonjol, ingin terkenal.
• Kebutuhan untuk berkompetisi.
• Kebutuhan untuk tampil memukau.
• Kebutuhan bebas menentukan sikap (tidak mau didekte) FILE DI: Psikologi Perkembangan II-Pendahuluan-08.
• Kebutuhan untuk menjalin persahabatan.
• Kebutuhan untuk berempati.
• Kebutuhan untuk mencari simpati.
• Kebutuhan untuk menghindari rutinitas.
• Kebutuhan untuk mengatasi hambatan.
• Kebutuhan untuk menyalurkan agresivitas.
• Kebutuhan bergaul dengan lawan jenis.
– Penyebab Hightened Emotionality
• Penyesuaian diri pada situasi baru.
• Harus memenuhi tuntutan masyarakat u/ dapat bersikap lebih matang.
• Aspirasi yg tdk realistik/unrealistic aspiration.
• Penyesuaian sosial thd lawan jenis/social adjustment to the other sex
• Masalah di sekolah/school Problems.
• Masalah pekerjaan/vocational problems.
• Tidak ada/sangat sedikit model perilaku yang bisa ditiru, atau banyaknya model perilaku yang seharusnya justru tidak boleh ditiru.
• Hubungan (dengan orang lain, terutama dengan anggota keluarga, dan antar anggota keluarga) yang tidak menyenangkan/unfavorable relationship.
– Bentuk-bentuk Ekspresi Hightened Emotionality
• Nervous habits (kebiasaan nervous): Yaitu suatu bentuk perilaku yang disebab-kan oleh ketidak mampuan untuk mengatasi nervous yang ditunjukkan dengan sikap blocking (bila ditanya hanya menjawab singkat, mis: “ya”; “malas”, “ogah”; “tidak”; atau bahkan hanya diam sambil mengangguk/menggeleng). Dalam situasi seperti ini remaja butuh bimbingan yang bersifat empatis.
• Emotional outburst: Bentuk ekspresi emosi yang berupa pe-lampiasan dengan membanting benda-benda yang ada didekatnya. Kepuasan akan muncul/emosi mereda stlh mela-kukan tindakan “hempasan” tersebut => lebih sering terjadi pada remaja perempuan.
• Quarrelsomeness: Yaitu perkelahian yg disebabkan oleh adanya ketersinggungan. Biasanya muncul dlm btk perkelahian massal, karena adanya konformitas klp yg sangat kuat pada masa ini atau biasa terjadi pada remaja laki-laki
• Finicky Appetites: adalah menurunnya nafsu atau gairah, seperti: nafsu makan, gairah belajar, semangat bekerja dsb.
• Moodiness: menurunnya mood (suasana hati), shg apa yg dilakukan serba salah, tidak menentu, canggung
• Escape mechanism: Bentuk pelarian diri dari masalah, bisa kearah + , bisa kearah – . Misalnya: putus cinta atau malas, isolated, atau justru smkn giat belajar, aktif di organisasi, dsb.
– Pola-pola Emosi Remaja
1. Fear / rasa takut.
Menurut Hurlock rasa takut anak dan remaja bentuknya beda. Pada anak penyebab takut adalah stimulus yang bersifat riil/nyata/terlihat, sedangkan pada remaja kadang penyebabnya adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat mata, seperti: takut gagal, dicela, beda dengan peer-group.
• Takut pada benda2 yg bersifat alami, seperti; tempat tinggi, keramaian, api, badai, dsb.
• Takut pada aktivitas sosial/human relation yang disebabkan oleh rasa malu untuk bersosialisasi atau ingin mendapatkan kesan yang baik dalam tingkah laku dan berprestasi.
• Takut pada diri sendiri, biasanya takut pada sakit yang serius atau kecelakaan yang menyebabkan cacat.
• Takut pada ketidak-mampuan melakukan sesuatu/in capacity.
• Takut dalam menghadapi tantangan pekerjaan.
• Takut gagal dalam sekolah.
• Takut pada sesuatu yang tidak/belum diketahui.

Macam-macam emosi takut
• Shyness (malu)
• Embarrassment (canggung)
• Worry (khawatir)
• Anxiety (kecemasan)
a. Shyness (malu)
 Bentuk rasa takut yang ditandai dengan penarikan diri dari hubungan dengan orla.
 Penyebab rasa malu adalah manusia.
 Ekspresi rasa malu: – Muka memerah – Gugup – Gagap – Diam

b. Embarrassment
 Reaksi takut terhadap manusia bukan pada objek atau situasi. Munculnya emosi ini lebih disebabkan oleh keraguan tentang penilaian orang lain terhadap penampilan atau perilakunya ? berhubungan dengan kesadaran diri (self conscious)
 Ekspresi sama dengan rasa malu
c. Worry
 Rasa gelisah yang muncul tanpa alasan jelas.
 Penyebab: Pikiran individu
 Hal-hal yang dikhawatirkan : sesuatu yang bermakna dalam kehidupan, seperti: masalah keluarga, hubungan dengan peer-group, dan masalah sekolah
d. Anxiety (kecemasan)
 Merupakan bentuk lain dari rasa takut.
 Keadaan mental yang tidak nyaman karena sesuatu yang dirasa mengancam atau sesuatu yang dibayangkan.
 Menurut Jersild penyebabnya: inner conflict yang dapat menimbulkan depress
 Intensitas lebih berat daripada worry
 Penyebab anxiety: lebih sering bersifat imajiner/tidak nyata.
 Kecemasan timbul karena terlalu banyaknya worry yang yang belum dapat diatasi.
 Ekspresi kecemasan: – defends mechanism – bertingkah laku antisosial – frustrasi – mudah terpengaruh kelompok
2. Anger (marah)
• Pada masa remaja frekuensi meningkat
• Penyebab: hubungan dengan orang lain
• Selalu disalahkan/digurui
• Sering dibandingkan dengan orang lain
• Reaksi: Impulsif => agresi fisik dan/ atau verbal danRepresif (ditekan) => masa bodoh/acuh tak acuh (impunitive)
3. Jealousy (cemburu)
• Reaksi normal terhadap kehilangan afeksi (kasih syang) dari orang lain/orangtua, baik secara nyata, dibayangkan atau ancaman.
• Merupakan kombinasi dari rasa takut dan rasa marah
• Penyebab: kondisi di lingkungan keluarga, sekolah, dan kurangnya kepercayaan diri.
4. Iri hati (Envy)
• Bersifat individual
• Penyebab utamanya adalah masalah finansial
• Reaksi terhadap teman yang menjadi objek envy biasanya dalam bentuk verbal
• Banyak muncul pada remaja perempuan
• Bila muncul pada pria dapat menyebab-kan terjadinya kriminalitas, spt: malak, mencuri, merampok, dsb
5. Annoyance (jengkel)
• Rasa tidak nyaman yang bisa disebabkan karena benda, binatang, maupun orang lain.
• Untuk mengurangi rasa jengkel, dengan sharing pada orang lain.
• Dapat memotivasi individu untuk melawan kejengkelan dengan perilaku positif
6. Frustration
• Terjadi apabila remaja merasa ada yang menghalangi/menghambat keinginan dan kebutuhannya.
• Menyebabkan individu atraktif, sehingga dapat berpengaruh pada social acceptance.
• Reaksi: Agresif. Displacement, withdrawal
7. Grief ( Duka Cita )
• Suatu trauma psikis yang disebabkan oleh hilangnya sesuatu yang sangat berarti bagi individu.
• Merupakan kondisi emosi yang paling tidak menyenangkan
• Ekspresi: menangis, apatis (menekan emosi), sulit tidur, mimpi buruk
8. Currious (Rasa Ingin Tahu)
• Kondisi ini sangat sering dialami remaja
• Hal-hal yang paling ingin diketahui adalah sesuatu yang baru, ditutup-tutupi, misterius.
• Menstimulasi munculnya keinginan untuk menempuh ilmu/sekolah secara serius, karena banyaknya rasa ingin tahu akan hal-hal yang bersifat ilmiah.
9. Affection
• Kondisi emosi menyenangkan yang sangat didambakan setiap individu di usia remaja.
• Kebutuhan afeksi berhubungan dengan rasa aman, sehingga setiap remaja harus mendapatkannya, terutama dari significant person.
• Remaja yang terpenuhi kebutuhan afeksinya akan mudah memberikan afeksi pada orang lain.
10. Happiness
• Kondisi menyenangkan yang selalu didambakan dialami setiap remaja.
• Happiness dapat terjadi apabila kondisi fisik individu normal.
• Happiness terjadi karena tercapainya cita-cita/harapan.

E. DEWASA (ADULT)
Dewasa (Adult) sendiri berasal dari kata Latin bentuk past participle dari kata kerja Adultus yang berarti “telah tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna atau telah menjadi dewasa”. Makna dari istilah adult adalah: individu telah menyelesaikan proses pertumbuhan fisiknya, dan siap menerima peran dan kedudukan di masyarakat bersama dengan orang dewasa lainnya.
E.1. Masa Dewasa Dini/Early Adulthood (18 – 40 tahun)
Pada masa ini perubahan-perubahan fisik relative sudah tidak sepesat masa sebelumnya (puber dan remaja), bahkan di awal usia dewasa dini (sekitar 18 tahun) kondisi fisik cenderung sudah menetap, dalam arti bila terjadi perubahan tidak signifikan lagi.
Pada masa ini yang sedang terjadi adalah masa reproduktif, yang mulai sempurna di awal usia dua puluhan, dan akan mengalami penurunan kualitas di usia pertengahan tiga puluhan.
Langkah awal menjadi dewasa adalah mencari teman dan cinta. Hubungan yang saling memberikan rasa senang dan puas, utamanya melalui perkawinan dan persahabatan. Keberhasilan di stage ini memberikan keintiman di level yang dalam.
Kegagalan di level ini menjadikan orang mengisolasi diri, menjauh dari orang lain, dunia terasa sempit, bahkan hingga bersikap superior kepada orang lain sebagai bentuk pertahanan ego. Hubungan yang signifikan adalah melalui perkawinan dan persahabatan.
QS An-Nuur32: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
” jika seorang hamba menikah sesungguhnya ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Karena itu bertakwalah pada Allah untuk menyempurnakan sebagian yang lain” (HR Al Baihaqi)
Menikah adalah pilihan, namun bagi kaum muslim adalah sunnah. Pernikahan yang baik dan berdasarkan ridha Allah akan memberikan ketenteraman.

- Ciri-ciri Kematangan
• Berorientasi pada tugas, bukan pada diri atau ego; minat orang yang sudah matang berorientasi pada tugas-tugas yang dikerjakannya, dan tidak condong pada perasaan-perasaan diri sendiri atau untuk kepentingan pribadi.
• Tujuan-tujuan yang jelas dan kebiasaan-kebiasaan kerja yang efisien. Seseorang yang telah matang akan melihat tujuan-tujuan yang ingin dicapainya secara jelas dan tujuan-tujuan itu dapat didefinisikan secara cermat dan tahu mana yang pantas dan tidak, serta bekerja secara terencana menuju arah tertentu
• Mengendalikan perasaan pribadi.
• Individu yang telah matang secara psikologis, akan mampu menyetir dan menguasai perasaan-perasaannya sendiri ketika mengerjakan sesuatu atau berhadapan dengan orang lain. Mereka cenderung tidak lagi hanya mementingkan dirinya sendiri, tetapi telah mampu mempertimbangkan perasaan perasaan orang lain.
• Objektif.
• Individu yang sudah mencapai taraf kematangan psikologis akan mampu bersikap objektif, dalam arti mampu melihat sesuatu secara apa adanya, sehingga ketika mengambil keputusan relative lebih tepat dan dapat diterima orang lain.
• Menerima kritik dan saran dari orang lain.
• Individu yang sudah mencapai kematangan akan memiliki kemauan yang realistis, menyadari bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang tidak selalu benar, sehingga terbuka terhadap kritik, dan saran dari orang lain demi peningkatan kualitas dirinya.
• Bertanggung jawab
• Individu yang sudah mencapai kematangan akan mampu memper-tanggung jawabkan perilakunya, serta selalu memberi kesempatan kepada orang lain untuk ikut maju bersama-sama mencapai tujuan. Individu menyadari bahwa untuk mencapai suatu tujuan tidak mungkin bila hanya mengandalkan kerja individual. Meski pun begitu individu tetap bertanggung jawab atas langkah-langkah yang dilakukannya.
• Mampu mengadakan penyesuaian diri terhadap situasi-situasi baru
• Individu yang telah mencapai kematangan, memiliki ciri fleksibel dan dapat menem-patkan diri dimana pun ia berada.
– Ciri-ciri Masa Dewasa Dini
• Usia Reproduktif (Reproductive Age)
• Bagi sebagian besar individu yang berada pada masa ini, menjadi ayah atau ibu merupakan salah satu peran yang sangat penting dalam kehidupannya.
• Berperan sebagai orangtua, nampak lebih nyata bagi perempuan bila dibanding laki-laki. Meski demikian, searah dengan semakin banyaknya kaum perempuan yang berperan di sector public, menyebabkan peran sebagai orangtua tidak hanya dibebankan kepada kaum perempuan, melainkan juga menjadi tanggung jawab kaum pria. Artinya, ketika seseorang telah mengikrarkan diri untuk berkeluarga, maka tanggung jawab di dalam mendidik anak adalah tanggung jawab bersama, antara ibu dan ayah.
• Pada perempuan usia reproduktif, dalam pengertian medis/fisik, lebih terbatas bila dibandingkan laki-laki.
• Mendekati akhir masa dewasa dini, secara fisik/medis, kaum perempuan akan mengalami penurunan kemampuan berreproduksi, sedangkan pada laki-laki, sampai usia akhir masa dewasa dini kemampuan reproduksinya masih tetap optimal, dan baru akan cenderung menurun, ketika individu mulai memasuki masa akhir dewasa madya atau bahkan baru terjadi ketika sudah memasuki masa usia lanjut.
– Usia Pemantapan Kedudukan (Settling-down Age)
• Kalau pada masa kanak-kanak dan remaja disebut sebagi masa pertumbuhan atau growing-up, maka masa dewasa merupa-kan masa pemantapan kedudukan atau “settling-down age”.
• Ketika seseorang telah memasuki usia dewasa secara syah, maka hari-hari kebebasan mereka telah berakhir, dan digantikan oleh adanya tanggung jawab sebagai seorang yang telah berusia dewasa.
• Secara konvensional hal ini berarti, bagi laki-laki, mereka hendaklah mulai menapaki karier/bidang kerja yang akan menjadi bekalnya dikemudian hari.
• Sedangkan bagi perempuan, mereka diharapkan mulai menerima tanggung jawab sebagai ibu dan pengurus rumah tangga.
• Saat ini antara laki-laki dan perempuan relative tidak begitu tampak perbedaan peran yang harus mulai dipersiapkan/ dimasuki.
• Di usia pertengahan tiga puluhan, rata-rata individu telah memiliki kemantapan dalam pola-pola hidup, yang kelak akan menjadi sandaran dalam kehidupan sebagai orang dewasa. Individu yang cepat memperoleh kemantapan kedudukan, dalam arti mampu menyeimbangkan antara dorongan-dorongan, minat, dan kemampuan yang dimiliki, akan memperoleh kepuasan.
• Sebaliknya, bila individu tidak memperoleh apa yang menjadi keinginannya, sangat memungkinkan munculnya ketidak puasan terhadap prestasi yang telah diraihnya.
– Problem Age (Masalah di masa dewasa dini)
• Pada masa ini banyak persoalan baru yang dihadapi individu.
• Permasalahan-permasalahan tersebut berbeda dengan yang pernah dialami pada masa-masa sebelumnya.
• Beberapa diantaranya merupakan kelanjutan dari permasalahan masa remaja akhir yang belum terpecahkan.
• masalah pekerjaan dan jabatan,
• pemilihan teman hidup,
• masalah-masalah yang berhubungan pemenuhan kebutuhan hidup (keuangan).
• Kompleksnya masalah pekerjaan yang berhubungan dengan kondisi intern individu itu sendiri, factor lingkungan social, termasuk orangtua, factor kesempatan kerja, dan lapangan kerja yang tersedia.
– Faktor-faktor yang Berpengaruh Pada Dewasa Dini
• Ciri-ciri pribadi, sikap, kemampuan dan ketrampilan khusus yang dimiliki. Kadang-kadang antara potensi yang dimiliki tidak sesuai dengan bidang kerja yang tersedia, dsb.
• Pemilihan teman hidup biasanya melibatkan berbagai pihak, sehingga kesulitan akan muncul karena adanya perbedaan persepsi tentang hal-hal yang berhubungan dengan masalah pemilihan teman hidup.
– Ketegangan Emosi (Emotional Tension) pada masa Dewasa Dini
• Pada beberapa individu, kepuasan dan ketenangan hidup dapat dicapai di awal usia dewasa dini, sedangkan kebanyakan yang lain tetap mengalami ketegangan emosi hingga mendekati pertengahan masa dewasa dini.
• Pada masa ini hal-hal yang dapat menyebabkan munculnya ketegangan emosi adalah: persoalan jabatan, perkawinan, keuangan dsb.
• Ketegangan emosi terjadi secara bertingkat, searah dengan intensitas persoalan yang dihadapi, dan sejauh mana individu mampu mengatasi persoalan tersebut.
– Ketegangan emosi pada Dewasa Dini
• Seseorang yang berusia awal hingga pertengahan tiga puluhan telah mampu memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi serta cukup mampu mengendapkan ketegangan emosinya, sehingga mereka akan mencapai kestabilan emosi.
• Namun, bila mereka memiliki harapan yang terlalu tinggi, maka bila harapan tersebut tidak selaras dengan potensi yang dimiliki, maka individu akan mengalami banyak kekecewaan yang dapat mengakibatkan terjadinya “kekacauan psikologis atau psikosomatis”.
• Ketegangan emosi pada individu dewasa dini juga dapat terjadi karena situasi lingkungan sekitar yang tidak sesuai dengan harapan/ nilai-nilai individu ybs. Hal ini dapat terjadi karena individu merasa “dipaksa” untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai yang selama ini telah dianut/diyakininya.
• Ketegangan emosi pada dewasa dini seringkali dinampakkan dalam bentuk ketakutan-ketakutan atau kekhawatiran-kekhawatiran, yang dapat mempengaruhi kondisi psikologis individu.

- Kekhawatiran Masa Dewasa
• Pada usia 20-an, biasanya kekhawatiran muncul disebabkan oleh masalah-masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai moral dalam “dating”.
• Memasuki usia 30-an biasanya kekhawatiran muncul dalam hal-hal yang berhubungan dengan masalah keuangan.
• Di usia 27-35 tahun, biasanya masalah-masalah yang berhubungan dengan performance individu muncul.
• Memasuki usia 35 sampai akhir masa dewasa dini kekhawatiran berpusat pada masalah-masalah kesehatan, meraih kesuksesan dalam karier,
E.2. Masa Dewasa Madya/Middle Age (40 – 60 tahun)
Pada masa ini mulai terjadi penurunan kemampuan fisik dan psikologis yang akan tampak semakin menonjol pada setiap individu. Pada sebagian individu, khususnya pada masa awal dewasa madya (40-50tahun) kondisi ini menimbulkan sikap penolakan (denial) yang ditunjukkan dengan sikap “over acting”, untuk menunjukkan kepada orang lain, bahwa dirinya masih “potensial” dan tetap muda seperti dua puluh tahun lalu, dengan berusaha mencari “pasangan” baru yang berusia jauh di bawah individu ybs (usia dua puluhan), atau menutupi kerut-kerut wajah dengan menebalkan kosmetik yang digunakan. Adapun beberapa pendapat yang mengatakan bahwa dewasa Madya:
• Usia dewasa madya atau yang popular dengan istilah setengah baya, dari sudut posisi usia dan terjadinya perubahan fisik maupun psikologis, memiliki banyak kesamaan dengan masa remaja
• Bila masa remaja merupakan masa peralihan, dalam arti bukan lagi masa kanak-kanak namun belum bisa disebut dewasa, maka pada setengah baya, tidak dapat lagi disebut muda, namun juga belum bisa dikatakan tua.
• Secara fisik, pada masa remaja terjadi perubahan yang demikian pesat (menuju ke arah kesempurnaan/kemajuan) yang berpengaruh pada kondisi psikologisnya, sedangkan individu setengah baya juga mengalami perubahan kondisi fisik, namun dalam pengertian terjadi penurunan/kemun-duran, yang juga akan mempengaruhi kondisi psikologisnya.
• Selain itu, perilaku dan perasaan yang menyertai terjadinya perubahan-perubahan tersebut adalah sama, yaitu salah tingkah/ canggung, bingung, dan kadang-kadang over acting.
– Ciri-ciri Dewasa Madya
• Masa yang ditakuti (a dreaded period).
• Masa transisi (a time of transition).
• Masa penyesuaian kembali (a time of adjustment).
• Masa keseimbangan dan ketidakseimbang-an (a time of equilibrium and disequilibrium
• Usia berbahaya (a dangerous age).
• Usia kaku/canggung (a awkward age).
• Masa berprestasi (a time of achievement).
E.3. Masa Dewasa Lanjut/Old Age (60 – meninggal)
Masa ini sering diistilahkan senescence atau usia lanjut. Pada masa ini baik kemampuan fisik maupun psikologis cepat mengalami penurunan, dan cenderung untuk terus menerus menurun.
Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial (BKKBN 1998). Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ. Secara ekonomi, penduduk lanjut usia lebih dipandang sebagai beban dari pada sebagai sumber daya. Banyak orang beranggapan bahwa kehidupan masa tua tidak lagi memberikan banyak manfaat, bahkan ada yang sampai beranggapan bahwa kehidupan masa tua, seringkali dipersepsikan secara negatif sebagai beban keluarga dan masyarakat. Dari aspek sosial, penduduk lanjut usia merupakan satu kelompok social sendiri. Di negara Barat, penduduk lanjut usia menduduki strata sosial di bawah kaum muda. Hal ini dilihat dari keterlibatan mereka terhadap sumber daya 11 ekonomi, pengaruh terhadap pengambilan keputuan serta luasnya hubungan social yang semakin menurun. Akan tetapi di Indonesia penduduk lanjut usia menduduki kelas sosial yang tinggi yang harus dihormati oleh warga muda (Suara Pembaharuan 14 Maret 1997) Menurut Bernice Neugarten (1968) James C. Chalhoun (1995) masa tua adalah suatu masa dimana orang dapat merasa puas dengan keberhasilannya. Tetapi bagi orang lain, periode ini adalah permulaan kemunduran. Usia tua dipandang sebagai masa kemunduran, masa kelemahan manusiawi dan social sangat tersebar luas dewasa ini. Pandangan ini tidak memperhitungkan bahwa kelompok lanjut usia bukanlah kelompok orang yang homogen . Usia tua dialami dengan cara yang berbeda-beda. Ada orang berusia lanjut yang mampu melihat arti penting usia tua dalam konteks eksistensi manusia, yaitu sebagai masa hidup yang memberi mereka kesempatan-kesempatan untuk tumbuh berkembang dan bertekad berbakti . Ada juga lanjut usia yang memandang usia tua dengan sikapsikap yang berkisar antara kepasrahan yang pasif dan pemberontakan , penolakan, dan keputusasaan. Lansia ini menjadi terkunci dalam diri mereka sendiri dan dengan demikian semakin cepat proses kemerosotan jasmani dan mental mereka sendiri. Disamping itu untuk mendefinisikan lanjut usia dapat ditinjau dari pendekatan kronologis. Menurut Supardjo (1982) usia kronologis merupakan usia seseorang ditinjau dari hitungan umur dalam angka. Dari berbagai aspek pengelompokan lanjut usia yang paling mudah digunakan adalah usia kronologis, karena batasan usia ini mudah untuk diimplementasikan, karena informasi 12 tentang usia hampir selalu tersedia pada berbagai sumber data kependudukan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia menjadi 4 yaitu : Usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun, Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun, lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun. Sedangkan menurut Prayitno dalam Aryo (2002) mengatakan bahwa setiap orang yang berhubungan dengan lanjut usia adalah orang yang berusia 56 tahun ke atas, tidak mempunyai penghasilan dan tidak berdaya mencari nafkah untuk keperluan pokok bagi kehidupannya sehari-hari. Saparinah ( 1983) berpendapat bahwa pada usia 55 sampai 65 tahun merupakan kelompok umur yang mencapai tahap praenisium pada tahap ini akan mengalami berbagai penurunan daya tahan tubuh/kesehatan dan berbagai tekanan psikologis. Dengan demikian akan timbul perubahan-perubahan dalam hidupnya. Demikian juga batasan lanjut usia yang tercantum dalam Undang-Undang No.4 tahun 1965 tentang pemberian bantuan penghidupan orang jompo, bahwa yang berhak mendapatkan bantuan adalah mereka yang berusia 56 tahun ke atas. Dengan demikian dalam undang-undang tersebut menyatakan bahwa lanjut usia adalah yang berumur 56 tahun ke atas. Namun demikian masih terdapat perbedaan dalam menetapkan batasan usia seseorang untuk dapat dikelompokkan ke dalam penduduk lanjut usia. Dalam penelitan ini digunakan batasan umur 56 tahun untuk menyatakan orang lanjut usia
– Masa Lanjut Usia (Senescence)
• Merupakan periode penutup dalam rentang hidup seseorang.
• Merupakan periode ketika sso telah “jauh” meninggalkan periode yg lebih menyenangkan dan penuh manfaat.
• Merupakan periode kemunduran (fisik dan mental).
• Merupakan kelompok minoritas.
– Tugas Perkembangan Masa Lanjut Usia
• Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan.
• Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya income keluarga.
• Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup.
• Membentuk hubungan dengan orang-orang yang seusia.
• Menyesuaikan diri dg peran sosial sec luwes
– Beberapa Pandangan Tentang Masa Lanjut Usia
1. Model kronologis.
2. Model pandangan hukum/yuridis.
3. Model Biologis.
4. Model pendekatan sosio cultural.
5. Model Perkemb life-span perspective.
1. Model kronologis
• Model pendekatan yang banyak dipakai masyarakat umum untuk menentukan kelansiaan seseorang.
• Menggunakan usia kalender sebagai dasar dalam menentukan kelansiaan sso.
• Orang dengan usia yang sama belum tentu mengalami proses ketuaan (aging process) yang juga sama
2. Model pandangan hukum/yuridis
• Secara umum penentuan ketuaan sso berdasar dari usia kalender.
• Dewasa lanjut secara hukum tidak selalu diikuti dengan dewasa lanjut dari sudut pandang ybs.
• Secara yuridis individu telah memiliki hak dan kewajiban sebagai lansia.
3. Model Biologis
• Menentukan ketuaan seseorang berdasar pada perubahan fisiknya (perubahan fungsi dan struktur sel, juga organ-organ tubuh yang berkaitan dengan menopause, klimakterium, dsb).
• Berdasar pada berkerutnya kulit tubuh individu
4. Model pendekatan sosio kultural
• Berdasar pada pandangan masyarakat.
Berdasar pada kedudukan/peran sosial yang diberikan masyarakat kepada individu, sudah tergolong lansia atau belum (masing-masing komunitas memiliki standar sendiri).
– Faktor Kesehatan

Faktor kesehatan meliputi keadaan fisik dan keadaan psikis lanjut usia. Faktor kesehatan fisik meliputi kondisi fisik lanjut usia dan daya tahan fisik terhadap serangan penyakit. Faktor kesehatan psikis meliputi penyesuaian terhadap kondisi lanjut usia.

- Faktor Ekonomi

Pada umumnya para lanjut usia adalah pensiunan atau mereka yang kurang produktif lagi. Secara ekonomis keadaan lanjut usia dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) yaitu golongan mantap, kurang mantap dan rawan (Trimarjono, 1997). Golongan mantap adalah para lanjut usia yang berpendidikan tinggi, sempat menikmati kedudukan/jabatan baik. Mapan pada usia produktif, sehingga pada usia lanjut dapat mandiri dan tidak tergantung pada pihak lain. Pada golongan kurang mantap lanjut usia kurang berhasil mencapai kedudukan yang tinggi , tetapi sempat mengadakan investasi pada anak-anaknya, misalnya mengantar anak-anaknya ke jenjang pendidikan tinggi, sehingga kelak akan dibantu oleh anak-anaknya. Sedangkan golongan rawan yaitu lanjut usia yang tidak mampu memberikan bekal yang cukup kepada anaknya sehingga ketika purna tugas 17 datang akan mendatangkan kecemasan karena terancam kesejahteraan. Pemenuhan kebutuhan ekonomi dapat ditinjau dari pendapatan lanjut usia dan kesempatan kerja.

- Pola Tempat Tinggal

Secara umum lanjut usia cenderung tinggal bersama dengan anaknya yang telah menikah (Rudkin, 1993). Tingginya penduduk lanjut usia yang tinggal dengan anaknya menunjukkan masih kuatnya norma bahwa kehidupan orang tua merupakan tanggungjawab anak-anaknya. Survey yang dilakukan oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LD FEUI, 1993) terhadap 400 penduduk usia 60-69 tahun, yang terdiri dari 329 pria dan 71 wanita, menunjukkan bahwa hanya sedikit penduduk lanjut usia yang tinggal sendiri (1,5%), diikuti oleh yang tinggal dengan anak (3,3%), tinggal dengan menantu (5,0%), tinggal dengan suami/istri dan anak (29,8%), tinggal dengan suami,istri dan menantu (19,5%), dan penduduk lanjut usia yang tinggal dengan pasangannya ada 18,8%. Hasil temuan Yulmardi (1995) juga menunjukkan bahwa masyarakat lanjut usia di Sumatera , khususnya di pinggiran kota Jambi sebagian besar tinggal dalam keluarga luas. Menurut Rudkin (1993) penduduk lanjut usia yang hidup sendiri secara umum memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih rendah disbanding dengan lanjut usia yang tinggal dengan keluarganya.

- Dukungan Keluarga dan Masyarakat

Bagi lanjut usia, keluarga merupakan sumber kepuasaan. Data awal yang diambil oleh peneliti terhadap lanjut usia berusia 50, 60 dan 70 tahun di kelurahan Jambangan menyatakan bahwa mereka ingin tinggal di tengah-tengah keluarga. Mereka tidak ingin tinggal di Panti Werdha. Para lanjut usia merasa bahwa kehidupan mereka sudah lengkap, yaitu sebagai orang tua dan juga sebagai kakek, dan nenek. Mereka dapat berperan dengan berbagai gaya, yaitu gaya formal, gaya bermain, gaya pengganti orang tua, gaya bijak, gaya orang luar, dimana setiap gaya membawa keuntungan dan kerugian masing-masing . Akan tetapi keluarga dapat menjadi frustasi bagi orang lanjut usia. Hal ini terjadi jika ada hambatan komunikasi antara lanjut usia dengan anak atau cucu dimana perbedaan factor generasi memegang peranan. Sistem pendukung lanjut usia ada tiga komponen menurut Joseph. J Gallo ( 1998 ), yaitu jaringan-jaringan informal, system pendukung formal dan dukungan-dukungan semiformal. Jaringan pendukung informal meliputi keluarga dan kawan-kawan. Sistem pendukung formal meliputi tim keamanan social setempat, program-program medikasi dan kesejahteraan sosial. Dukungan semiformal meliputi bantuan-bantuan dan interaksi yang disediakan oleh organisasi lingkungan sekitar seperti perkumpulan pengajian, gereja, atau perkumpulan warga lansia setempat. Sumber-sumber dukungan-dukungan informal biasanya dipilih oleh lanjut usia sendiri. Seringkali berdasar pada hubungan yang telah terjalin sekian lama. Sistem pendukung formal terdiri dari program Keamanan Sosial, badan medis, dan Yayasan Sosial. Program ini berperan penting dalam ekonomi serta kesejahteraan sosial lanjut usia, khususnya dalam gerakan masyarakat industri, dimana anak-anak bergerak menjauh dari orangtua mereka. Kelompok-kelompok pendukung semiformal, seperti kelompok-kelompok pengajian, kelompokkelompok gereja, organisasi lingkungan sekitar, klub-klub dan pusat perkumpulan warga senior setempat merupakan sumber-sumber dukungan sosial yang penting bagi lanjut usia. Lanjut usia harus mengambil langkah awal untuk mengikuti sumbersumber dukungan di atas. Dorongan, semangat atau bantuan dari anggota-anggota keluarga, masyarakat, sangat dibutuhkan oleh lanjut usia. Jenis-jenis bantuan informal, formal, dan semiformal apa sajakah yang tersedia bagi lanjut usia yang terkait pada masa lampaunya.

- Kemandirian

Ketergantungan lanjut usia terjadi ketika mereka mengalami menurunnya fungsi luhur /pikun atau mengidap berbagai penyakit . Ketergantungan lanjut usia yang tinggal di perkotaan akan dibebankan kepada anak, terutama anak wanita (Herwanto 2002). Anak wanita pada umumnya sangat diharapkan untuk dapat membantu atau merawat mereka ketika orang sudah lanjut usia. Anak wanita sesuai dengan citra dirinya yang memiliki sikap kelembutan, ketelatenan dan tidak adanya unsur “sungkan” untuk minta dilayani. Tekanan terjadi apabila lanjut usia tidak memiliki anak atau anak pergi urbanisasi ke kota . Mereka mengharapkan bantuan dari kerabat dekat, kerabat jauh, dan kemudian yang terakhir adalah panti werdha Lanjut usia yang mempunyai tingkat kemandirian tertinggi adalah pasangan lanjut usia yang secara fisik kesehatannya cukup prima . Dari aspek sosial ekonomi dapat dikatakan jika cukup memadai dalam memenuhi segala macam kebutuhan hidup, baik lanjut usia yang memiliki anak maupun yang tidak memiliki anak. Tingginya tingkat kemandirian mereka diantaranya karena orang lanjut usia telah terbiasa menyelesaikan pekerjaan di rumah tangga yang berkaitan dengan pemenuhan hayat hidupnya. Kemandirian orang lanjut usia dapat dilihat dari kualitas kesehatan mental. Ditinjau dari kualitas kesehatan mental, dapat dikemukakan hasil kelompok ahli dari WHO pada tahun 1959 ( Hardywinoto :1999) yang menyatakan bahwa mental yang sehat / mental health mempunyai cirri-ciri sebagai berikut :
(1) Dapat menyesuaikan diri dengan secara konstruktif dengan kenyataan/realitas, walau realitas tadi buruk
(2) Memperoleh kepuasan dari perjuangannya
(3) Merasa lebih
puas untuk memberi daripada menerima
(4) Secara relatif bebas dari rasa tegang dan cemas
(5) Berhubungan dengan orang lain secara tolong menolong dan saling memuaskan.
(6) Menerima kekecewaan untuk dipakai sebagai pelajaran untuk hari depan.
(7) Menjuruskan rasa permusuhan pada penyelesaian yang kreatif dan konstruktif.
(8) Mempunyai daya kasih sayang yang besar.

Selain itu kemandirian bagi orang lanjut usia dapat dilihat dari kualitas hidup. Kualitas hidup orang lanjut usia dapat dinilai dari kemampuan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS) menurut Setiati (2000) ada 2 yaitu AKS standar dan AKS instrumental. AKS standar meliputi kemampuan merawat diri seperti makan, berpakaian, buang air besar/kecil,dan mandi. Sedangkan AKS instrumental meliputi aktivitas yang komplek seperti memasak, mencuci, menggunakan telepon, dan menggunakan uang. Salah satu kriteria orang mandiri adalah dapat mengaktualisasikan dirinya (self actualized ) tidak menggantungkan kepuasan-kepuasan utama pada lingkungan dan kepada orang lain. Mereka lebih tergantung pada potensi-potensi mereka sendiri bagi perkembangan dan kelangsungan pertumbuhannya. Adapun
kriteria orang yang mandiri menurut Koswara (1991) adalah mempunyai:

(1) kemantapan relatif terhadap pukulan-pukulan, goncangan-goncangan atau frustasi,
(2) kemampuan mempertahankan ketenangan jiwa,
(3) kadar arah yang tinggi,
(4) agen yang merdeka,
(5) aktif dan,
(6) bertanggung jawab.

Lanjut usia yang mandiri dapat menghindari diri dari penghormatan, status, prestise dan popularitas kepuasan yang berasal dari luar diri mereka anggap kurang penting dibandingkan dengan pertumbuhan diri. Poerwadi mengartikan mandiri adalah dimana seseorang dapat mengurusi dirinya sendiri (2001 : 34). Ini berarti bahwa jika seseorang sudah menyatakan dirinya siap mandiri berarti dirinya ingin sesedikit mungkin minta pertolongan atau tergantung kepada orang lain. Mandiri bagi orang lanjut usia berarti jika mereka menyatakan hidupnya nyaman-nyaman saja walaupun jauh dari anak cucu.
Orang berusia lanjut yang bisa melihat kembali masa-masa yang telah dilaluinya dengan bahagia, merasa tercukupi, dan merasa telah memberikan kontribusi pada kehidupan, ia akan merasakan integritas. Kebijaksanaannya yang tumbuh menerima keluasan dunia dan menjelang kematian sebagai kelengkapan kehidupan.
Sebaliknya, orang yang menganggap masa lalu adalah kegagalan merasakan keputus asaan, belum bisa menerima kematian karena belum menemukan makna kehidupan. Atau bisa jadi, ia merasa telah menemukan jati diri dan meyakini sekali bahwa dogma yang dianutnyalah yang paling benar.
QS Al-Jumu’ah 8: Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan”.
Kematian adalah keniscayaan, dan masa lalu tidak mungkin terulang. Sebuah syair Bimbo menyebutkan, jangan takut mati karena kematian pasti datang, tapi jangan mencari mati dan menyebabkan kematian datang padamu …

DAFTAR PUSTAKA
Dr, Prof. Gunarm D, Singgih. Dasar dan Teori Perkembangan Anak: PT BPK Gunung Mulia.
Agustiani. Hendriati ( 2006 ) Psykologi Perkembangan Pendekatan Ekologi Kaitannya Dengan
Konsep Diri dan Penyesuaian Diri Pada Remaja. Bandung. Refika Aditama.

Yusuf Syamsu ( 2007 ) Psykologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung. Rosdakarya

Dr. Sugiyanto, dkk. Perkembangan dan Belajar Motorik. Departemen pendidikan dan kebudayaan direktorat jenderal pendidikan dasar dan menengah.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.